Saturday, December 31, 2016

Danke .


"Karena sedih dan bahagia hanya titipan Allah semata, sudah kupersiapkan hati sebelum semua hal terburuk terjadi. Bagaimanapun akhirnya nanti, jika kita sama-sama tersakiti, maka aku yang akan terlebih dahulu pergi ." 

---

          Mungkin semua perilaku dan perkataanku masih terlihat seperti wanita patah hati, but seriously saya jauh lebih bahagia dengan kehidupan yang saya jalani saat ini. Karena untuk menciptakan kebahagiaan, dia tidak perlu ikut campur didalamnya. Bahagia tercipta karena kita yang menjalankan. Dan saya bahagia menjalani ini semua tanpa kamu sekalipun didalamnya.

Masih terlihat seperti curhatan wanita patah hati?

Okay, saya menyerah. Memang untuk membangkitkan hati yang telah berkali-kali terjatuh dan memaksakan diri yang telah berkali-kali ditipu ini tidak semudah yang mereka sarankan. Sakit hati mungkin iya, tapi tolong percaya, itu hanya berlaku beberapa hari setelah kepergiaannya. Saya memang bodoh, tapi maaf untuk hal seperti ini saya mungkin jauh lebih pintar. Saya telah memperingatkan hati dari jauh hari sebelum hal buruk seperti ini meremukkan hati.

          Mungkin tidak semua caci maki yang akan saya lontarkan padanya jika dipertemukan nanti, terlebih saya ingin berucap terima kasih. Lagi-lagi dia mengajarkan saya bagaimana menjadi wanita pemaaf dan sabar dalam menerima segala keadaan yang ada.

Ps : Terima kasih juga telah menjelaskan siapa kamu sebenarnya, ternyata pencitraan still exist.

---

Happy new-year, bye 2016.

Tuesday, December 27, 2016

Usai disini.


Pernahkah kamu merasa hampa dan tidak baik-baik saja?

Seperti kehilangan sesuatu namun tak tau itu apa. Ingin sekali rasanya melupakan namun enggan, ingin tertawa namun tertahan. Pernah?
Pernah
---

Yogyakarta. Desember 27, 2016.

Aku kembali, membawa semua sisa serpihan hati yang kau bawa pergi dan tak kembali.
         Aku terus menerus menyebutkan namamu, tanpa tau alasan apa lagi masih ada kamu dalam hidupku. Mungkin ini adalah bukti bahwa semesta ikut berkonspirasi akan rinduku yang tak bertepi. Sore itu, ketika senja dipelupuk mata, aku mengulang-ulang semua reka adegan dari awal kita berjumpa hingga memaksakan untuk berpisah.

Seandainya bisa kutawar, aku ingin hidup biasa-biasa saja tanpa ada perpisahan dan kehilangan didalamnya. Biarkanlah cerita kesedihan ini berjalan apa adanya tanpa ada dua diantaranya.

"Aku ingin kamu jatuh cinta lagi padaku disini, di Yogyakarta"

Masih hangat ucapnya di daun telinga. Semua tempat ini mengingatkanku banyak hal akannya, tentang senyum yang tak pernah berhenti dan tentang cerita cinta yang kuharap tidak akan pernah mati.

Hujan membangunkanku akan kenangan yang telah lama terlelap. Seperti memanggilnya untuk pulang, seseorang yang lama telah pergi tapi ingatan tentangnya masih. Seruan kilat menyambar, menggetarkan hati mendewasakan diri.

Ku cukupkan hatiku.

Cukup padamu aku pernah meletakkan diriku jauh lebih rendah dari tanah yang kupijak. Anggap aku bodoh yang masih saja belum menemukan kata sudah diatas hubungan yang telah kau pecah.

Terimakasih karena telah mengajariku banyak hal yang mungkin akan mengeluarkan isak tangis ketika mengingatnya. Aku siap untuk melewati setiap tanggal dan bulan yang sama di tahun yang berbeda, tanpa mu. Setelah sedih ini, ku janji akan menguburmu dalam sepi, walau perih tapi tolong jangan lagi kembali.


note : terimakasih untuk 2016 yang berliku ini sayang, bahagialah selalu. 

Monday, December 12, 2016

Sebentar yang kuharap Selamanya.


          Jika mencintaimu adalah kesalahan, maka kesalahan keduaku adalah mengingatmu secara sengaja. Mengingatmu sama seperti menancapkan duri dalam hati, terasa sakit namun aku tidak bisa berhenti. Kau selalu berkata untuk sesuatu yang pasti, dan ku menyimpanmu dalam hati.

Aku dan kamu (mungkin) telah sama-sama lelah. Kamu yang lelah mengingat bahwa ada aku yang menunggumu begitu sabar dengan ribuan luka yang bertebaran, sedangkan aku lelah berharap kamu mengingatku sebagai wanita yang dulu kau sebut berharga.
"Andai saja suatu saat tiba-tiba putus asa itu hadir diantara kita, berhentilah. Berhentilah sejenak, toleh ke belakang. Lihatlah betapa jauh perjalanan yang telah kita susuri dan betapa besar pengorbanan tanpa tepi yang kulalui ini, untukmu."
Sesak.

