Sunday, September 1, 2013

It's always been you ...

"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang tengah berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya"

          Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang seorang wanita, yang jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya membuat pilihan diantara dua pilihan yang berat itu tak semudah yang mereka ucap, dan yang terjadi hanyalah sebuah luka disetiap cerita. Sederhana, semua terjadi tanpa tau sejak kapan dan mengapa. Dan sebenarnya yang ku butuhkan bukan jawaban, karena aku takut kamu bukan jawaban yang ku harapkan.

Setelah sekian lama tak merasakan perasaan ini, sekalinya merasakan kenapa harus sesakit ini. Mengingatnya sebagai adalah sahabatku, Apa di dunia ini tidak ada wanita dan pria yang bisa bersahabat? 
         Sedangkan dia sekalipun tak pernah mengeluarkan pujian terhadapku, yang ku tau dia hanya menyukai temanku lainnya. Bukan aku.
Apa hakku? Aku tak bisa memaksakannya untuk menyukaiku, yang bisa kulakukan hanyalah merlakan dan mungkin berharap supaya dia bahagia dengan lainnya. Ternyata memang benar, jatuh cinta itu dihadapkan dengan dua kemungkinan. Berani jujur ata berani melihat dia dengan orang lain?

         Terkadang kenyataan tak sejalan dengan semua yang kita inginkan. Sekuat apapun kita berusaha merelakan dan bermaksut melupakan, yang terjadi malah dia berevolusi menjadi seseorang yang sangat penting. Dia, sosok yang telah lama merasuk melayang-layang disetiap sudut ingatanku. Tetapi nyatanya dia menolak semua perhatian dariku, dan itu bukan yang pertama ataupun kedua. Tetapi bukankah kita harus berani memilih dan mempertahankan apa yang kita inginkan? Dan aku memilih untuk bertahan, ya mempertahankan bahkan menunggu seseorang yang bahkan mungkin tak pernah sedikit pun menoleh padaku.

Bagiku cinta tak harus memiliki, semua orang bebas untuk merasakannya, dan menyimpannya. Aku terlalu takut untuk resikonya, dan ku biarkan semuanya mengalir seperti angin. Melewati beribu-ribu jarak, beribu-ribu hari, membawa ruang kosong dan singgah dihatiku. Perasaan sayang ini telah ku titipkan pada angin lalu, berharap rasa ini ikut lenyap terbawa olehnya. Tetapi entahlah, masih ada sehela harapan masa depan bersamamu.

          Aku masih ingat hangat jemari tanganmu menyentuh pipiku, masih jelas terasa jarimu mengisi seluruh sela dijemariku, masih jelas terdengar semangatmu di nadiku yang sanggup membawakan getar hidup yang telah sirna kini bersamamu. Semuanya mengalir tanpa tahu sejak kapan aku merasakan ini, entah aku hanya benci ketika dia dengan seorang wanita selainku. Seperti halnya harapan yang hampir hilang, sebuah kisah yang bahkan nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan ini sendiri.

Kali ini apakah kesakitan itu lagi yang akan kau tunjukkan? Apakah hanya cerita sesaat yang akan kau berikan? Sekali lagi kau hadir dengan seluruh harapan yang dulu sempat singgah, akankah kali ini kau berusaha dewasa? Bertanggung jawab dengan apa yang telah kau tuai?
Aku takut harapan yang kau berikan seperti pelangi - yang selalu terlihat indah dengan goresan 7 warna, tetapi semua hanya Ilusi?

"Terkadang kita membutuhkan waktu utnuk menunggu lebih lama, untuk bertemu dengan orang yang kita sayang" 

Saturday, June 22, 2013

Hanya Teman


"Apakah tiba-tiba menyukai seseorang karena dia mengerti itu salah? Apakah menyimpan perasaan lain terhadap seorang teman itu dosa? Dan apakah menaruh sedikit simpati kepada seseorang yang selama ini gak aku perhatiin itu mungkin?"

          Aku terbangun ditengah malam, menengadah melihat kesendirian sang rembulan. Aku mengajaknya bicara tentang sakit yang berkecamuk dalam jiwaku, bicara bahwa aku sangat bersyukur bisa mencintainya dengan kenyataan bahwa dia hanya bisa melukaiku tanpa membalas rasaku. Entahlah sampai kapan aku bisa bertahan melawan patah hati ini, yang pasti tidak dalam waktu dekat ini.

