Tuesday, January 13, 2015

Lullaby.



I hope,
I cross your mind once in a while just so that I won't feel pathetic for thinking of you all at the time.
---

Mengharapkanmu?

Tidak, sama sekali dari awal aku tidak pernah mengharapkan untuk kenal atau bahkan menjadi bagian dari kehidupan dan hari-harimu. Aku pun masih ingat bagaimana kita bisa sedekat ini pada akhirnya, bukan karena aku menginginkan, tapi waktulah yang mengharuskan. 

Menyesal?

Pertanyaan bodoh. Apa yang harus ku sesali? Mengenalnya sudah lebih dari cukup untukku, maka jika memilikinya adalah hal paling dilarang, cukup bagiku untuk menjadi teman dekat untuknya. Lupakan. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai kakak, tidak lebih. Karena dengan adanya dia disampingku, aku merasa lebih aman. Salahkah?


"Tolong jangan membenciku. Aku sudah cukup tersiksa dengan semua kebohongan yang kubuat selama ini" , ujarnya.

Ucapannya sore itu terus terngiang di daun telingaku, seakan dia selalu berbisik dan meminta maafku dengan mata sayu itu. 

Ingatanku kembali saat dia pergi, tanpa kata pisah, selamanya. Aku pikir aku akan baik-baik saja tanpa adanya dia disekitarku lagi. Aku pikir aku akan kuat mengatasi semua masalah dan air mata ini. Ternyata aku salah. Dengan tidak adanya dia disini membuatku semakin jatuh, tenggelam dalam kubangan kesedihan.


Kini aku telah terbiasa dengan tidak adanya sosoknya disekitarku, aku telah terbiasa dengan semua omong kosong ini, terbiasa membohongi diri dan menjahit luka serta air mata yang tak berujung ini. Jangan bilang hanya jiwanya yang tersiksa dengan semua kebohongan ini, percayalah bahwa aku disini lebih terluka melihat satu persatu kebohongan terungkap menjadi sebuah mimpi buruk yang tak pernah sekalipun ku harapkan.


Amarah, kebencian, luka, rindu dan tangis bercampur menjadi satu. 

Entah perasaan seperti apa yang harus kujatuhkan di wajahku ketika aku melihat wajah pria itu sedekat ini. Tujuh tahun berlalu. Aku masih ingat jelas bagaimana terakhir kita bertemu, dan aku pun masih sangat mengingat bahwa selama tujuh tahun juga sosoknya pergi tanpa pamit dan tidak ada kabar sedikitpun. Maksut hati ingin menumpahkan segala amarah dan kebencianku, ingin melontarkan jutaan pertanyaan yang aku sendiri tidak pernah menemukan jawabannya. Namun hanya tangis yang mampu mewakili seluruh perasaan yang ada dihatiku selama ini didepannya.


"Maaf. Jika ada kata yang lebih dari maaf, akan kulakukan untukmu. Tapi tolong jangan menangis seperti ini, itu hanya membuatku semakin terluka. Mengertilah" , ujarnya lagi.

Maaf? batinku.
Aku masig terdiam dalam tangisan yang semakin mendalam. Ada guratan rasa sakit ketika satu persatu kenangan dan luka di masa lalu hadir dalam ingatan. Sungguh, ini menyiksaku.
Sosoknya mendekat, menjatuhkan kepalaku dalam dekapan hangatnya. Aku tahu mungkin hanya pelukan seperti inilah yang mampu menetralisir segala kesedihan, menghilangkan semua luka. Dia mempererat dekapannya, ku biarkan angin dan senja sore itu menjadi saksi bisu kesedihan kita.

Isak tangisku masih tidak berirama, berantakan.
Aku mencoba mengatur nafas dan menghilangkan cairan lengket yang membahasi seluruh wajahku. Aku menunduk, mencoba mengalihkan mataku dari pandangan sosok didepanku ini. Berjalan, terus berjalan, meninggalkannya di belakang. Sampai akhirnya aku berhenti, dan mendapati dia jauh dibelakangku dan melihatku dengan tatapan tajamnya.

"Apakah ini sama seperti yang kau rasakan saat aku pergi meninggalkanmu dulu? Kosong." , ucapnya lirih.

Aku menatapnya dalam. Kulihat dia jauh didepan mataku dengan tatapan dalam dan sayu. Terlihat jelas mimik kesedihan dalam wajahnya. Apakah itu yang ia rasakan ketika jarak diantara kita dulu?
Aku mengangguk.
Menjawab pertanyaannya dan berbalik arah. Aku berjalan melawan angin, menerawang ke langit dan menikmati indahnya senja sore itu. Aku menyukai semua jenis senja, tapi mungkin senja ini yang akan selalu ku sukai. Senja dimana ada aku dan kenyamanan yang kembali.

Dia menarikku memasuki sebuah Cafe pinggiran jalan. Aku mengekor di belakangnya, sampai akhirnya kita mendapatkan meja yang jauh dari hingar bingar keramaian. Jangan berpikir buruk. Aku hanya tidak menyukai keramaian, dia juga, karena aku selalu merasa sepi ditengah keramaian. Alasan klise, tapi memang itulah kenyataannya.

"Aku tahu mungkin banyak pertanyaan dibenakmu saat ini, dan aku akan coba menjawabnya. Dengar, aku bukan dengan sengaja pergi begitu saja meninggalkanmu. Aku mempunyai life-goal. Satu persatu life-goal ku tercapai, dan hanya satu yang belum kucapai. Jangan berfikir bahwa aku tidak terluka berjarak denganmu. Lihatlah, aku hanya ingin membuktikan semuanya" , ujarnya.

