Saturday, June 4, 2016

Good enough .


I am the diamond you left in the dust 
I am the future you lost in the past 
Seems like I never compared 
Wouldn't notice if I disappeared

You stole the love that I saved for myself 
And I watched you give it to somebody else 
But these scars no longer I hide 
I found the light you shut inside 
Couldn't love me if you tried 

Am I still not good enough? 
Am I still not worth that much? 
I'm sorry for the way my life turned out 
Sorry for the smile I'm wearing now 
Guess I'm still not good enough 

Does it burn 
Knowing I used all the pain? 
Does it hurt 
Knowing you're fuel to my flame? 
Don't look back 
Don't need your regrets 
Thank God you left my love behind 
Couldn't change me if you tried


Am I still not good enough? 
Am I still not worth that much? 
I'm sorry for the way my life turned out 
Sorry for the smile I'm wearing now 
Guess I'm still not good enough


Release your curse 
'Cause I know my worth 
Those wounds you made are gone 
You ain't seen nothing yet 
Your love wore thin 
And I never win 
You want the best 
So sorry that's clearly not me 
This is all I can be

Monday, May 30, 2016

Berpisah .


Kau tidak salah atas apapun, termasuk perpisahan kita. 

Untuk kesekian kalinya,
kehilanganmu menjadikan sesak yang paling menyakitkan dalam rongga dada setiap sesekali ku mencoba tuk bernafas lega. Mengingat kenangan akan kita, menjadikan suatu bumerang yang mampu merobohkan benteng pertahanan dalam jiwa. Entahlah. Merelakanmu menjadi satu-satunya usaha yang kerap sia-sia kulakukan.

Aku tak berharap kau mengetahui semua kesakitan akan menahan rindu yang kulalui setelah pergimu.
Hanya saja, kuakui dalam hati kecilku selalu memanggil namamu. Mengeja-eja namamu dalam ingatanku, dan selalu berharap perpisahan ini hanya mimpi buruk yang akan menghilang ketika ku membuka mata pagi nanti.  Ah, aku benci merasakan hal seperti ini. Menerka-nerka setiap kejadian bahagia yang akan kau lalui tanpaku nanti, dan bertanya-tanya siapakah wanita yang akan menggantikan posisiku nanti. Kadang rasa penasaranku adalah penyebab air mataku. Namun siapakah aku kini di hidupmu hingga bisa seenaknya tuk melarangmu?

Ternyata perpisahan ini tak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Ketika kau masih belum terlalu kental dalam ingatan dan harapan. Barangkali memang benar, bukan aku orang yang tepat yang sanggup membuatmu ingin berjuang atas kita. Overall, mungkin memang bukan aku yang menjadi sebagian dari masa depan yang selalu kau janjikan.

Sudahlah, mungkin sudah saatnya ku untuk menyerah. Siapapun dia yang akan menyanding posisiku dihatimu, semoga dia adalah wanita yang membuatmu untuk berhenti mencari, yang selalu membuatmu ingin berjuang dan seseorang yang jauh lebih sabar terhadapmu. Tolong sampaikan padanya, aku titip doa, cinta dan kerinduan. Semoga tidak ada lagi gagal sepertiku dalam membahagiakan dan memperjuangkanmu.


Yang terkenang,
luka lamamu.

Sunday, May 22, 2016

Selesai.


           Kau tiba-tiba menjadi suatu semesta kesayangan, yang mengajarkanku tentang sebuah kerinduan yang hanya bisa kita rasakan tanpa bisa kita ungkapkan dimasanya. Aku masih terus berdoa semoga ini bukan suatu kenyataan, kau menghilang tanpa meninggalkan bayang, hanya memori yang menjelma suatu kenangan.

Masih terus kuingat ucapmu sore itu, "Hidup hanyalah kumpulan suatu kehilangan dan ingatan ialah sebuah rumah dengan halaman yang selalu basah".

