Kejadian ini terulang kembali, dimana disaat kita masih membagi hari bersama dengan cerita tawa. Dan untuk kesekian kalinya kau kembali. Menyembuhkan luka yang pernah kau beri, dan aku menerimamu kembali (lagi) seperti semua tak pernah terjadi.
Kamu menyentuh tanganku erat, memandang mataku lekat, dan menghadirkan bulir-bulir rindu yg telah lama terpendam, seakan kau merindukan dunia yang sejak dulu ingin kau raih. Kau tampak bergairah malam itu, ku sambut sentuhan tanganmu dengan senyum, kubalas pandangan matamu dalam-dalam, ada setitik sinar terang yg sempat pernah kulihat dulu tetapi entahlah harus kuartikan apa semua kejadian malam itu.
Aku terpaku, ada rindu yg mengguncang hebat, ada hasrat yg terpendam kuat dan ada banyak pertanyaan yg sejak tadi ingin ku tumpahkan. Aku merindukanmu, dan entah mengapa pertemuan ini membuat pipiku tak ingin merona merah seperti biasanya. Mungkin karna aku sudah terlalu kecewa, seandainya kau paham bahwa perasaanku terhadapmu dari awal bukan hanya perasaan sederhana seperti yang selalu kau bilang, sebatas hanya teman.
Hanya teman, mengapa begitu sakit ketika harus mengingat ucapanmu bahwa sampai detik ini kita masih saja hanya teman. Rasanya sangat perih apabila sampai saat ini kamu yg selalu bercerita kehidupanmu dan aku cuma mampu menjadi pendengar setiamu,bukan kekasihmu yang mampu mencapurkan dunianya di duniamu dan berusaha untuk merealisasikan semua itu.
Status kita memang hanya teman, dan mungkin akan tetap menjadi teman, namun yg kutahu aku merasakan sesuatu yg lebih darimu. Sebenarnya aku tahu bahwa kamu pun tak ingin hanya sekedar menjadi teman, kamu inginkan lebih bukan? Kemesraan di pesan singkat cukup membuatku mengerti kemana arah yg ingin kau lalui bersamaku, hanya saja kamu dan aku belum siap untuk memulai ke tahap itu.
Tingkahmu bervariasi terhadapku, memulai dengan sentuhan kecil di sela-sela jemariku, terkadang menyandarkan kepalamu dibahuku, membelai hangat permukaan pipiku dan terkadang kau mulai melingkarkan tanganmu dipinggangku. Tahukah kamu saat itu kita benar-benar seakan seperti......sepasang kekasih. Hanya saja, aku sedang berandai-andai kali ini.
Kali ini, akhir seperti apa yg akan kudapatkan darimu?
Apapun akhir cerita ini nanti, semoga tidak terlalu sakit ketika terjadi.
Monday, November 4, 2013
Thursday, October 31, 2013
Sebenarnya aku (tidak) ingin kamu pergi...
Untuk kesekian kalinya, kamu tiba-tiba menjauh tanpa alasan yang benar-benar tak kupahami.
Ini hari keempat setelah kamu benar-benar memutuskan untuk pergi, dan tak lagi berkomunikasi. Kabarmu yang hanya bisa kucuri-curi ketika aku penat merasakan jam pelajaran, ketika aku iseng membuka beranda akun twittermu, dan yang hanya mampu kudengar dari hasil bertanya kesana kesini.
Hari-hari kulalui begitu berat. Kita bertemu setiap hari, dan setiap hari pula kulihat sosokmu yang tak bisa kusentuh, tiap hari juga aku terus bisu dan harus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja tanpamu. Jujur, kalau kau mau tahu, aku tersiksa harus menjalani hari berpura-pura telah sukses move on. Terutama ketika berpapasan denganmu, ketika harus menerima kenyataan pahit bahwa kita telah berbeda. Kamu yang terlihat begitu menikmati kebebasanmu dan aku hanya sedang berpura-pura menerima kebebasanku. Kuterima semua lukamu dalam diam, kubalas semua sikap dinginmu tanpa banyak bersuara, dan kuhargai bisumu yang hanya bisa menimbulkan jutaan tanda tanya.
