Wednesday, December 24, 2014

Different.


Perbedaan,
katamu perbedaan menyatukan segalanya, menyatukan semua hal yang menurut mereka tidak pernah bisa dipersatukan. Masihkah pernyataan itu ada dalam ingatmu?
Aku sedih,
ketika aku membuka Alquran dan teringat kamu menggenggam erat Alkitab-mu. Saat aku berjalan menuju Masjid, dan tujuanmu adalah menuju Gereja.
Saat aku menggengam tasbih dan kamu memakai kalung Salib.
Saat kamu menyanyikan Pujian dan aku hanya bisa melantunkan Shalawat.
Saat kita harus berjarak hanya karena perbedaan agama.
Aku sedih,
saat semua orang menggunjing tentang perbedaan kita.
Mengapa?
Mengapa Tuhan menyatukan bila sebenarnya kita pada akhirnya hanya untuk dipisahkan.
Orang lain menatap kita seolah-olah ingin berkata,
kita telah salah menjalani hubungan lebih dari sekedar teman.
Dan aku pun sadar bahwa agamaku tidak mengajarkan menjalin hubungan lebih dengan seseorang yang berbeda keyakinan.

Lantas,
apa salahnya jika kita bersama untuk sementara ini?

Terkadang aku membenci mereka,
mereka yang memandang hubungan kita hanya sebelah mata.

Tetapi aku tidak pernah terfikir untuk keluar dari agamaku, 
aku pun tak ingin
mengambil keputusan yang seharusnya tak ku ambil.

Aku tak bisa mengorbankan Allah-ku 
untuk duniaku.

Aku tak bisa mengingkari janjiku.
Aku tak bisa jauh dari Tuhanku dan tempat ibadahku.
Aku tak akan bisa menghadapi semuanya tanpa sujudku, sungguh.

Ketahuilah,
aku tak akan bisa terbiasa dengan semuanya.
Dan kamu pun begitu.

Tetapi ketahuilah,
kamu adalah yang terindah dari semua yang terindah.
Dan kamu
akan tetap menjadi yang terindah
diantara yang terindah

Tuhanmu menciptakanmu dengan sangat indah,
sekarang bila
aku jatuh cinta padamu,
bilaku terlanjur sayang denganmu,
apalah dayaku?

Apakaha Tuhanmu akan marah,
jika aku mencintaimu?

Tolong tanyakan pada Tuhanmu,
bolehkah aku yang bukan sebagian dari umatnya
mencintai hambanya?

Dan bagiku LDR terjauh
bukan dihitung dari tempatmu terlelap dan aku terjaga.
Bukan juga karena terpisah jarak dan waktu.
tapi karena terpisah oleh keyakinan.

Thursday, November 20, 2014

Hujan Rindu.



Kita pernah sama-sama berbagi cerita hingga akhirnya kita (hanya) menjadi cerita tanpa akhir bahagia. 

---


Dibawah langit ibukota, Indonesia
Hari ini senja dan hujan sedang bernostalgia.

Aku menatap setiap tetes hujan dari dalam mobil, mengerjap-kerjap memohon agar kali ini aku terbebas akan semua kesedihan yang selalu terjadi ketika hujan tiba.

Hujan memutar kembali semua ingatanku akan sosokmu. Pria pertama yang kutemui di depan pinggir jalan ketika guyuran air dalam kubangan dilewati oleh mobil super cepat yang hendak menyerangku. Dia Alfa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ternama di Jakarta.

Sejak saat itu Alfa selalu meluangkan waktu untuk selalu menemuiku. Aku memang tidak sedang melanjutkan studi di Jakarta, hanya ingin singgah beberapa hari untuk suatu perihal. Dan mungkin Alfa menjadi salah satu alasanku untuk memperlama persinggahanku di kota ini.