"Jelaskan padaku bentuk ketololan ini! Perhatianmu, pesan singkatmu, perkataanmu, perlakuanmu, ah semua terlalu abu-abu, semu. Katakan mengapa kau berubah padaku,semakin menjauhiku? Sadarkan aku bahwa semua ini hanya sandiwara, dan bisakah kamu berkata bahwa kita hanya TEMAN?" - Amarahku mematikan hati, melukai dan sekaligus menciptakan benci. Aku terdiam, merasakan ketololanku dengan bertahan untuk sesuatu yang tidak seharusnya untuk di pertahankan.

Aku mendekat kepada sang kuasa, menengadahkan tangan dan menyebutkan namamu serta semua lukamu dalam satu doa. Aku tak meminta agar kamu kembali dengan sejuta rayuan kosongmu, aku tak meminta kamu kembali lalu entah pergi lagi. Terselip satu pesanku untukmu dalam doa, dan semoga hanya Tuhan yang mendengar dan kamu yang merasakan keajaibannya.

Mungkin Tuhan mendengar dan membalas cepat doaku, entah dari mana adanya energi mujarab ini. Bukan sugesti, mungkin memang kau dan aku tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah. Percaya atau tidak ya memang inilah kenyataannya. Aku muak menunggumu dalam ketidak pastian, aku lelah mempertahankan tapi kamu malah mengabaikan. Kita seperti tengah mencoba membirukan senja yang selalu merah, kita sama-sama berusaha tetapi tidak bisa mengubah apapun. Berhenti dan mari kita renungkan, tidak ada gunanya memaksa. Tetaplah bertahan pada pilihan abu-abumu, dan aku tidak akan bertahan padamu lagi. Semua sudah jelas dari awal, akhir bahagia bukan milik kita...

Mungkin ini saatnya aku berteriak, dan terbebas akan semua siksaan. Sudah lama aku menantikan kebebasan, berhenti dalam pengabu-abuan, dan berjalan lurus meninggalkan. Niat dan tekatku sudah bulat, aku akan berhenti memperhatikan. Kita hanya teman, dan selamanya akan seperti ini. Hanya TEMAN!
Terima kasih telah mengajariku cara untuk lebih dekat pada sang kuasa. Goodbye :)

Monday, June 10, 2013

Kenapa harus kamu?


Mengapa harus kamu,
yang hadir mengubah sekat-sekat bisu menjadi lautan mimpi

Mengapa harus kamu,
yang tiba-tiba datang tanpa permisi dan masuk menyusuri setiap lorong hatiku

Tiadakah orang lain selain kamu?
yang bisa membuatku jatuh cinta hingga membuatku terluka


Aku masih tak paham dengan semua yang telah terjadi
Mengapa harus kamu,
yang memberi isyarat ke hatiku untuk menyimpan semua perasaan ini

Mengapa bukan yang lain,
yang mampu memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu


Mengapa harus aku?
Mengapa harus kamu?
Mengapa harus ada kita?
Aku bertanya padamu,
Mengapa kau tak menjawab?


Aku telah melawan semua ketakutanku,
untuk mencintaimu
Aku telah berusaha mematikan semua kenanganku, 
untuk memulai yang baru denganmu

Lalu mengapa harus kamu?
yang mampu mematikan ketakutanku dan mengubahnya dengan keberanian kecil


Jangan biarkan aku terus begini,
bertanya-tanya pada kesunyian
Jangan biarkan aku terus mencari,
mencari hal yang sebenarnya tak pernah ada
Jangan biarkan aku meraih,
kebahagiaan di tengah kekosongan
Jangan biarkan aku tuk terus merasakan,
merasakan perasaan yang sebenarnya tak pernah kau berikan


Kau membuatku menunggu,
walau aku tau sesungguhnya menunggu adalah suatu kejenuhan
Kau membuatku membuang waktuku,
walau aku tau seseungguhnya semua ini sia-sia
Ini semua hanya karenamu,
hanya karena aku telah membuka sepenuh hatiku


Aku menerima semua perlakuanmu dalam diam,
sakit namun ku ikhlas
Terluka tapi pada akhirnya aku pasrah,
Beberapa diantara mereka bisa memaafkan,
dan menganggapnya itu semua sebagian dari kebodohan
bagian dari kesalahan mereka sendiri
Tetapi tak berlaku untukku

Amarah itu mematikan hati, dan melukai
Menutup maaf,dan menciptakan benci

Aku seakan mencari apa yang telah hilang,
Aku terus mencari tanpa tau apa yang telah kutemukan,
Dan akhirnya ku tersadar,
Aku telah kehilangan semua yang telah kutemukan


Cinta sejati adalah,
keikhlasan untuk membiarkan orang yang dicintainya bahagia
Meskipun bersama orang lain,

meskipun diri sendiri harus hancur


“Jangan mencintai sepenuh hati, dan jangan pula mencintai setengah hati”

Saturday, June 8, 2013

Lagi, tentang kamu ...