Apa lagi yang harus kulakukan, apakah aku harus bertahan seperti sebelum-sebelumnya? Menunggumu kembali dan menyakiti lagi?
Kularikan rasa pilu yang menggerogotiku ini kedalam sebuah tulisan, disana aku bisa menangis pilu tanpa harus membuat kedua telingamu tuli. Aku merindukanmu, tetapi rasanya perjuangaku sejauh ini hanya membuatmu bersikap arrogant dan selalu menganggapku hanya sebuah mainan. Kamu memang sudah terbiasa untuk berlari meninggalkanku, dan aku sudah sangat terbiasa untuk menerima lalu menunggumu kembali. Aku berusaha bertahan dan kuat, walaupun rasanya ini bodoh, tetapi entah mengapa aku tak ingin melupakan.
Kalau saja aku punya keberanian lebih, aku ingin menumpahkan satu persatu pertanyaan yang telah lama mengendap di jaringan saraf otakku.
Seberapa butakah matamu sehingga kamu tak pernah melihat semua perhatianku? Seberapa matinya perasaanmu hingga kau tak pernah sadar bahwa ada seseorang yang berjuang mati-matian untukmu? Dan mengapa kau sangat mudah mengakhiri sesuatu yang bahkan belum pernah kita mulai?
Entahlah kamu ini punya hati atau tidak, kamu tega sekali. Kamu pernah bilang bahwa semua rasaku ini tak bertepuk sebelah tangan, tetapi mengapa kali ini kata-katamu seakan menguap begitu saja.
Apa kamu tahu bagaimana rasanya menjadi aku, yang terus berjalan tanpa tahu apa yang dicari? Apa kamu tahu rasanya bertemu dengan orang yang kaucintai, setiap hari, namun kau harus bertingkah tak ada rasa, seakan kau sudah lupa, seakan semua hanya mimpi dan tak pernah tejadi? Dan apa kamu tahu bagaimana rasanya semua perngobananmu dibalas dengan dusta, berjanji menemui, namun kau hanya menunggu sesuatu yang tidak pasti, seperti hari ini?
Kita memang sudah berbeda
Ini hari keempat setelah kamu benar-benar memutuskan untuk pergi, dan tak lagi berkomunikasi. Kabarmu yang hanya bisa kucuri-curi ketika aku penat merasakan jam pelajaran, ketika aku iseng membuka beranda akun twittermu, dan yang hanya mampu kudengar dari hasil bertanya kesana kesini.
Hari-hari kulalui begitu berat. Kita bertemu setiap hari, dan setiap hari pula kulihat sosokmu yang tak bisa kusentuh, tiap hari juga aku terus bisu dan harus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja tanpamu. Jujur, kalau kau mau tahu, aku tersiksa harus menjalani hari berpura-pura telah sukses move on. Terutama ketika berpapasan denganmu, ketika harus menerima kenyataan pahit bahwa kita telah berbeda. Kamu yang terlihat begitu menikmati kebebasanmu dan aku hanya sedang berpura-pura menerima kebebasanku. Kuterima semua lukamu dalam diam, kubalas semua sikap dinginmu tanpa banyak bersuara, dan kuhargai bisumu yang hanya bisa menimbulkan jutaan tanda tanya.
Apa lagi yang harus kulakukan, apakah aku harus bertahan seperti sebelum-sebelumnya? Menunggumu kembali dan menyakiti lagi?
Kularikan rasa pilu yang menggerogotiku ini kedalam sebuah tulisan, disana aku bisa menangis pilu tanpa harus membuat kedua telingamu tuli. Aku merindukanmu, tetapi rasanya perjuangaku sejauh ini hanya membuatmu bersikap arrogant dan selalu menganggapku hanya sebuah mainan. Kamu memang sudah terbiasa untuk berlari meninggalkanku, dan aku sudah sangat terbiasa untuk menerima lalu menunggumu kembali. Aku berusaha bertahan dan kuat, walaupun rasanya ini bodoh, tetapi entah mengapa aku tak ingin melupakan.
Kalau saja aku punya keberanian lebih, aku ingin menumpahkan satu persatu pertanyaan yang telah lama mengendap di jaringan saraf otakku.