          Ketika harus mengingat semua ucapan tulus yang sering kau sebut itu janji, kini tidak ada lagi. Jangan tanya mengenai luka, karena tidak akan bisa kuutarakan. Perihal luka yang sempat kau goreskan, akan selalu kupendam sedalam-dalamnya dalam diam. Agar hanya kebahagiaan yang selalu kau genggam dengan siapapun disana.

Ternyata aku mulai lelah mengingat yang telah terlewat, tentang aku, kamu dan kita. Aku sudah bisa mengikhlaskan semuanya, termasuk kau dan dia. Tetapi maaf ternyata menerima kenyataan bahwa kau tak lagi ada untukku , itu cukup susah. Biarkan semua rasa dan luka ini menjadi seperti sisa hujan yang pada akhirnya akan mengering disaat waktunya tiba.

Doaku, semoga kau selalu bahagia dipelukannya.

Thursday, October 13, 2016

Memelukmu sehangat tadi .


"Aku akan selalu mengingatmu, entah sebagai cinta ataupun luka" - D.
---

Setelah sekian lama, ternyata pelukmu jauh lebih hangat dari yang pernah kukira. Bisakah ku miliki malam seperti ini selamanya?

Ada banyak hal yang mungkin akan sulit ku lupakan kedepannya, peluk harum dan hangatmu. Entah karena terlalu lama atau memang akulah yang terlalu merindukan. Aku yang terlalu malu untuk mengakui bahwa kamu satu-satunya yang bisa membuatku jatuh cinta, yang bisa membuatku terdiam cukup lama untuk bersabar, dan yang selalu ku banding-bandingkan dengan semua pria dalam pelukan.

Satu malam merubah segalanya. 

          Terimakasih atas waktu dan kesempatan yang lagi-lagi kau berikan. Kesempatan untuk aku merasakan hal yang sama ketika masih ada kita dimasanya. Dan lagi aku tidak tahu bagaimana cara untuk menggunakan kesempatan itu dengan sangat layak. Kehilangan ini hanya soal kebiasaan, ketiadaanmu hanya soal waktu dan aku hanya bisa mengerti dan menerima semua dengan hati yang ihlas. Ku pikir mencari celah ditengah luka yang kau rasakan bisa memperbaiki aku dan semua kesalahanku kepadamu. Ternyata aku salah.

Kamu yang terus menerus menertawakan setiap hal yang ada, mengajakku hanyut didalamnya, tanpa kamu sadari semua itu hanya caramu untuk mengalihkan cerita tentang luka yang masih belum bisa kau terima. Mungkin memang lebih baik aku tetap begini dan kamu tetaplah seperti itu, dengan cerita luka yang bersarang dalam hati dan ingatan masing-masing. Karena saat seluruhku hanya kau balas separuh, mungkin sudah saatnya aku tuk menjauh.

Tidak akan ada yang berubah, aku akan tetap menjadi orang yang haus akan perhatian dan kamu akan tetap menjadi sisi yang selalu mengeras di kepala. Seharusnya dari awal aku sadar, aku tidak perlu memelihara apapun ketika sebenarnya aku tahu tidak ada lagi harapan akan kita, tidak ada lagi aku diantara kau dan dia.

           Aku kalah dihadapkan pada harapan yang patah, mungkin karena aku yang terlalu dalam mengharapkan hingga yang kutelan hanya pahit kekecewaan. Maaf jika luka yang pernah ku gores masih terpampar nyata dalam ingatanmu hingga membuatmu bertahan untuk tetap membenciku. Maaf jika semua kebodohanku membuatmu risih dan memilih untuk menyudahi. Aku hanya malu dan merasa sangat kecil ketika mengingat bagaimana kamu memperlakukanku dengan tulus tapi balasanku hanya, entahlah. Tapi adakah cara untukku memperbaiki semuanya lagi? Adakah jalan untuk kita kembali?

Jika tidak, maka akan ku titipkan seluruhku kepada Tuhan agar dijaga sebaik yang ia bisa. Dan ketika suatu saat kita bertemu dilain kesempatan yang paling asing, semoga ku tak lupa pernah mencintai pria sehebat kamu.

Terimakasih telah menjadi satu-satunya pria yang selalu kukenang tanpa tepi, walau perih aku tetap mencintai setiap detik yang ku miliki bersamamu. Tidak akan pernah ada yang berubah, hanya kita bukan lagi dimasanya.

untuk kamu, priaku di masa itu
-b

Tuesday, September 27, 2016

(Good) -Bye .