Hujan.
Dia selalu berkata bahwa hujan adalah salah satu hal yang paling disukainya. Aku selalu menyebutnya pecandu hujan, dan dia selalu menyebutku perindu senja. Sama seperti hujan hari ini, aku masih merasakan aliran air hujan yang dingin ini membasahi ingatanku, memaksaku tuk terus mengingat semuanya. Biarkan ku mengingatmu sekali lagi, mengingat semua perilaku manismu yang mungkin sudah tak bisa kita ulangi lagi.

Dan lagi kenangan ini membawaku kepadamu.
Aku mengaduk-aduk isi hatiku, mengingat akan hal yang paling ku benci, tentang perpisahan. Aku sadar bahwa kita bukan siapa-siapa, hanya dua anak manusia yang bertemu di persimpangan jalan yang menjalin pertemanan baik. Maka seharusnya jarak ini tak mengartikan apa-apa untuk kita. Namun perpindahan keluargaku ke luar negeri saat itu diluar kehendakku. Jika ku bisa memilih aku akan memilih menetap di Jakarta.

Alfa berlari mengejar waktu, meminta semua penjelasan dan kejelasan atas semua ketidak adilan ini. Marah, kecewa dan benci terpapar jelas dalam raut wajahnya. Ada sorot kesedihan yang tersirat dalam sorot matanya. Aku menangis.

"Jaga hatiku baik-baik. Aku sangat teramat menyayangimu. Cepat kembali, untukku." ucapnya lalu memelukku.

Tiga tahun berlalu.

Dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, merencankan suatu kejutan untuk Alfa. Selama ini memang komunikasi kita baik-baik saja, hanya sibuk wajar yang dia utarakan. Ku berjalan menuju apartement tempat dia tinggal. Kosong. Tidak berpenghuni. Ada beberapa potongan pakaian yang berserakan di lantai, kemeja, celana dan pakaian wanita. Entah saat itu benar-benar denyut nadiku seakan berhenti.

Perlahan ku bergerak menjauhi tempat itu sampai akhirnya tanpa sengaja ku menjatuhkan vas diatas meja samping pintu. Terdengar suara pria berjalan dari dalam ruang kamar, dan aku berlari keluar. Pria itu mengejarku dengan pakaian seadanya. Aku berlari sempoyongan, pikiranku berantakan.

"Berhenti! Jangan lari, jangan pergi lagi. Tetap disitu, aku tak akan menyakitimu." ucapnya tegas.

Aku berhenti menahan semua rasa sakit itu dan memberanikan diri menatap kedua mata pria yang tiga tahun ini bersarang didalam hati dan membuat rindu. Alfa. Ya pria itu memang Alfa, pria yang pernah kucintai dengan sepenuh hati namun kini semua tak ada arti lagi.

"Biar ku jelaskan apa yang kau lihat tadi. Ini semua tak seperti yang kau pikirkan." ucapnya.

Aku hanya bisa tersenyum lalu berbalik meninggalkannya. Meninggalkan semua kenangan yang pernah ada bersamanya.

Pria itu berlari dan memelukku.

"Mengapa ini begitu lama? Aku menunggumu. Bisakah kau menetap untuk kali ini, untukku?" 

Satu persatu air mataku berjatuhan. Aku melepaskan pelukan yang sebelumnya memang kuharapkan setelah ku menemuinya. Ku beranikan diri menatapnya.

"Aku memang berniat untuk kembali. Tapi aku salah, aku tidak kembali untukmu. Setelah semua yang kulihat pagi ini di apartementmu. Bagaimana bisa kau berkata untuk ku menjaga hati bahwa kau sendiri tidak? Im dones with this bullshit Alfa, let me go." ucapku.

Entah setelah itu aku berjalan menjauh darinya, samar ku dengar beberapa potong kata yang dia ucapkan. Ya dia tak lagi mengejarku. Ku dengar ada suara wanita mendekatinya. Entah ku tak melihatnya, ku menghambur keluar, melajukan mobil dengan pesat.

Aku kembali ke tempat dimana Alfa pernah membawaku menikmati senja sore itu.