Kutemukan potongan lukamu dalam kehilanganku diatas kebodohanku sendiri. Sakit menahan setiap rindu yang tak kunjung temu. Kini ku hanya bisa mengingat kenangan basah, merindukan seseorang yang telah terlanjur jauh, seseorang yang dahulu terlalu dekat hingga tak terlihat.

Bodoh. Mungkin itu adalah salah satu dari sekian juta kata yang ingin kau umpat didepan wajahku. Jangan berbohong, karena kau bukan pria yang pandai membohongiku. Masih terkenang dalam ingatan, kau dan semua tingkah lakumu. Bagaimana bisa kau tak terlihat padahal kau selalu dekat?

Kau, seseorang yang rela menerjang hujan hanya untuk membawaku pergi dari pria aneh yang menculikku hingga ke tengah lautan pasir gunung Bromo. Tak ada satupun kata yang bisa kuucapkan, hanya pelukan hangat yang sempat kau sematkan untuk menghentikan tangisan.

"Menangislah sesukamu. Ada aku yang akan selalu melindungimu, terserah kau melihatku atau tidak, tetapi yang harus kau tahu bahwa ku akan selalu ada. Dia telah pergi, dan kau boleh berhenti. Tersenyumlah ku mohon", ucapnya melegakan.

Mungkin tidak terlalu banyak hari yang kita lewati bersama, namun terlalu banyak kenangan yang kau torehkan dalam kehidupan.

Ada sesuatu yang jika memang telah usai, maka demikianlah, tidak ada pula yang dapat dilakukannya, selain menerimanya dengan lapang dada. Lalu jika dengan perpisahan seperti ini adalah caramu untuk berhenti mencintai, aku bisa coba mengerti dan memilikimu dalam sebuah pergi.

Pulanglah.
Ceritamu telah selesai. Maafkan semua peran jahatku dalam skenario kehidupanmu. Pergilah, dan biarkan ingatan itu selalu basah. Semoga kita berjumpa dalam rindu yang sama.

---

Wonogiri, May 22th, 2016
Rest in peace, Rudi Teguh S

Friday, May 6, 2016

Janji.


Barangkali kita semua adalah suatu andai yang sedang berjuang. Memang tidak semua perjuangan ini akan membuahkan akhir bahagia, tetapi setidaknya kita telah mencoba. Tidak melarikan diri. Seperti kamu yang hanya sanggup untuk berjanji tanpa memperjuangkan semua kemungkinan yang selalu ku semogakan. Sesungguhnya aku enggan tuk menyinggung terlalu dalam soal janji, apa pun itu yang dulunya sempat kau puji tanpa realisasi. 

Janji? 
Aku gerah mendengar pria sepertimu mengumbar janji. Bagiku janji hanyalah kalimat tak pasti, yang tak sedikitpun tak tercampur oleh katahati, yang akan berujung basa-basi dan tentunya janji juga bukan hal yg pantas untuk ku seriusi sejauh ini. 

Menyesal? Karena memilihmu? 
Tidak, sama sekali tidak. Aku lebih dari bersyukur bisa mengenal dan membiarkanmu campur tangan akan cerita hidupku. Walau pada akhirnya nanti kita tidak bisa satu atap rumah, setidaknya nanti akan ada bagian yang kau ceritakan kepada anak-anakmu tentang aku. Dan melalui senyum itu aku tahu, bahwa masih ada aku dalam hatimu. 

Kamu akan selalu menjadi bagian dari doaku, walau tak sekental dulu, setidaknya masih kusebut satu persatu namamu dalam ribuan doa yang ku panjatkan tanpa rasa ragu. 

Kita,
Semoga.

---

ps : not everything i write is me and not everything you read is you. #fiction

Thursday, January 7, 2016

Senja dan Kamu.


Wannsee Lake, Berlin, Germany.