          Jatuh cinta seharusnya terjadi dengan proses yang cukup panjang dan merumitkan. Tetapi proses alamiah itu tak terjadi padaku, entahlah pertama kali melihatmu pun aku tak pernah merasakan bulir bergelut hebat dinadiku. Lama-lama sosokmu mulai memberi warna dihariku, entahlah mungkin kata-kataku terlalu ambigu. Jujur aku mulai penasaran denganmu sejak saat itu dan aku hanyut dalam canda tawa milik kita.
Setiap hari selalu ku menyempatkan diri membalas semua pesan singkatmu, melihat ulang kata-kata manismu, kecupan berbentuk tulisan, semangat berbentuk pandangan, tawa kecilmu membuatku tersenyum dalam diam. Entahlah itu sudah menjadi rutinitasku dan aku nyaman dengan keberadaanmu disetiap detikku.

          Aku tahu suatu saat nanti aku akan berada di status yang lebih spesial denganmu, aku merasakan guratan senyumku mengembang ketika tahu getar ponselku adalah darimu. Aku berharap, berharap lebih malah bahwa suatu hari kamu dan aku akan menjadi kita. Kugantungkan harapanku kepadamu, kuberikan sepenuhnya perhatian dan rasa sayangku terhadapmu, melebihi status kita sebagai teman. Namun nyatanya semuanya menguap tak berbekas senyata yang kulihat. Kata temanmu kamu melankolis ketika harus memikirkan sesuatu terlalu dalam, lebih banyak memendam daripada bertindak, dan kamu lebih suka menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Menunggu sesuatu yang abu-abu, sesuatu yang jelas-jelas tak akan pernah melihat penantianmu. Apakah kamu akan terus menunggu padahal jelas kamu tau bahwa aku mencintai setiap inci lekuk indahmu?

           Kamu, tidakkah kamu tau? Tidakkah kamu menyadari bahwa ada aku yang selalu berlaku aneh di hadapanmu? Selalu mencari perhatianmu yang jelas-jelas terkadang memang bukan untukku, selalu mencari alasan dibalik senyummu yang sudah jelas memang bukan aku yang menjadi alasanmu tersenyum, dan selalu mendoakanmu disepertiga malam. Tidakkah kamu merasakan bagaimana menjadi aku? 
Senyummu adalah suatu guratan semangat yang selalu ingin kulihat setiap pagi. Aku selalu ingin bisa menjadi sebab dan alasan mengapa kau tersenyum, tetapi nyatanya aku terlalu tinggi untuk mengharapkannya.

          Jika aku meminta pada Tuhan, bolehkah rasaku mati ketika bertemu denganmu, ketika aku membaca pesan singkatmu yang sangat lugu tapi manis itu, sungguh aku tak pernah berfikir bahwa hal manis itu akan menguap sedemikian cepat. Jika kau ingin tau bagaimana aku memaknai kehadiranmu, seluruh kosakata dalam milyaran bahasa pun tak mampu untuk mendeskripsikannya. Mungkin aku hanya persinggahan, tempatmu melepaskan segala kegundahan, melepaskan kecemasan, meluapkan kegalauan, lalu pergi tanpa pernah janji untuk kembali. 
Aku berjuang agar aku selalu biasa ketika melihatmu, selalu menapakkan kaki dibumi ketika ucapanmu melambungkan hatiku, selalu menyeimbangkan dunia nyata dan fairytale ketika semua perhatianku terampas olehmu. Bisakah kau bayangkan bagaimana aku harus menahan semua ini sendirian? Bisakah kali ini kehadiranmu seserius rasaku terhadapmu? Bisakah kamu lebih peka dengan apa yang (masih) ku gantungkan? Semua pesan singkatmu, semua kata manismu, semua keluguanmu, semua perhatianmu, mungkin memang terlalu saru untukku. Terlalu ambigu. 
Bagaimana bisa kamu merasakan bagaimana aku, kamu bukan perasa yang baik. 