---

Untukmu yang tak tahu menahu tentang hatiku.
Kau adalah senjaku. Gabungan setiap warna jingga yang tak akan pernah lagi kulihat. Keindahanmu akan selalu ada walau tak kasat mata. Aku tak menyesal, hanya kini pagiku telah datang. Pagi yang cerah tanpa hujan. Alfa, terima kasih untuk semua kenangan indah. 
 - D

Wednesday, April 9, 2014

Masih.



Masih dengan perasaan yang sama.
Rasa sesak yang terus menyelimutiku, berhasil membuat hari-hariku berwana abu-abu, melumpuhkan semua organ tubuhku, tak terkecuali hatiku. Aku sadar bahwa setiap adanya pertemuan pasti akan ada perpisahan. 

Dan teruntukmu, kali ini pun aku sadar. Aku telah memperingatkan hatiku untuk tidak terlalu dalam mengagumi atau menaruh rasa padamu. Karena aku masih sangat sadar bahwa akhirnya nanti aku akan sesedih itu. Tetapi entahlah, rasa itu hadir tanpa perlu ada aba-aba dan akhirnya akan ada kesedihan dibalik semuanya.

Melihatmu pergi menjauh,

sungguh taukah kamu bahwa aku sekuat tenaga berusaha untuk terlihat baik-baik saja? Aku menghindarimu tetapi yang kudapat malah bertemu denganmu seperti sebuah kebetulan yang pahit.


Perpisahan?
Ah, entahlah tak pernah terbayang sedikitpun untuk kupikirkan. Karena pada kenyataannya tak ada satupun manusia yang menginginkan perpisahan. Tapi kini apa yang ku takutkan terjadi, perpisahan. 

Kita? 
Mungkin sekarang hanya ada aku dan kamu. Seketika semuanya sirna, menguap entah kemana. Mengetahuimu telah pergi, membuatku malas untuk hadir. Bagaimana tidak? Jika disetiap kehadiranku selalu menampakkan sosokmu.

Mungkin memang benar bahwa Tuhan menciptakan seseorang yang kita sayang hanya untuk berada dihati kita, di ingatan kita. Tidak untuk kehidupan kita.


Thursday, March 13, 2014

Hujan dan Kamu .


Aku masih percaya bahwa Paulo Coelho pernah berkata bahwa :
"When you want something, all the Universe conspires in helping you to achieve it"
--- 

Hujan sore itu,
mengingatkanku sosokmu. Priyogi. Pria yang ku temui di tengah hujan, ia berlari ke arahku dengan senyum cerianya. Sebegitu cintanya dia dengan anugrah Tuhan yang satu ini. Ia selalu mengajariku rasa bersyukur atas nikmat yang tidak ku sukai. Hujan membawaku kembali pada kenangan lalu bersamamu. Tanpa henti kenanganmu menyeruak masuk dalam hati. Aku menengadahkan kepalaku berhadapan dengan rintikan hujan, kupejamkan mata dan merasakan bayangmu dalam hening. 

Keheningan ini,
mampu mengapungkan semua kenangan akanmu, seketika mengembalikan sosokmu dan cintaku yang hilang, menerbangkan semua amarah dan mengulang semua kejadian manis serta indahnya semua perlakuanmu padaku, dulu.

Masih sedikit kuingat perkataanmu sebelum kau menghilang dalam kegelapan. Kau selalu berkata bahwa tidak ada satu diantara mereka yang akan menjagaku sebaik kamu menjagaku selama ini. Kau selalu berkata bahwa hanya kau yang akan ada dan selalu ada untuk menghapus semua luka serta air mata. Dan aku masih ingat jelas untaian kalimat yang kau sepakati menjadi janji, kau berjanji akan menungguku, menungguku menyelesaikan semua masalahku dan sampai saat itu tiba kau masih tetap disitu, menungguku.