Maka bagiku kau sama saja. Menari dalam cahaya terang, bersinar dengan indah dan menyilaukan, hanya untuk membutakan. - Manuel


Merindukannya?

sudah bukan menjadi mungkin, melainkan pasti. Hanya saja aku masih belum mengerti, rindu apa yang bersarang pada hati ini. Aku tak memilih untuk pergi, karena ku yakin suatu saat dia akan kembali dan memperbaiki semua yang telah terjadi.

Awalnya musim panas di Berlin selalu muram, dan tak menyenangkan. Lalu kau datang menorehkan senyuman indah yang selalu kuingat dengan senja. Ketika saat itu ku sadar, aku selalu menantikan detik menit melambat yang menyalurkan perasaan hangat dari matanya. Menikmati menghilangnya senja dengan debaran angin yang menerbangkan setiap helai rambutku, menikmati rasa hangat yang menjalar kesekujur tubuhku karena kehadirannya, menyenangkan.

Wannsee,

kita selalu berjanji ditepi hati untuk berlari ke tempat ini. Hari terus berganti, dan sosoknya masih setia menemani tuk menikmati senja yang akan selalu sama. Senja kita, begitu selalu ucapnya. Dan karenanya, kini musim panas di Berlin terasa begitu hangat dan indah untukku.

Hari berganti bulan. Aku kehilangan setiap momen indah untuk menghampirinya di tepi senja. Tidak, aku tidak berniat meninggalkan. Hanya saja pekerjaan menjadi pikulan hebat dalam pelukanku sekarang. Dia yang masih tetap terjaga dalam senjanya, dan aku yang masih terus terjaga dalam pikulan amanah.

Aku yang mulai bisa meluangkan waktuku untuk menemaninya lagi, menikmati senja kita. Tetapi kini waktu menjadi peran antagonis diantara kita, dia pergi untuk beberapa hal di negara tetangga. Aku mengangguk tanda mengiyakan kesibukan yang jelas akan membuatku rindu akan kehangatannya.

Masih jelas ku ingat,
dia melambaikan tangan di pintu airport dan berkata "will back as fast as possible, gonna miss you my lady", lalu menghilang dalam kerumunan. Sejak saat itu aku merasakan apa yang dirasakan ketika aku tak menemaninya menikmati senja. Indah, namun kosong.

Aku yang tak ada henti memberikan kabar dan beberapa jumlah foto yang kukirim melalui email, dan juga sebaliknya yang ia lakukan, suatu ketika tanpa aba-aba semuanya menghilang. Tanpa peringatan, tanpa kata pisah, dia menghilang ditelan jarak. Tak ada lagi balasan email darinya, tak ada lagi pesan suara atau video yang selalu rajin ia kirimkan. Layaknya terbangun dari mimpi indah, seperti berakhirnya panas bulan ini. Berakhir pula semua kehangatan dan kita.

Ini bukan akhir, dan aku tak akan berakhir.
Mungkin bukan dengan cara bertatap mata atau tidak berkata apa-apa, melainkan dengan hati kita saling bertukar doa, barangkali itulah rindu yang sesungguhnya.


Dimanapun kamu, semoga selalu dalam lindungannya. Jangan lupakan senja kita.

Sunday, December 13, 2015

Waiting for .


The way sadness works is one of strangest riddles of the world.
---

Menunggu?
Sungguh ini bukan suatu pekara yang mudah. Sejak saat itu menunggu bagiku adalah hal yang paling memuakkan. Dikala apa yang ditunggu itu sulit untuk ditunggu, lalu kapankah penantian ini berujung dan berakhir indah?

           Sama seperti daun jatuh yang tidak pernah membenci keadaan, mengikhlaskan semua kejadian dan membiarkan dirinya jatuh dipermukaan. Bagaimana bisa melawan? Jika dengan menerima keadaan saja sudah menjadi hal paling layak untuknya. Hanya perlu memaafkan dan menerima keadaan, walau dengan kejadian sedih yang menyakitkan.