Tidak ada kebaikan, jika untuk melakukannya justru malah menyakiti orang lain. Bahkan tentang berbohong demi kebaikan. Apa sesungguhnya yang mereka pikirkan?
---

          Apakah hanya aku yang merasa ingkar janji, karena dititik terparah bukan lagi kamu yang ku cari? Aku lengah, lalu kehilangan. Kehilangan kamu yang mati-matian ku jaga tanpa tapi tanpa tepi. Sejak awal memang sudah kalah dengan dia yang selalu kau sebut rumah, sedangkan aku hanya persinggahan. Berkali-kali ku bertanya siapa dia, dan lagi-lagi kau jawab hanya teman. Bodohku yang lagi-lagi mempercayai tipuanmu. Bukan bodoh, hanya saja ini adalah keahlianku dalam mencintaimu meski penuh luka.
Kamu selalu membahasa tentang kita. Kita? Mungkin maksutmu kamu dan dia, bukan denganku. Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan, tapi seakan jarak memperkeruh keadaan. Kamu yang selalu berdusta dan aku yang tetap selalu mengiyakan semua antara kamu dan hanya teman-mu itu dibelakangku. Pikirmu dengan semua dustamu aku tetap tak akan terluka? Lalu dengan semua dusta yang kau bilang demi kebaikan akan menjaga keutuhan cinta dan membuatku bahagia? Kamu salah. Aku lelah dengan semua permainan yang ada, haruskah kita berhenti dan mengakhiri perasaan satu sama lain? Mungkin aku memang sudah kalah dengan dia yang selalu mencuri waktumu.

          Katamu waktu mampu memaafkan dan menyembuhkan segalanya, lalu mengapa itu tak terjadi? Mungkin kamu salah, bukan menyembuhkan tapi lebih ke membiasakan. Ya membiasakanku tanpa semuanya, tanpamu. Karena setiap ku mengingatmu aku masih sangat bisa merasakan bagaimana luka ketika kau kecewakan, luka atas semua permainanmu dengan dia yang selalu kau sebut hanya teman. Aku akan selalu merasakan semuanya, hanya saja waktu membiasakanku mengingatmu tanpa ada air mata.

Cinta? bukankah sudah kita sudah saling tahu bahwa sejak saat itu rasa ini telah tiada. Jadi ijinkan aku terbiasa akanmu, semoga esok tak ada lagi luka atau air mata ketika mengingatmu. Tapi tolong jangan pernah memohon, karena selamanya aku tidak akan bisa memaafkan kamu. Biarkan ini menjadi urusanku dengan Tuhan-ku, terima kasih untuk waktu yang sia-sia ini.


aku ,
wanita membosankan-mu.

Tuesday, September 20, 2016

September End .


"Dan akhirnya hatiku roboh lagi. Setelah setengah mati berjuang mempertahankan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mungkin aku harus istirahat sejenak, dari cinta yang salah." - D.
---

           Teruntuk kamu yang tengah berbahagia dengan dia, pengganti cinta lama yang telah usang terlindas jaman. Bukankah pernah ku katakan bahwa aku akan tetap bahagia untukmu, walau kenyataannya tertawa belum tentu bahagia. Mungkin karena luka yang kamu goreskan terlalu dalam, aku tidak bisa membedakan mana kecewa dan duka. Yang ku tau hanya cara untuk memaafkanmu lagi dan lagi.

Maaf jika sampai saat ini aku masih dan selalu mengungkit semuanya sendirian, karena memang aku lebih terbiasa sendiri daripada bersamamu selama dua tahun ini. Aku menyayangimu lebih dari diriku sendiri, dan kehilanganmu secepat ini seperti hujan yang tanpa henti. Bagiku, kamu memang salah satu alasanku untuk merasakan sedih dan senang. Tetapi jika kamu pikir ini akan berlangsung selamanya, kamu salah. Mungkin ketika suatu saat kamu ingin berusaha membalikkan semuanya, aku tak lagi ada.

          Teruntuk kamu, jangan datang lagi jika hanya untuk menghakimi bahwa akulah yang palinh bersalah atas semuanya. Aku masih terlalu sibuk membenahi hatiku. Kalau kamu datang juga, yang ada ku semakin hancur. Kumohon.

Jangan lagi menghantuiku melalui mimpi indah tentang kita atau semacamnya. Aku hanya ingin tenang menjalani kehidupan tanpamu, itu saja. Aku telah memutuskan untuk tetap bahagia ada atau tidak adanya kamu di dunia ini.

Dua tahun aku membanggakanmu didepan teman-temanku tanpa henti, dua tahun pula kamu mengecewakan hati. Terima kasih untuk semua luka ini. Jika suatu saat kita dipertemukan lagi, semoga kita telah memiliki kebahagiaan itu sendiri. Oiya satu lagi, maaf bukan niatku untuk menjadi jahat, tetapi memaafkan orang yang telah mengecewakan sepertimu lebih susah daripada harus memaafkan orang yang telah membuatku marah atas kesalahan yang sama.

Happy failed two years anniversary, yankee . God bless you :)

Tuesday, September 6, 2016

Mimpi?