Ternyata semua janjimu hanya kalimat penenang sesaat. 
Pada akhirnya kau ikut menghilang, pergi, meninggalkanku sama seperti mereka yang pernah berjanji akan terus ada dan setia menemaniku disini, sampai hari ini. Hadirnya selalu kurindukan, seperti halnya hujan yang selalu menantikan dirinya jatuh diatas permukaan tanah dan menciptakan aroma kehangatan. 

"Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, maukah kau memberitahuku? Supaya aku bisa langsung berlari kearahmu, menemuimu." , ucapmu.

Mungkin sekarang tidak akan ada lagi sosok yang berlari menemuiku ketika aku berkata bahwa aku sedang merindukanmu. Mungkin sekarang aku yang harus berlari menemuimu ketika aku mulai merindukan hangatnya pelukanmu.

Aku berusaha mengingat semua kejadian kita dibawah hujan sore itu. Maafkan aku karena tidak bisa mengingat semua secara sempurna, ingatanku memang buruk. Maukah kau membantuku mengingatnya lagi?

Mungkin jika tidak bisa disisiku setiap hari, datanglah setiap malam dalam mimpiku, supaya aku tidak lupa. Tidak harus menampakkan sosokmu disisiku, dengan hadir saja dalam setiap ku mengucap rindu, itu sudah mewakilkan hadirmu dalam balutan hangat rinduku terhadapmu.

Are not you?

---

p.s : you, a man who never moved. rest in peace best, never cant stop missing you.

Saturday, February 1, 2014

Merasakan Bayangmu





“It is difficult to know at what moment love begin, it is less difficult to know that it has begun” – Henry Wadsworth Longfellow


---


          Aku sadar bahwa semuanya hanya sia-sia. Memintamu kembali, memelukku dan mengulang semua cerita indah kita lagi. Sia-sia. Kisah ini memang sudah seharusnya untuk diakhiri, sakit atau tidak kita tetap harus merelakan semua cerita ini pergi. Aku? Jangan tanyakan aku, bukankah kamu selalu mementingkan semua kepentinganmu diatasku? Bahkan sepertinya aku mulai sadar meski sesungguhnya ini terlambat, bahwa aku hanya aku, kamu dan hanya kamu, tidak ada kita, tidak ada. 

Aku tengah berusaha memperjuangkan apa yang telah kamu sia-siakan, sadarkah?
Menahan semua sikap angkuh dan egomu, memendam semua luka dan tangis. Tahukah kamu? Tentu tidak. Memang seberapa pantas sosokku berada dalam ingatanmu? Mungkin hanya aku yang menganggap kamu sangat berarti dalam ingatan dan hidupku. 

Seperti siluet bayangan, kamu menghilang saat aku mengerjap. Layaknya rasa kantukmu, aku yang menghilang ketika kau membuka mata. Tidakkah kita salah? Salah dalam mengenal satu sama lain.
Aku tak ingin menjadi semua hal yang menghilang ketika kau mengerjap atau membuka mata, aku tak ingin menjadi cermin yang terlihat ada tetapi nyatanya tak pernah ada dalam kehidupanmu. 

Sadarkah? Aku hanya ingin menetap.


Tuesday, January 7, 2014

You.



I saw you were perfect, and so I love you. Then I saw that you were not perfect , and 
I love you even more.
--- 


Melbourne, January 7, 2014

Mungkin memang benar bahwa mencintai tak harus memiliki, hanya perlu mengasihi satu sama lain. Delapan tahun berlalu. Aku kembali mengingat pria dalam foto polaroid itu. Tak membutuhkan waktu lama setelah ku memejamkan mata, karena sosoknya dengan cepat merekahkan senyum dalam ingatan, membangunkan jutaan kenangan, indah. 



"Jingga..." , ucapku lirih dan tersenyum,

Entah sudah berapa lama rindu ini tak tertuju, tak menemukan alamat tujuannya. Mungkin ada baiknya juga kubiarkan begini, karena jika suatu saat kita dipertemukan akan ada rasa merah muda yang berjatuhan. Hanya saja aku masih tidak memiliki keberanian untuk menemuinya, aku masih ingin merindukannya seperti ini. 