Ada kalanya kita perlu menerima semua kenyataan bahwa ada orang yang di ciptakan untuk ada hanya di dalam hati kita, bukan di dalam hati kita. Seperti kamu yang selalu membuatku memaafkan seluruh hal yang mungkin wanita lain tidak bisa, tetapi aku bisa. Kamu yang selalu membuatku rindu dan kamu yang membuatku selalu percaya bahwa suatu hari nanti akan hadir sejengkal didepan penglihatan, kembali lalu menetap dalam hati.

            Lekaslah kembali dengan pemikiran serta hati yang telah bersedia menjadi lebih baik. Tak perlu utuh. Karena aku sendiri akan membantumu untuk membuatnya kembali utuh dan lebih baik dari ini. Ambil semua yang kau butuhkan, tapi jangan cabut semua rasa yang kurasakan. Bisakah?

Hari berganti hari, dan aku seperti menunggu tanpa tau apa yang sedang kutunggu. Seperti ingin pergi tanpa tau apa yang harus di tinggalkan. Berdiri di tengah-tengah kondisi yang tidak memberikan kepastian dan perlahan-lahan tersakiti oleh kesunyian. 

Seperti hujan malam ini, kenanganmu jatuh satu persatu ke permukaan, memaksaku untuk menikmatimu dalam balutan kesunyian. Hujan, bukankah kita pernah menikmatinya bersama? Kamu selalu berkata bahwa hujan selalu indah walaupun ada yang selalu indah setelah hujan reda. Memang indah, tidak ada yang salah dengan hujan. Hanya saja hujan selalu membawa kembali bayangmu dalam ingatanku, datang dan kembali tanpa tau bagaimana untuk menghentikannya.

           Mungkin memang benar bahwa sebenarnya pilihan terbaik dalam hidup adalah menerima semua kenyataan. Kenyataan bahwa sekarang bumi sedang berputar dan aku tidak bisa melihat bintang dalam kegelapan malam. Dan seperti halnya semua pertanyaan yang selalu beriringan dengan jawaban, untuk menemukan keduanya, kita membutuhkan waktu. Mungkin sekali lagi waktulah yang menjadi peran utama dalam tragedi penantian tak berujung ini.

Seseorang berkata padaku bahwa :
" Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka ia akan bisa melupakan, dan hidup bahagia. Tetapi jika ia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."
Tere Liye -Hujan.

Friday, November 20, 2015

Hujan Rindu.



Kita pernah sama-sama berbagi cerita hingga akhirnya kita (hanya) menjadi cerita tanpa akhir bahagia. 

---


Dibawah langit ibukota, Indonesia
Hari ini senja dan hujan sedang bernostalgia.

Aku menatap setiap tetes hujan dari dalam mobil, mengerjap-kerjap memohon agar kali ini aku terbebas akan semua kesedihan yang selalu terjadi ketika hujan tiba.

Hujan memutar kembali semua ingatanku akan sosokmu. Pria pertama yang kutemui di depan pinggir jalan ketika guyuran air dalam kubangan dilewati oleh mobil super cepat yang hendak menyerangku. Dia Alfa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ternama di Jakarta.

Sejak saat itu Alfa selalu meluangkan waktu untuk selalu menemuiku. Aku memang tidak sedang melanjutkan studi di Jakarta, hanya ingin singgah beberapa hari untuk suatu perihal. Dan mungkin Alfa menjadi salah satu alasanku untuk memperlama persinggahanku di kota ini.

Hujan.
Dia selalu berkata bahwa hujan adalah salah satu hal yang paling disukainya. Aku selalu menyebutnya pecandu hujan, dan dia selalu menyebutku perindu senja. Sama seperti hujan hari ini, aku masih merasakan aliran air hujan yang dingin ini membasahi ingatanku, memaksaku tuk terus mengingat semuanya. Biarkan ku mengingatmu sekali lagi, mengingat semua perilaku manismu yang mungkin sudah tak bisa kita ulangi lagi.