Setelah sekian lama kita bersama, selama itulah aku berdusta pada diriku sendiri. Kepahitan yang selama ini kupungkiri, akhirnya tiba menjadi sesuatu yang benar-benar harus kuhadapi. Sudah ku peringatkan pada tubuh, terutama hati, untuk selalu kuat dalam keadaan terburuk sekalipun. Tapi nyatanya luka mengambil alih semua kekuatan.

Disini ku masih tertegun dengan semua drama yang kau lakukan. Entahlah aku sendiri masih sibuk mencari keahagiaan yang telah lama kau tenggelamkan. Mungkin sekarang kata jauh lebih tepat untuk menggantikan semua luka ketika air pun tidak bisa tumpah dari mata. Jika saja ku bisa menggantikan luka yang kurasakan, tak perlu ku bersusah payah untuk membunuhmu dalam ingatan. 

Aku masih saja berharap bahwa kau selalu mrengkuhku seperti biasanya. Menyanyikan sederet lagu tentang betapa dalamnya perasaanmu karenaku. Dan memperkenalkanku di depan semua orang terdekatmu, termasuk mamamu. Ah, betapa ku merindukan setiap mimpi itu. 

Memang sudah lama berlalu, namun kau masih saja hadir dalam setiap mimpiku. Aku yang masih mengikutimu bagai parasit, masih melihatmu seperti dulu ketika kau masih milikku. Bagiku kau adalah seluruh masaku, alamat rinduku tuh berlabuh. Ini bukan perihal aku tak bisa melanjutkan hidupku tanpamu, hanya saja cerita yang kita buat terlalu indah jika ditinggalkan bukan?

Yah setidaknya kau masih nyata, di mimpiku. Walau terkadang mimpi pun menipu, sesaat disitu selamanya kau milikku.

Saturday, August 20, 2016

Bersamamu, ternyata .


"Hal apa yang paling sakit di dunia ini Dee?" , tanyanya.
"Jatuh cinta" , jawabku.
---

           Bagiku tak ada yang lebih sakit dari jatuh cinta kepada seseorang, sebab ini tentang luka. Kita tidak akan pernah tau kapan dan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Entah akan membangun canda tawa atau malah menjadikan tangis lara pada akhirnya. Karena aku masih percaya, disetiap Tuhan memberikan pertmuan, disitulah pasti akan ada perpisahan.

Sejujurnya aku pun tak ingin mengungkit perjalanan hati yang terlanjur sakit ini. Buat apa mendobrak hatinya yang aku sendiri tahu bahwa hatinya telah berpenghuni? Bukankah ini terlalu sia-sia?  

Maaf jika sampai saat ini aku masih membohongi diriku sendiri, aku juga benci mengapa aku bisa selemah ini atas kepergianmu. Aku yang telah berusaha memperingatkan hati agar selalu bahagia ada atau tiadanya kamu, ternyata aku gagal.

          Aku pernah membedah otakmu, menelusuri lipatan demi lipatan memori yang terbentuk. Banyak hal yang kutemui. Hal yang membuatmu bahagia, sedih bahkan marah. Terlalu banyak yang kamu simpan disana, kamu memilih untuk memikirkannya sendirian, tanpa aku. Sampai terakhir kita bertemu, masih kutelusuri labirin memori otakmu, tapi ternyata tak sedikitpun ada aku disitu yang katamu selalu menjadi wanita yang paling penting dalam hidupmu.

Aku seakan hidup diatas semua kebohongan yang selalu kau ciptakan, demi kebahagiaan. Aku kehilangan kata kita disana, ternyata tak pernah ada makna aku dalam setiap hari-harimu. Kita terpisahkan oleh jarak dan kesibukan. Aku lengah dan aku kehilangan. Kehilangan semuanya, serta mimpi dan semua harapan yang pernah kita ucap dan kini melayang-layang tanpa pernah menyentuh daratan.

Sedih? Marah? Tidak.

Aku hanya kecewa. Kecewa atas semua kebohongan dan kebodohan yang ku terima. Terima kasih, karena kamu selalu menjadi satu-satunya pria yang selalu ku banggakan di depan teman-teman, karena kamu aku bisa jauh lebih menghargai waktuku, karena kamu aku kembali mengerti seperti apa rasanya menunggu, bersabar bahkan ikhlas untuk melepaskan.

Aku tau Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan maha adil. Semoga suatu saat ketika badai dan guruh dikepalamu serta dadamu reda, ingat aku sebagai sesuatu yang bahkan tak ingin kau ingat. Semoga kau pun turut merasakan semua hal yang menyakitkan serta pernah membahagiakan.


Danke Schoon .
ps : happy failed 23th monthversarry 

Monday, August 8, 2016

Karena cinta bisa kadaluarsa .