Seberapa butakah matamu sehingga kamu tak pernah melihat semua perhatianku? Seberapa matinya perasaanmu hingga kau tak pernah sadar bahwa ada seseorang yang berjuang mati-matian untukmu? Dan mengapa kau sangat mudah mengakhiri sesuatu yang bahkan belum pernah kita mulai?
Entahlah kamu ini punya hati atau tidak, kamu tega sekali. Kamu pernah bilang bahwa semua rasaku ini tak bertepuk sebelah tangan, tetapi mengapa kali ini kata-katamu seakan menguap begitu saja.
Apa kamu tahu bagaimana rasanya menjadi aku, yang terus berjalan tanpa tahu apa yang dicari? Apa kamu tahu rasanya bertemu dengan orang yang kaucintai, setiap hari, namun kau harus bertingkah tak ada rasa, seakan kau sudah lupa, seakan semua hanya mimpi dan tak pernah tejadi? Dan apa kamu tahu bagaimana rasanya semua perngobananmu dibalas dengan dusta, berjanji menemui, namun kau hanya menunggu sesuatu yang tidak pasti, seperti hari ini?
Kita memang sudah berbeda
dari perempuan
yang menunggu kehadiranmu sore ini
yang kau permainkan berkali-kali
Sunday, October 27, 2013
Game Over
"Ketika sore hari, ke menengadah ke langit dan ku lihat dirimu. Kau begitu indah dan dekat di pandanganku. Lalu inginku memegang dan meraih dirimu, namun dirimu terlalu jauh dari anganku. Kupikir, telah semakin dekat tanganku meraihmu. Tiba-tiba langit itu hilang dan hanya kekosongan yang terlihat. Aku menangis, dan takut untuk melihat ke arahmu lagi. Aku begitu sangat menyayangimu, tetapi tiba-tiba kamu hilang dengan sendirinya. Kemanakah kamu" - Jr
***
"Aku seakan mencari apa yang telah hilang, tanpa tau apa saja yang telah kutemukan. Aku terus berlari, tanpa terasa aku telah begitu banyak kehilangan. Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa aku telah kehilangan semua yang telah kutemukan. Tidak mungkin aku untuk mundur dan meminta semua kembali. Aku berjalan lurus tanpa tau harus berpegangan dengan apa dan siapa. Aku berjalan menembus galaksi, berlari melewati dimensi, meraung memecahkan sepi. Entah sejak kapan dirimu hadir disisi, aku merasakan setengah lukaku telah terobati. Hanya saja, kau lebih sering memungkiri bahwa semua ini hanyalah ilusi. Ku sadari memang pada nyatanya kapasitasku terhadapmu 'Hanya Teman', namun perasaanku kepadamu lebih dari sekedar teman. Berapa kali aku mengingkari 'Jika kau menyakiti lagi, aku akan pergi' yangtelah kubuat? Kini aku hanya ingin menjagamu dalam doa, mencintaimu dalam diam dan memelukmu dalam sepi. Entahlah sampai kapan semua akan seperti ini, tapi satu yg harus kau ketahui bahwa aku tak akan pernah berlari lagi. Biarkan aku tinggal dihatimu, disisimu, selama ku mampu..."
***
Hari ke 8, setelah ulang tahunmu ...
Entahlah menyikapimu ternyata terlalu sulit dari yang aku bayangkan sebelumnya. Kali ini aku menyerah untuk bertahan, aku terlalu lelah dengan semua abu-abu yang kau buat. Maafkan aku jika aku tak bisa terus berada di hatimu seperti yang pernah ku ucapkan, maafkan aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan. Aku memang egois, aku terlalu arrogant, dan aku yang selalu salah karena telah cemburu tanpa aturan. Kamu yang selalu benar, kamu memang telah dewasa.
Bagiku kamu terlalu susah untuk di jadikan nyata, kamu terlalu abu-abu, terlalu semu. Ya mungkin aku yang selalu memaksa dan kamu yang terpaksa. Sudahlah mungkin memang benar kita bukan disatukan di jalan yang sama. Kamu selalu berkata bahwa hubungan ini dijalani biasa aja, sewajarnya. Biasa seperti apa yang kamu mau? Kamu selalu memancingku untuk terus mencintaimu, lebih.