Foto ini selalu berbicara jelas tanpa perlu kata-kata. Hanya dengan memandang dan aku bisa memutar ulang semua rentetan cerita indah di dalamnya. Foto selalu menyimpan kenangan secara nyata. Aku selalu merutuk dalam hati, mengapa kenangan hanya dapat diputar ulang didalam kepala? Mengapa aku tidak bisa memindahkan masa lalu ke masa kini, lalu menjalaninya dan mengulang kisah indah yang sama?


Tanpa kusadari, lagi-lagi senyumku merekah, mengingat semua kenangan yang sangat indah, membuatku geli dan aku merasa sekujur tubuhku menjadi hangat. Walaupun sebenarnya aku sangat sadar bahwa rindu ini tak akan pernah berujung, sekuat apapun ia berusaha, rasa itu tidak akan pernah terbalaskan. Haruskah aku menyerah dengan semua ketidak adilan ini, Jingga?



"Jingga...", ucapku berulang.

Ah mungkin memang tidak seharusnya aku berencana untuk menemuinya. Mungkin saja dia tak pernah merindukanku seperti aku merindukannya selama ini. Mungkin saja hanya aku yang selalu mengutuk diri untuk selalu mencintainya dalam semua kekurangan.


Tiba-tiba hatiku terasa sakit, mengingat hal-hal kecil yang menjadi suatu hal besar dan membuat kita berpisah. Ego kita melawan satu sama lain. Kita berargumen, mengambil jarak, membiarkan ego menjadi tombak, dan berpisah. Andai bisa ku ulangi semuanya, mungkin dulu aku akan lebih memilih untuk diam dan tak banyak menentang. Mungkin sekarang semuanya tak akan seberantakan ini, dan kita masih baik-baik saja. Mungkin.



"Jingga, don't you know? Sometimes I think I could get through the days without you, but the fact I can't!" ,batinku.

Aku pergi menjauhi sekumpulan foto itu. Aku berjalan mencari keramaian dengan tujuan menghilangan kenangan yang masih saja berputar di dalam ingatan. Aku mencoba mencari semua kesalahannya, agar cepat rasa ini pergi dan menghilang. Tetapi aku tidak bisa, semakin aku mengubur kebaikannya, dan menemukan semua kesalahannya, aku semakin menyayangi sosoknya yang hilang. 

Aku menerawang ke langit, ku pejamkan mataku dan merasakan sinar mentari merasuk dalam setiap rongga tubuhku. Hangat. 

Sampai pada akhirnya aku tersungkur ke tanah ketika seseorang menabrakku.


"Sorry. Are you okay? Let me help you." ,ujar pria yang telah menabrakku.


Aku membuka mataku, dan mengerjap. Aku mematung menatapnya. Tiba-tiba ada guratan lembut merasuk dalam tubuhku. Benarkah ini dia? batinku.



"Hi, what are you looking at? Come on standup before everyone here hit you baby." ujarnya dan tersenyum.


Aku masih mematung. Dibawanya aku menjauh dari keramaian, memasuki kedai kopi, Griffito Coffee. Kita duduk berhadapan, dan seperti biasanya, ia menatapku tanpa henti dan tersenyum. Senyum itu, senyum yang mampu membuat wajahku menghangat. Tuhan...



"What are you doing there? Trying to hurting yourself by sit in the road when peoples crazy to walk fastly?" ujarnya.


Aku masih terdiam menatapnya. Bagaimana bisa. Hanya itu kata-kata yang terus berulang didalam benakku. Aku tersenyum melihat dia yang kini sedang sibuk memilihkan kopi terbaik di tempat ini. Aku hanya mengangguk, menandakan aku setuju dengan pilihannya. 



"I dunno why you still silent. I knew silent is gold. But please how can I pay that gold dear? With this your fave coffee, is it okay?" ujarnya menggodaku.