"Dan akhirnya ketidaksempurnaanku meruntuhkan seluruh kesetiaanmu" - kn
---

          Tidak ada yang salah dengan malam ini, dan tidak ada yang salah dengan caramu memutuskan hubungan kita secara sepihak. Jahat. Hanya itu yang bisa ku katakan pada diri sendiri tanpa berani mengusikmu yang telah pergi dan berpaling. Kejahatan berulang yang kamu jatuhkan, dan kesalahan yang sama yang selalu kulakukan, memaafkan. Setelah memutuskan, pergi meninggalkan, kini kau menghapuskan semua kenangan. Tidak, tidak ada yang salah hanya aku yang terlalu mengharapkan kita dengan keadaan.

Aku yang selalu berusaha menguatkan hati dan menipu diri pada akhirnya terkikis habis oleh ilusi. Sedih? Tidak. Aku hanya kecewa. Bagaimana bisa aku yang telah berjuang parah, menggadaikan semua yang kupunya, tetapi kau lebih memilih dia yang tidak sedikitpun memperjuangkan apa-apa.

Aku masih merindukanmu, merindukan semua tentang kita. Ku selalu meminta pada Tuhanku untuk mengabulkan setiap doa disepertiga malamku untuk kita. Tapi jika itu terlalu berat untuk kau realisasikan, maka biarlah permintaanku hanya menjadi doa yang menggantung diawan-awan tanpa pernah menyentuh dataran kenyataan. Semogta aku ikhlas dengan semua keputusan yang kau punya.

Jaga dia, semoga kau selalu bisa belajar dari semua kesalahan. Jadikan dia pelabuhan bukan hanya persinggahanmu disaat lelah menghadapi kebosanan akan kita. Dan semoga dialah yang bisa membuatmu bahagia melebihi semua usaha serta airmata yang telah kulakukan selama dua tahun untuk kita. Maaf jika samapi detik ini aku masih diam-diam merindukan kita. Terima kasih untuk semua tangis lara serta cerita yang pernah ada.

Me, 
wanita yang akan selalu mendoakan.

---

ps : -

Wednesday, July 13, 2016

Kesedihanku .


          Kesalahan berlapis yang selalu kusyukuri adalah panca indera yang selalu berjalan diluar batas keinginan. Mata yang selalu melihat kearahmu, telinga yang selalu mendengar suaramu dan kaki yang selalu membawaku kepadamu. Segala perhatianmu yang mampu membumihanguskan kewarasanku, membuatku tanpa bosan melewati setiap detik bersamamu.

Tahukah kamu?
Kamu selalu menjadi barisan pertama dalam setiap alinea, senyumanmu seketika berubah menjadi semesta paling nyaman dan matamu adalah rumah yang selalu membawa kaki ini kembali tanpa tapi.

          Ya ini memang kesalahan, tapi demi Tuhan, aku tidak pernah menyesali semua pagi yang selalu kulewati dengan sapaanmu, semua siang yang kuhabiskan dengan merindukan kehadiranmu, juga malam-malam yang selalu kututup dengan doa yang kutujukan hanya untukmu. Aku hanya tidak ingin merajut luka, jadikan ini sebuah rahasia, tentang aku yang hanya bisa menatap tanpa meminta untuk kembali ditatap, tentang aku yang hanya bisa mengagumi tanpa balasan untuk dikagumi, tentang aku yang hanya ingin memendam tanpa tau bagiamana caranya mengungkapkan dan tentang aku yang hanya bisa mencinta walaupun sendirian.

          Andai kamu tahu. Melepaskan memang tak pernah menjadi suatu perihal yang gampang, tetapi bertahan dengan orang yang bahkan tidak tahu hatinya untuk siapa itu lebih menyakitkan. Rasanya seperti mengerjar yang lari, mencari yang hilang dan berjuang untuk yang tidak pernah ada, tapi sungguh aku menyukainya.

Aku mungkin telah kehilanganmu, lalu kamu pun telah memilih dia sebagai penggantiku. Tetapi tolong sampaikan padanya, bolehkah aku tetap merindumu? Merindukanmu karena berkali-kali sabar atas semua kesalahan sama yang selalu kuperbuat, merindukan ocehan yang selalu terlontarkan ketika aku terlambat, merindukan pelukanmu, kecupanmu dan terlebih aku merindukan kita, boleh?

          Maaf jika selama ini pelukku terlalu kuat, hingga membuatmu merasa sesak. Mengekangmu terlalu jauh, hingga membuat langkahmu terbatasi. Mencintaimu terlalu pasti, hingga kini kau pergi dan mungkin tak akan kembali.

Tak ada lagi yang bisa ku minta, karena kamu terlalu jauh meninggalkan. Kamu masih selalu menjadi nama yang akan terselip diantara doa-doa disepertiga malam, aku tidak berhenti menyemogakan kita. Tetapi jika nanti memang tidak ada kita, terima kasih sudah pernah menjadi kemungkinan yang tak pernah henti ku semogakan.

Ich vermisse Dich,
yankee u .

Sunday, June 26, 2016

18 : 21


Untukmu,
kekasih yang selalu ada dari bahagia hingga tangis lara. Tetaplah disana, jangan kemana-mana, tetaplah seperti semula. Aku membutuhkanmu agar aku selalu terlihat utuh. Tetap disana, jangan berarak menjauh. Suguhkan aku lengkungan senyummu, lalu kan ku pulangkan keluh.