Dan lagi kenangan ini membawaku kepadamu.
Aku mengaduk-aduk isi hatiku, mengingat akan hal yang paling ku benci, tentang perpisahan. Aku sadar bahwa kita bukan siapa-siapa, hanya dua anak manusia yang bertemu di persimpangan jalan yang menjalin pertemanan baik. Maka seharusnya jarak ini tak mengartikan apa-apa untuk kita. Namun perpindahan keluargaku ke luar negeri saat itu diluar kehendakku. Jika ku bisa memilih aku akan memilih menetap di Jakarta.

Alfa berlari mengejar waktu, meminta semua penjelasan dan kejelasan atas semua ketidak adilan ini. Marah, kecewa dan benci terpapar jelas dalam raut wajahnya. Ada sorot kesedihan yang tersirat dalam sorot matanya. Aku menangis.

"Jaga hatiku baik-baik. Aku sangat teramat menyayangimu. Cepat kembali, untukku." ucapnya lalu memelukku.

Tiga tahun berlalu.

Dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, merencankan suatu kejutan untuk Alfa. Selama ini memang komunikasi kita baik-baik saja, hanya sibuk wajar yang dia utarakan. Ku berjalan menuju apartement tempat dia tinggal. Kosong. Tidak berpenghuni. Ada beberapa potongan pakaian yang berserakan di lantai, kemeja, celana dan pakaian wanita. Entah saat itu benar-benar denyut nadiku seakan berhenti.

Perlahan ku bergerak menjauhi tempat itu sampai akhirnya tanpa sengaja ku menjatuhkan vas diatas meja samping pintu. Terdengar suara pria berjalan dari dalam ruang kamar, dan aku berlari keluar. Pria itu mengejarku dengan pakaian seadanya. Aku berlari sempoyongan, pikiranku berantakan.

"Berhenti! Jangan lari, jangan pergi lagi. Tetap disitu, aku tak akan menyakitimu." ucapnya tegas.

Aku berhenti menahan semua rasa sakit itu dan memberanikan diri menatap kedua mata pria yang tiga tahun ini bersarang didalam hati dan membuat rindu. Alfa. Ya pria itu memang Alfa, pria yang pernah kucintai dengan sepenuh hati namun kini semua tak ada arti lagi.

"Biar ku jelaskan apa yang kau lihat tadi. Ini semua tak seperti yang kau pikirkan." ucapnya.

Aku hanya bisa tersenyum lalu berbalik meninggalkannya. Meninggalkan semua kenangan yang pernah ada bersamanya.

Pria itu berlari dan memelukku.

"Mengapa ini begitu lama? Aku menunggumu. Bisakah kau menetap untuk kali ini, untukku?" 

Satu persatu air mataku berjatuhan. Aku melepaskan pelukan yang sebelumnya memang kuharapkan setelah ku menemuinya. Ku beranikan diri menatapnya.

"Aku memang berniat untuk kembali. Tapi aku salah, aku tidak kembali untukmu. Setelah semua yang kulihat pagi ini di apartementmu. Bagaimana bisa kau berkata untuk ku menjaga hati bahwa kau sendiri tidak? Im dones with this bullshit Alfa, let me go." ucapku.

Entah setelah itu aku berjalan menjauh darinya, samar ku dengar beberapa potong kata yang dia ucapkan. Ya dia tak lagi mengejarku. Ku dengar ada suara wanita mendekatinya. Entah ku tak melihatnya, ku menghambur keluar, melajukan mobil dengan pesat.

Aku kembali ke tempat dimana Alfa pernah membawaku menikmati senja sore itu.

---

Untukmu yang tak tahu menahu tentang hatiku.
Kau adalah senjaku. Gabungan setiap warna jingga yang tak akan pernah lagi kulihat. Keindahanmu akan selalu ada walau tak kasat mata. Aku tak menyesal, hanya kini pagiku telah datang. Pagi yang cerah tanpa hujan. Alfa, terima kasih untuk semua kenangan indah. 
 - D