Sudahlah, aku keluar dari drama yang kau buat. Silahkan cari pemeran penggantiku, yang lebih segala-galanya dariku. Pesanku padamu, tolong jaga orang yang mencintaimu saat ini, jangan kau sia-siakan. Karena belum tentu cintamu akan terbalaskan oleh orang yang kamu sukai.
Aku jauh lebih ikhlas dari sebelumnya, kini aku yakin akan jalanku, tujuanku. Ternyata benar tujuanku bukanlah kamu. Semoga kamu bahagia dengan apa yang akan kamu dapati, dan temui. Aku akan selalu berdoa dan menyebutkan namamu. Tuhan tidak pernah tidur, beliau tau mana yang terbaik untukku bahkan dirimu.
Oyasuminasai Chan, terima kasih untuk semuanya. Sukidayo :)
Friday, October 25, 2013
Stay close, Dont go. Can you?
Aku takut untuk mengetahui kenyataan yang ada, walaupun tatapan hangat itu, jemari tanganmu, semua janji manismu hanya menjadi dongeng yang takkan pernah menyentuh cerita akhir.Aku sadar aku terlalu egois, dan membuatmu enggan untuk disini bersamaku, lagi. Dentingan jam dinding berdetak memecahkan tangisku. Hari bergulir begitu jahat, hingga sentuhan lembutmu tak terasa lagi oleh indraku. Tak ada tatapan hangat, tak ada lagi senyuman, dan tak ada lagi perhatian.
Aku percaya akan semua janjimu, aku percaya semua ini akan berevolusi dan menyentuh cerita yang pernah kuimpikan. Aku mempercayai semua keajaiban pada pertemuan kita. Jiwa dan darahku mengalir bersama kehadiranmu, perlahan mengisi semua sudut kosong dihatiku, lalu entah mengapa kini menguap begitu saja.
Kenapa harus aku? Apakah aku salah jika aku inginkan kamu untuk mengobati luka dan menghapus tangisku?
Ada decak bahagia ketika ceritamu memunculkan perhatianku, ada ketulusan yang ku tangkap dari setiap janji manismu, dan kehangatan yang terasa ketika kita sedang bersama. Sungguh tidak ada reakayasa ataupun kebohongan. Tetapi mengapa sekarang kamu berbeda? Mengapa sekarang seakan aku tertipu oleh semua tingkahmu? Mengapa otakku berevolusi menjadi buruk akanmu? Mengapa semua terjadi begitu cepat sedangkan luka lama ini belum sembuh, air mata ini pun belum mengering? Katakan, mengapa?
Aku minta maaf kalau memang rasa cemburuku ini berlebihan, tapi aku hanya ingin kamu menghargai untuk semua yang terlah aku pertahankan selama ini. Aku hanya ingin, sesekali kamu melihatku. Melihat semua yang sedang aku rasakan, dan kamu terhayut di dalamnya. Aku bertahan sejauh ini karenamu, entah alasan apa yang harus ku tulis agar kamu tau bahwa kamu begitu berarti untukku. Kamu melarangku untuk memprioritaskanmu sebagai yang utama, tapi mengapa rayuanmu selalu berapi-api dan mengajakku ke langit paling tinggi. Hanya karena rasaku yang terlalu untukmu, kamu rela meninggalkanku dengan semua janji manismu?
Aku percaya akan semua janjimu, aku percaya semua ini akan berevolusi dan menyentuh cerita yang pernah kuimpikan. Aku mempercayai semua keajaiban pada pertemuan kita. Jiwa dan darahku mengalir bersama kehadiranmu, perlahan mengisi semua sudut kosong dihatiku, lalu entah mengapa kini menguap begitu saja.
Kenapa harus aku? Apakah aku salah jika aku inginkan kamu untuk mengobati luka dan menghapus tangisku?
Ada decak bahagia ketika ceritamu memunculkan perhatianku, ada ketulusan yang ku tangkap dari setiap janji manismu, dan kehangatan yang terasa ketika kita sedang bersama. Sungguh tidak ada reakayasa ataupun kebohongan. Tetapi mengapa sekarang kamu berbeda? Mengapa sekarang seakan aku tertipu oleh semua tingkahmu? Mengapa otakku berevolusi menjadi buruk akanmu? Mengapa semua terjadi begitu cepat sedangkan luka lama ini belum sembuh, air mata ini pun belum mengering? Katakan, mengapa?