---

Hujan malam ini mengguyur lemas hati dan pikiranku.

Aku merindukanmu, lalu kumulai dgn menuliskan pesan singkat untukmu. Ku selalu berharap jarak bukan satuan yang akan menghancurkan kita, melainkan menguatkan. Kurapalkan tanganku dan menyebut namamu dalam setiap bait doaku. Kuulangi setiap doa dgn meminta kebahagiaan atas kita, tapi kenyataan yg kudapat hanyalah punggungmu yang semakin lama kudapati menjauh pergi.

Aku menghadirkanmu dalam biru.
Mengingat seberapa banyak kesalahan yang akhirnya membuatmu pergi lalu lari. Hanya meninggalkan kenang, membuat luka dan lalu terluka. Aku masih terus menyalahkan diri atas kepergianmu. Bisakah kamu tetap disana, dan jangan kemana-mana?

Terkadang aku cemburu kepada sosok yang tak pernah berusaha sedikit pun untuk meluluhkan hatimu, tapi begitu menarik perhatianmu. Sedangkan aku, begitu kerasnya aku berjuang menggadaikan semua yang kupunya namun pada akhirnya kau meninggalkan?

Bisakah kau mengerti bahwa ini melukai? Tolong kembalikan semua yang pernah kumiliki sebelum kau mencampuri, lalu kau boleh pergi.

Surabaya, 26 Juni 2016 .

Aku,
wanita yang cukup terluka.

Sunday, June 12, 2016

Perfection is Boring .

Dan lagi,
telah kutemukan bagian paling menyakitkan atas sebuah kehilangan, bukan karena apa-apa, hanya karena ia selalu dan terus meminta sebuah hal yang bertahta kesempurnaan. Cinta dan ambisi membuatnya lupa bahwa sesungguhnya kesempurnaan yang sejati adalah ketika dua hati saling percaya dan melengkapi. 

Ambisi membawanya menjauh dariku. Aku yang terus menerus meminta dan tanpa sadar ia telah jauh meninggalkan. Dia yang selalu menuruti dan berpikir bahwa semuanya telah dilakukan agar aku merasa cukup, namun nyatanya keliru, aku yang terus menerus merasa kurang dan haus akan cintanya. 

Siapa yang salah? 
Aku tak sedikitpun menyalahkan kepergiannya, karena aku sadar bahwa aku terlalu menginginkan kesempurnaan diantara kita tanpa tahu apa arti kesempurnaan sesungguhnya. 

Terdiam. 

Terdiamku dalam suatu lamunan yang memeliharaku dalam linang air mata akan jarak yang begitu nyata diantara kita. Aku memperhatikan, dan belajar atas suatu kesempurnaan. Ku selipkan namanya dalam setiap doa, memohon kepada Tuhan, semoga ini menjadi suatu pembelajaran atas pencarian kesempurnaan dalam kita. 

Dan akhirnya, 
aku harus percaya bahwa kesempurnaan itu ketika ku salah ada dia yang akan membenarkan, ketika ku lupa akan ada dia yang mengingatkan, dan ketika dua hati saling percaya serta melengkapi. Dari sini, tidak pernah sekalipun dicintainya aku merasa kurang. Semoga akan tetap seperti ini rasanya.

ys

Saturday, June 4, 2016

Good enough .


I am the diamond you left in the dust 
I am the future you lost in the past 
Seems like I never compared 
Wouldn't notice if I disappeared

You stole the love that I saved for myself 
And I watched you give it to somebody else 
But these scars no longer I hide 
I found the light you shut inside 
Couldn't love me if you tried 

Am I still not good enough? 
Am I still not worth that much? 
I'm sorry for the way my life turned out 
Sorry for the smile I'm wearing now 
Guess I'm still not good enough 

Does it burn 
Knowing I used all the pain? 
Does it hurt 
Knowing you're fuel to my flame? 
Don't look back 
Don't need your regrets 
Thank God you left my love behind 
Couldn't change me if you tried


Am I still not good enough? 
Am I still not worth that much? 
I'm sorry for the way my life turned out 
Sorry for the smile I'm wearing now 
Guess I'm still not good enough


Release your curse 
'Cause I know my worth 
Those wounds you made are gone 
You ain't seen nothing yet 
Your love wore thin 
And I never win 
You want the best 
So sorry that's clearly not me 
This is all I can be

Monday, May 30, 2016

Berpisah .


Kau tidak salah atas apapun, termasuk perpisahan kita. 

Untuk kesekian kalinya,
kehilanganmu menjadikan sesak yang paling menyakitkan dalam rongga dada setiap sesekali ku mencoba tuk bernafas lega. Mengingat kenangan akan kita, menjadikan suatu bumerang yang mampu merobohkan benteng pertahanan dalam jiwa. Entahlah. Merelakanmu menjadi satu-satunya usaha yang kerap sia-sia kulakukan.