Aku terdiam, mencoba mencerna pernyataannya. Dia melihatku, menungguku berkata. Tapi aku masih tetap diam, membisu.

"Dengar baik-baik. Mungkin ini akan terdengar konyol tapi sungguh ini adalah perkataan paling jujur yang ingin ku ungkapkan padamu. Selain ribuan kata maaf karena telah meninggalkanmu dalam luka dan duka, aku juga ingin mengucapkan bahwa aku ..." , ucapnya menggantung.

Aku menunggu kalimat selanjutnya, namun dia terdiam dan menunduk. Matanya berkaca-kaca. Suara bergetar lalu berkata,

"Mungkin memang ini salahku. Aku menyimpan semua rahasiamu yang bahkan kamu sendiri tidak tahu. Almarhumah ibundamu menitipkan kebahagiaanmu padaku. Sampai sekarang aku masih terus berfikir, kebahagiaan seperti apa yang beliau mau untuk puteri kecilnya ini. Aku pernah berjanji padanya untuk selalu menyayangimu dalam keadaan apapun. Dan jarak adalah caraku menyayangimu dalam luka, dan kini aku melihatmu baik-baik saja adalah caraku menyayangimu dalam bahagia. Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi." , ucapnya bergetar.

Aku masih saja terdiam, aku muak mendengarkan omong kosong. Aku lelah percaya jika pada akhirnya semua akan menguap entah kemana. Janji? Kepercayaan? Omong kosong.

"Hai, aku tahu kamu membenciku sedemikian itu. Tapi dengar, aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Aku sendiri tak tahu sejak kapan rasa ini hadir dan bernaung di dalam hatiku, tapi percayalah selama ini aku berjuang mati-matian untuk mewujudkan semua life-goal ku. Dan sekarang hanya kamu yang ku inginkan untuk melengkapi semuanya." , ucapnya mantap.
I had lost him who wasn't even mine yesterday,
dan tiba-tiba sekarang dia mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan setelah ia menghilang selama tujuh tahun lamanya. Omong kosong!

Aku beranjak pergi menjauhi tempat itu, meninggalkannya. Mengingat semua luka dan kesedihan yang pernah ada, dan mengingat janji yang sempat diucapkannya dulu bahwa dia tak akan pernah sekalipun membiarkanku terluka hingga menangis. Kemanakah perginya janji itu? Menguap.

Aku menahan tangis, mempercepat jalanku hingga mencapai pintu keluar. Sampai pada akhirnya di menarik tanganku dan berlari mengejar senja. Kita terduduk diatas gundukan rumput, menghadap ke arah matahari tenggelam. Tak sedikitpun pandanganku kualihkan dari sunset di depanku, tak sedikitpun. Aku menahan tangis, membendung anak air mata di kelopak mataku. Dia melihatku, aku tau itu, dia melihatku!

"Maafkan aku hingga sanggup membuatmu membenciku. Mungkin cara menjaga dan membahagiaanmu bukan dengan menjadi pendampingmu, mungkin ada cara lain. Aku akan menerima penolakanmu, silahkan pergi, tapi ingatlah aku akan selalu disini. Menunggumu." , ujarnya lirih.

Matahari perlahan tenggelam, seakan memberikan penjelasan tajam akan kegelapan yang akan datang. Angin malam mulai menggelitik lembut kulitku, membuat badanku bergetar. Dingin. Sedingin hidupku selama bertahun-tahun ini, menghadirkan beberapa kekosongan dalam hati.

Dia.
Pria yang sangat kusayangi, sebagaimana aku menyayangi diriku sendiri. Baru kali ini aku melihatnya serapuh ini, diam menerawang jauh kedepan. Entah apa yang sedang difikirkannya. Maafkan egoku ini, aku masih terlalu keras untuk dipecahkan. Aku hanya menyesali mengapa aku bisa mempercayaimu dulu?

"Lihatlah aku. Kumohon. Untuk yang terakhir kali dan aku akan pergi" , ucapnya bergetar.

Ku turuti kemauannya. Dia mendekat dan mengecup hangat keningku. Memelukku lebih hangat dari sebelumnya, lebih erat, seakan mau akan memisahkan. Aku membalas lembut pelukannya. Ia tersentak dan mengecup halus ubun-ubun kepalaku. Aku tersentuh.

Dia bergerak menjauh melepaskan pelukannya.
Dia membuktikan segala kata-katanya, bahwa itu tadi adalah yang terakhir, terakhir. Lalu ia tersenyum dan pergi. Lagi-lagi aku melihat punggungnya bergerak menjauhiku. Tanpa sadar aku memanggil namanya lirih, dan bendungan air mata yang dari tadi kupertahankan tumpah juga. Seakan mendengar lirihan suaraku, dia berhenti dan berbalik, lalu tersenyum dan kembali.

"Jangan pernah menangisiku lagi, aku benci itu. Mungkin ini hukuman untukku karena telah menyia-nyiakanmu dulu. Suatu hari jika kita bertemu disuatu tempat dengan perasaan yang berbeda, ingatlah bahwa perasaanku akan selalu tetap sama untukmu. Ingatlah, selamanya." , ujarnya sembari menghapus air mataku.

Setelah itu dia pergi dan tak kembali lagi.

---

Dear you, 
Do not say sorry to me, cause I am not even forgived you. I wish I could hurt you the way you hurt me, but I would not, because I fell in love with you from the first, by a million things you never knew you were doing to me. Thanks for everything, for loved me most. See you too in another chance with different way to loved each other. God bless you best.