Aku minta maaf kalau memang rasa cemburuku ini berlebihan, tapi aku hanya ingin kamu menghargai untuk semua yang terlah aku pertahankan selama ini. Aku hanya ingin, sesekali kamu melihatku. Melihat semua yang sedang aku rasakan, dan kamu terhayut di dalamnya. Aku bertahan sejauh ini karenamu, entah alasan apa yang harus ku tulis agar kamu tau bahwa kamu begitu berarti untukku. Kamu melarangku untuk memprioritaskanmu sebagai yang utama, tapi mengapa rayuanmu selalu berapi-api dan mengajakku ke langit paling tinggi. Hanya karena rasaku yang terlalu untukmu, kamu rela meninggalkanku dengan semua janji manismu?
Kamu selalu berkata, I will stand to be yours.
Kamu selalu ucapkan, You are my happiness, not her.
Kamu selalu meyakinkan bahwa, Jika aku tak menyayangimu, mungkin sekarang aku telah menyesal bersamamu, tapi untuk ini aku tak pernah menyesal, aku bahagia.
Berapa kali aku harus merasakan melambung terbang tinggi, lalu terjatuh dan kau pun lari. Tak kudapati bahagia di semestamu, tapi entah mengapa aku tak sanggup lepas dari jeratanmu. Aku terlampau lumrah dengan semua sikapmu.
Aku mungkin terlalu sering disakiti, mungkin itu sebabnya perasaanku mati. Bahkan berkali-kali kamu melakukannya, aku hanya sanggup berdiam diri. Betapapun kamu mengerti, bahwa aku telah menyakiti diriku sendiri, dan rela membunuh diriku sendiri hanya untuk membuatmu hidup dan bernapas lagi.
Thursday, October 24, 2013
Perpisahan?
"Ketika Tuhan mengambil mempertemukan kita dengan seseorang, maka pastilah suatu hari nanti Tuhan akan mengambilnya kembali. Dan Tuhan akan menggantinya dengan seseorang baru yang suatu saat akan mencintaimu dan lebih kau cinta"
Mataku telah sembab menangisimu seharian ini, entahlah padahal aku telah memperingatkan hatiku jauh-jauh hari untuk tidak menangis ketika hal ini terjadi lagi terhadapku. Inikah perpisahan? Disaat kita belum siap untuk kehilangan seseorang, disaat kita sedang mencintainya, disaat kita masih sangat membutuhkannya dalam banyak hal?
Kali ini kemungkinan terburuk adalah kehilangan dia untuk sementara atau selamanya.
Aku sadar, setiap pertemuan pastilah ada perpisahan. Setiap pertemuan menghasilan rasa, dan padamu hal ini terjadi. Kenyataan dari pertemuan adalah kata selamat tinggal yang belum terucap, entah bisakah kali ini ku sebut ini dengan perpisahan? Ketika ego mengelabui otak dan fikiran?
Entahlah kata-kata apa yang harus kuucap agar kau tau dan ikut merasakan apa yang sedang ku rasakan. Aku tulus, dan aku hanya cemburu. Aku memang bukan satu-satunya yang kau ingin kan, karena itu kamu tak pernah mau ikut serta merasakan apa yang tengah aku rasakan. Bicaralah aku harus bagaimana? Jangan memposisikan diriku di tempat yang selalu salah. Bisakah kita perbaiki semuanya? Bisakah kita seperti kemarin saat kesalah pahaman tidak merusak hubungan 'Hanya Teman' kita ini?
It's always been you Chan, apologize ...
Saturday, October 19, 2013
Today is your day ...
"Terkadang kita diberi sekali lagi kesempatan untuk merasakan jatuh cinta untuk merasakan patah hati berkali-kali pada orang yang sama"
Selamat ulang tahun Chan.