Aku tak berharap kau mengetahui semua kesakitan akan menahan rindu yang kulalui setelah pergimu.
Hanya saja, kuakui dalam hati kecilku selalu memanggil namamu. Mengeja-eja namamu dalam ingatanku, dan selalu berharap perpisahan ini hanya mimpi buruk yang akan menghilang ketika ku membuka mata pagi nanti.  Ah, aku benci merasakan hal seperti ini. Menerka-nerka setiap kejadian bahagia yang akan kau lalui tanpaku nanti, dan bertanya-tanya siapakah wanita yang akan menggantikan posisiku nanti. Kadang rasa penasaranku adalah penyebab air mataku. Namun siapakah aku kini di hidupmu hingga bisa seenaknya tuk melarangmu?

Ternyata perpisahan ini tak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Ketika kau masih belum terlalu kental dalam ingatan dan harapan. Barangkali memang benar, bukan aku orang yang tepat yang sanggup membuatmu ingin berjuang atas kita. Overall, mungkin memang bukan aku yang menjadi sebagian dari masa depan yang selalu kau janjikan.

Sudahlah, mungkin sudah saatnya ku untuk menyerah. Siapapun dia yang akan menyanding posisiku dihatimu, semoga dia adalah wanita yang membuatmu untuk berhenti mencari, yang selalu membuatmu ingin berjuang dan seseorang yang jauh lebih sabar terhadapmu. Tolong sampaikan padanya, aku titip doa, cinta dan kerinduan. Semoga tidak ada lagi gagal sepertiku dalam membahagiakan dan memperjuangkanmu.


Yang terkenang,
luka lamamu.

Sunday, May 22, 2016

Selesai.


           Kau tiba-tiba menjadi suatu semesta kesayangan, yang mengajarkanku tentang sebuah kerinduan yang hanya bisa kita rasakan tanpa bisa kita ungkapkan dimasanya. Aku masih terus berdoa semoga ini bukan suatu kenyataan, kau menghilang tanpa meninggalkan bayang, hanya memori yang menjelma suatu kenangan.

Masih terus kuingat ucapmu sore itu, "Hidup hanyalah kumpulan suatu kehilangan dan ingatan ialah sebuah rumah dengan halaman yang selalu basah".

Kutemukan potongan lukamu dalam kehilanganku diatas kebodohanku sendiri. Sakit menahan setiap rindu yang tak kunjung temu. Kini ku hanya bisa mengingat kenangan basah, merindukan seseorang yang telah terlanjur jauh, seseorang yang dahulu terlalu dekat hingga tak terlihat.

Bodoh. Mungkin itu adalah salah satu dari sekian juta kata yang ingin kau umpat didepan wajahku. Jangan berbohong, karena kau bukan pria yang pandai membohongiku. Masih terkenang dalam ingatan, kau dan semua tingkah lakumu. Bagaimana bisa kau tak terlihat padahal kau selalu dekat?

Kau, seseorang yang rela menerjang hujan hanya untuk membawaku pergi dari pria aneh yang menculikku hingga ke tengah lautan pasir gunung Bromo. Tak ada satupun kata yang bisa kuucapkan, hanya pelukan hangat yang sempat kau sematkan untuk menghentikan tangisan.

"Menangislah sesukamu. Ada aku yang akan selalu melindungimu, terserah kau melihatku atau tidak, tetapi yang harus kau tahu bahwa ku akan selalu ada. Dia telah pergi, dan kau boleh berhenti. Tersenyumlah ku mohon", ucapnya melegakan.

Mungkin tidak terlalu banyak hari yang kita lewati bersama, namun terlalu banyak kenangan yang kau torehkan dalam kehidupan.

Ada sesuatu yang jika memang telah usai, maka demikianlah, tidak ada pula yang dapat dilakukannya, selain menerimanya dengan lapang dada. Lalu jika dengan perpisahan seperti ini adalah caramu untuk berhenti mencintai, aku bisa coba mengerti dan memilikimu dalam sebuah pergi.

Pulanglah.
Ceritamu telah selesai. Maafkan semua peran jahatku dalam skenario kehidupanmu. Pergilah, dan biarkan ingatan itu selalu basah. Semoga kita berjumpa dalam rindu yang sama.

---

Wonogiri, May 22th, 2016
Rest in peace, Rudi Teguh S

Friday, May 6, 2016

Janji.


Barangkali kita semua adalah suatu andai yang sedang berjuang. Memang tidak semua perjuangan ini akan membuahkan akhir bahagia, tetapi setidaknya kita telah mencoba. Tidak melarikan diri. Seperti kamu yang hanya sanggup untuk berjanji tanpa memperjuangkan semua kemungkinan yang selalu ku semogakan. Sesungguhnya aku enggan tuk menyinggung terlalu dalam soal janji, apa pun itu yang dulunya sempat kau puji tanpa realisasi. 