Aku masih merasakan guratan hangat disekitar wajahku. Sudah lama sekali aku tak melihatnya. Dia adalah Wilson, aku memanggilnya Wils. Pria ini tak sengaja ku kenal ketika kita menjadi waiting list  di Cafe ini juga. Sampai ketika hanya tersisa meja untuk dua orang, lalu waitress itu menyarankan ku untuk berjoin  dengannya. Well disinilah kita bertemu kembali. 



"Hi dont look at me like that. Whats wrong with you? Is there any problems with you? Tell me, I'll try to solve it." ,ucapnya mantap.


Entah, dia selalu saja seperti ini, selalu baik. Aku selalu bercerita masa laluku dengannya, dan tentang pria itu juga. Dan dia selalu membantuku menangani semuanya, mengajakku bercanda walau aku sedang tidak ingin. Dia selalu tau apa yang bisa membuatku netral kembali. Dia selalu ada.



"If it because of your ex, I just wanna say something to you. Why you never look around you? There is people who more respect, care and love you the way he is. But Why you still loved him, who never loved you back, is it not hurt you? Can you see me, a boy that always there for you, a boy who always wipe your tears, give your smile even you didnt want to smile, can you?" , ucapnya.


Ya, mengapa aku tidak bisa melihatnya? 

Mengapa aku terlalu buta akan seseorang yang jelas tidak memintaku untuk kembali, yang jelas tidak benar-benar nyata dalam memori. Aku masih belum menemukan potongan jawaban itu, bukan aku yang bisa menjawab, mungkin dia, atau bahkan waktu.


"Baby, please think twice, why you still keep people that never keep you? Why you still cry for people that maybe never remember you? Why? You are too kind and beauty to this one. He left you, and its enough. I never want to see you cry and feeling so blue again. Can I keep you for my self?" ucapnya.


Aku menatapnya, ada kesungguhan dari apa yang ia katakan. Entah apa lagi yang aku pertahankan, mungkin memang benar yang dikatakan Wils, tapi hatiku masih berkata jangan melepaskannya. Aku tersenyum membalas semua ocehan Wils pagi ini. Ku minum dikit demi sedikit kopi ini. Ada pahit yang menyeruak ke dalam kerongkongan mulutku. Sepahit kenangan yang selama ini kupertaruhkan sendirian.



"Wils. Thank for always cheer me up. I knew if the past is over, and I knew you are the best people I had in my whole of my life. But I cant forget him, it just drivin' me crazy Wils. I dont want to hurt you by love you when I am not ready to love. But I love you the way you are, thanks." ucapku lalu pergi meninggalkannya.


Aku melangkah menjauhi Cafe itu dan Wils. Aku menyayanginya, tetapi aku tidak ingin melukainya. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa membuka hatiku untuk orang lain. Aku berjalan, melawan angin, dan menangis. Kali ini bukan sosok pria dimasala lalu yang berhasil membuatku menangis, tapi Wilson lah yang mampu membuat hatiku lebih nyeri. 


Seseorang memeluku dari belakang, dan berkata,



"Do not left me like that Baby, it is hurt! Please see me, I do not care. I will trying best to make you like me crazy than him." ucapnya bergetar.


Aku membalikkan tubuhku dan menatapnya. Wils, sebegitukah rasamu padaku. Aku tidak pernah merasa dikejar seperti ini. Dia, seseorang yang kucinta tak pernah mengejarku sepertimu. Apa ini suatu jawaban dari jutaan pertanyaan yang mengatung di awan-awan?



"Wils. I am done, past is over. And I will try with you.."  ucapku terisak.


Tanpa kusadari, perlahan wajahnya mendekat, mendaratkan sentuhan lembut pada permukaan bibirku. Mataku terpejam. Seluruh tubuhku menghangat. Aku mematung, hampir jatuh, dan tangan Wils seketika melingkar di pundakku. Menenggelamkanku dalam tubuh bidangnya.



---

His kiss,
crashing waves on an empty beach. The rhythm of our heart. Two of us drowning lovers lost at sea.My lips adrift in yours. 
- Michael Faudet