Kali ini aku tidak akan bercerita tentang apa yang telah membuatku bertahan untuk tetap menunggu tanpa kepastian disini, seorang diri. Karena memang pada awalnya aku tidak pernah meminta atau bahkan memilih kamu untuk menjadi sosok yang berevolusi begitu cepat untuk menjadi sosok yang diharapkan untuk hadir. Menjadi sosok yang begitu absurd, menjatuhkan warna merah muda hingga abu,dan membuatku sedikit menaruh harap akan ketidak jelasan diantara kita ini.
Sosokmu berevolusi semakin kental di nadiku, menjalar lalu menusuk setiap rongga di tubuhmu. Otakku tak kuasa untuk merekam setiap inci pergerakanmu, termasuk senyum jailmu. Sikap kekanak-kanakanmu yang terkadang membuatku bosan, egomu yang terkadang tak mampu ku nalar, dan keseriusanmu yang kadang membuatku lupa diri.
Kamu adalah kamu, bukan dia ataupun mereka. Aku tak memiliki satu alasan pun mengapa aku tak bisa menahan diri untuk tidak menyayangimu, atau bahkan untuk tidak melambung ketika rayuanmu menggelitik kalbu. Aku tau kamu memang pintar dalam hal merayu, melambungkan hati seorang wanita lalu entah karena suatu alasan apa kamu menjatuhkannya begitu saja. Mungkin aku bukan seorang yang penyabar, tapi aku sadar bahwa aku telah banyak belajar arti dari sabar akan semua luka yang mencecar.
October 19, 2013
Omedetou Tanjoubi desu,Chan.
Sunday, September 1, 2013
It's always been you ...
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang tengah berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya"
Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang seorang wanita, yang jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya membuat pilihan diantara dua pilihan yang berat itu tak semudah yang mereka ucap, dan yang terjadi hanyalah sebuah luka disetiap cerita. Sederhana, semua terjadi tanpa tau sejak kapan dan mengapa. Dan sebenarnya yang ku butuhkan bukan jawaban, karena aku takut kamu bukan jawaban yang ku harapkan.
Setelah sekian lama tak merasakan perasaan ini, sekalinya merasakan kenapa harus sesakit ini. Mengingatnya sebagai adalah sahabatku, Apa di dunia ini tidak ada wanita dan pria yang bisa bersahabat?
Sedangkan dia sekalipun tak pernah mengeluarkan pujian terhadapku, yang ku tau dia hanya menyukai temanku lainnya. Bukan aku.
Apa hakku? Aku tak bisa memaksakannya untuk menyukaiku, yang bisa kulakukan hanyalah merlakan dan mungkin berharap supaya dia bahagia dengan lainnya. Ternyata memang benar, jatuh cinta itu dihadapkan dengan dua kemungkinan. Berani jujur ata berani melihat dia dengan orang lain?
Terkadang kenyataan tak sejalan dengan semua yang kita inginkan. Sekuat apapun kita berusaha merelakan dan bermaksut melupakan, yang terjadi malah dia berevolusi menjadi seseorang yang sangat penting. Dia, sosok yang telah lama merasuk melayang-layang disetiap sudut ingatanku. Tetapi nyatanya dia menolak semua perhatian dariku, dan itu bukan yang pertama ataupun kedua. Tetapi bukankah kita harus berani memilih dan mempertahankan apa yang kita inginkan? Dan aku memilih untuk bertahan, ya mempertahankan bahkan menunggu seseorang yang bahkan mungkin tak pernah sedikit pun menoleh padaku.
Bagiku cinta tak harus memiliki, semua orang bebas untuk merasakannya, dan menyimpannya. Aku terlalu takut untuk resikonya, dan ku biarkan semuanya mengalir seperti angin. Melewati beribu-ribu jarak, beribu-ribu hari, membawa ruang kosong dan singgah dihatiku. Perasaan sayang ini telah ku titipkan pada angin lalu, berharap rasa ini ikut lenyap terbawa olehnya. Tetapi entahlah, masih ada sehela harapan masa depan bersamamu.
Aku masih ingat hangat jemari tanganmu menyentuh pipiku, masih jelas terasa jarimu mengisi seluruh sela dijemariku, masih jelas terdengar semangatmu di nadiku yang sanggup membawakan getar hidup yang telah sirna kini bersamamu. Semuanya mengalir tanpa tahu sejak kapan aku merasakan ini, entah aku hanya benci ketika dia dengan seorang wanita selainku. Seperti halnya harapan yang hampir hilang, sebuah kisah yang bahkan nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan ini sendiri.