Janji? 
Aku gerah mendengar pria sepertimu mengumbar janji. Bagiku janji hanyalah kalimat tak pasti, yang tak sedikitpun tak tercampur oleh katahati, yang akan berujung basa-basi dan tentunya janji juga bukan hal yg pantas untuk ku seriusi sejauh ini. 

Menyesal? Karena memilihmu? 
Tidak, sama sekali tidak. Aku lebih dari bersyukur bisa mengenal dan membiarkanmu campur tangan akan cerita hidupku. Walau pada akhirnya nanti kita tidak bisa satu atap rumah, setidaknya nanti akan ada bagian yang kau ceritakan kepada anak-anakmu tentang aku. Dan melalui senyum itu aku tahu, bahwa masih ada aku dalam hatimu. 

Kamu akan selalu menjadi bagian dari doaku, walau tak sekental dulu, setidaknya masih kusebut satu persatu namamu dalam ribuan doa yang ku panjatkan tanpa rasa ragu. 

Kita,
Semoga.

---

ps : not everything i write is me and not everything you read is you. #fiction

Sunday, April 17, 2016

Jangan Ajari Ku tuk Berpaling.


Hati. 

Dari sini perjalanan cinta bermula. 
Berkendara senja bermata biru rindu. 
Ini tak membawaku kemana-mana; 
karena kau adalah satu-satunya tujuan. 

Gerah rinduku berpeluh, 
namun kudapati jarak kita yang semakin jauh. 
Entah hanya aku saja yang merasakan bahwa jarak ini bukan ketidaksengajaan,
Atau kau pun rasa. Aku tak tahu.

Hanya saja, 
ini sedikit menyiksa ku. Mengertilah.
Aku hanya ingin tinggal, tanpa harus berkemas,
tanpa ada kata meninggalkan.

Thursday, January 7, 2016

Senja dan Kamu.


Wannsee Lake, Berlin, Germany.

Maka bagiku kau sama saja. Menari dalam cahaya terang, bersinar dengan indah dan menyilaukan, hanya untuk membutakan. - Manuel


Merindukannya?

sudah bukan menjadi mungkin, melainkan pasti. Hanya saja aku masih belum mengerti, rindu apa yang bersarang pada hati ini. Aku tak memilih untuk pergi, karena ku yakin suatu saat dia akan kembali dan memperbaiki semua yang telah terjadi.

Awalnya musim panas di Berlin selalu muram, dan tak menyenangkan. Lalu kau datang menorehkan senyuman indah yang selalu kuingat dengan senja. Ketika saat itu ku sadar, aku selalu menantikan detik menit melambat yang menyalurkan perasaan hangat dari matanya. Menikmati menghilangnya senja dengan debaran angin yang menerbangkan setiap helai rambutku, menikmati rasa hangat yang menjalar kesekujur tubuhku karena kehadirannya, menyenangkan.

Wannsee,

kita selalu berjanji ditepi hati untuk berlari ke tempat ini. Hari terus berganti, dan sosoknya masih setia menemani tuk menikmati senja yang akan selalu sama. Senja kita, begitu selalu ucapnya. Dan karenanya, kini musim panas di Berlin terasa begitu hangat dan indah untukku.

Hari berganti bulan. Aku kehilangan setiap momen indah untuk menghampirinya di tepi senja. Tidak, aku tidak berniat meninggalkan. Hanya saja pekerjaan menjadi pikulan hebat dalam pelukanku sekarang. Dia yang masih tetap terjaga dalam senjanya, dan aku yang masih terus terjaga dalam pikulan amanah.

Aku yang mulai bisa meluangkan waktuku untuk menemaninya lagi, menikmati senja kita. Tetapi kini waktu menjadi peran antagonis diantara kita, dia pergi untuk beberapa hal di negara tetangga. Aku mengangguk tanda mengiyakan kesibukan yang jelas akan membuatku rindu akan kehangatannya.

Masih jelas ku ingat,
dia melambaikan tangan di pintu airport dan berkata "will back as fast as possible, gonna miss you my lady", lalu menghilang dalam kerumunan. Sejak saat itu aku merasakan apa yang dirasakan ketika aku tak menemaninya menikmati senja. Indah, namun kosong.

Aku yang tak ada henti memberikan kabar dan beberapa jumlah foto yang kukirim melalui email, dan juga sebaliknya yang ia lakukan, suatu ketika tanpa aba-aba semuanya menghilang. Tanpa peringatan, tanpa kata pisah, dia menghilang ditelan jarak. Tak ada lagi balasan email darinya, tak ada lagi pesan suara atau video yang selalu rajin ia kirimkan. Layaknya terbangun dari mimpi indah, seperti berakhirnya panas bulan ini. Berakhir pula semua kehangatan dan kita.

Ini bukan akhir, dan aku tak akan berakhir.
Mungkin bukan dengan cara bertatap mata atau tidak berkata apa-apa, melainkan dengan hati kita saling bertukar doa, barangkali itulah rindu yang sesungguhnya.


Dimanapun kamu, semoga selalu dalam lindungannya. Jangan lupakan senja kita.