Kali ini apakah kesakitan itu lagi yang akan kau tunjukkan? Apakah hanya cerita sesaat yang akan kau berikan? Sekali lagi kau hadir dengan seluruh harapan yang dulu sempat singgah, akankah kali ini kau berusaha dewasa? Bertanggung jawab dengan apa yang telah kau tuai?
Aku takut harapan yang kau berikan seperti pelangi - yang selalu terlihat indah dengan goresan 7 warna, tetapi semua hanya Ilusi?
Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang seorang wanita, yang jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya membuat pilihan diantara dua pilihan yang berat itu tak semudah yang mereka ucap, dan yang terjadi hanyalah sebuah luka disetiap cerita. Sederhana, semua terjadi tanpa tau sejak kapan dan mengapa. Dan sebenarnya yang ku butuhkan bukan jawaban, karena aku takut kamu bukan jawaban yang ku harapkan.
Setelah sekian lama tak merasakan perasaan ini, sekalinya merasakan kenapa harus sesakit ini. Mengingatnya sebagai adalah sahabatku, Apa di dunia ini tidak ada wanita dan pria yang bisa bersahabat?
Sedangkan dia sekalipun tak pernah mengeluarkan pujian terhadapku, yang ku tau dia hanya menyukai temanku lainnya. Bukan aku.
Apa hakku? Aku tak bisa memaksakannya untuk menyukaiku, yang bisa kulakukan hanyalah merlakan dan mungkin berharap supaya dia bahagia dengan lainnya. Ternyata memang benar, jatuh cinta itu dihadapkan dengan dua kemungkinan. Berani jujur ata berani melihat dia dengan orang lain?
Terkadang kenyataan tak sejalan dengan semua yang kita inginkan. Sekuat apapun kita berusaha merelakan dan bermaksut melupakan, yang terjadi malah dia berevolusi menjadi seseorang yang sangat penting. Dia, sosok yang telah lama merasuk melayang-layang disetiap sudut ingatanku. Tetapi nyatanya dia menolak semua perhatian dariku, dan itu bukan yang pertama ataupun kedua. Tetapi bukankah kita harus berani memilih dan mempertahankan apa yang kita inginkan? Dan aku memilih untuk bertahan, ya mempertahankan bahkan menunggu seseorang yang bahkan mungkin tak pernah sedikit pun menoleh padaku.
Bagiku cinta tak harus memiliki, semua orang bebas untuk merasakannya, dan menyimpannya. Aku terlalu takut untuk resikonya, dan ku biarkan semuanya mengalir seperti angin. Melewati beribu-ribu jarak, beribu-ribu hari, membawa ruang kosong dan singgah dihatiku. Perasaan sayang ini telah ku titipkan pada angin lalu, berharap rasa ini ikut lenyap terbawa olehnya. Tetapi entahlah, masih ada sehela harapan masa depan bersamamu.
Aku masih ingat hangat jemari tanganmu menyentuh pipiku, masih jelas terasa jarimu mengisi seluruh sela dijemariku, masih jelas terdengar semangatmu di nadiku yang sanggup membawakan getar hidup yang telah sirna kini bersamamu. Semuanya mengalir tanpa tahu sejak kapan aku merasakan ini, entah aku hanya benci ketika dia dengan seorang wanita selainku. Seperti halnya harapan yang hampir hilang, sebuah kisah yang bahkan nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan ini sendiri.
Kali ini apakah kesakitan itu lagi yang akan kau tunjukkan? Apakah hanya cerita sesaat yang akan kau berikan? Sekali lagi kau hadir dengan seluruh harapan yang dulu sempat singgah, akankah kali ini kau berusaha dewasa? Bertanggung jawab dengan apa yang telah kau tuai?
Aku takut harapan yang kau berikan seperti pelangi - yang selalu terlihat indah dengan goresan 7 warna, tetapi semua hanya Ilusi?
"Terkadang kita membutuhkan waktu utnuk menunggu lebih lama, untuk bertemu dengan orang yang kita sayang"
Subscribe to:
Posts (Atom)