          Dan lagi-lagi tentang kamu, tentang perasaan yang berhasil kamu lambungkan setinggi mungkin lalu entah kamu jatuhkan aku begitu saja. Hey ini bukan dufan, ini bukan hysteria. Sejak kapan kamu berubah menjadi sosok yang mengerikan dimataku teman? Aku enggan melihat sosokmu, aku enggan membalas semua pesan singkatmu dan aku muak untuk kesekian kalinya. Entahlah siapa kamu, sahabatku atau teman hatiku aku sudah tak peduli. Dimana letak salahku, dosakah aku terlalu menginginkanmu? Seakan aku hanya bayang semu, seakan-akan aku tak terlihat olehmu.

Aku sadar, kamu terlalu abu-abu buatku. Lantas haruskah aku bertahan? Haruskah aku cengeng sekali lagi? Kurasa tidak lagi, pergilah dengan ribuan bahkan milyaran kata maaf dan alasanmu. Memaafkan memang mengisi sedikit ruang didalam rasa kebencian, dan aku telah melakukannya untukmu. Menjauhlah, mungkin ketika aku lupa akan semua ini, aku tak akan sama terhadapmu seperti semula. Kini maafkan aku, bye :)

"I am optimist to be yours, but I still comfortable with my condition -single. Do not be negative thinking to me dudd" ,entahlah sampai detik ini aku tetap tak paham arti dari optimismu. Belajarlah menghargai dan menjadi perasa yang baik :)

Friday, May 24, 2013

Mungkin, aku (memang) terlalu berharap ...


Flashback, semua terasa begitu cepat. Aku mengetahuimu, hanya sekedar tau. Lalu berkenalan, satu grup Bhakti Sosial di suatu desa dan akhirnya setahun terakhir kini kita didekatkan. Rasa aneh mulai mengelabui pikiranku, membuatku kehilangan kendali dan semakin hari rasa ini berbeda. Kamu hadir membawa banyak perubahan pada hari-hariku, hitam putih hidupku menjadi coretan warna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong dihatiku. Percakapan yang sellau mengalir begitu saja, leluconmu yang kadang jayus tapi entahlah terasa luar biasa ditelingaku. Entahlah, perasaan tumbuh begitu saja melampaui batas tanpa ku tau.

Kita semakin dekat, kamu selalu menjadi pendengar dan penasehat yang baik ketika aku bercerita tentang beberapa pria-pria yang dekat denganku. Begitu juga sebaliknya, aku selalu menjadi pendengar baikmu ketika kamu dilema dengan wanita-wanita disekelilingmu, yg mengganggu kinerja otakmu. Memang aku awalnya menganggap perasaan ini hanya hantu disudut hati yang berusaha menggangguku, perhatian dan tangan usilmu yang selalu menyentuhku kuanggap hanya batas awal persahabatan kita.

Sampai pada akhirnya aku menyadari sosokmu berevolusi menjadi sangat luar biasa dan aku menjadi benar-benar takut akan kehilangan. Ya tentunya kehilanganmu, entahlah aku tak pernah dari awal berpikir tentang rasa kehilangan. Siksaan datang bertubi-tubi dan menyayat hati, ketika ku tau kau masih berusaha mati-matian untuk menutupi perasaanmu kepada gadis itu.
“Aku belajar move on dudud, ke kamu” , begitu katamu. Entahlah apa artinya, yang pasti kata-kata sederhana itu berubah menjadi suatu batu kecil pertahanan dihatiku.Kamu seperti mengendalikan laju otak dan hatiku, kau membuatku membutuhkanmu layaknya aku bernafas yang membutuhkan oksigen. Nafasku tercekat, denyutku terhenti ketika ku sosokmu menghilang dari bayanganku, salahkah aku jika kamu selalu ku nomor satukan? 

Tetapi entahlah kenapa kau selalu saja biasa terhadapku, perhatianku masih kau anggap seperti aku perhatian ke temanku lainnya. Entahlah mengapa sikapmu tak pernah sama dengan sikapku, perhatianmu pun tak sedalam perhatianku, dan tatapan matamu tak pernah setajam tatapanku. Mungkin kamu tak terlalu paham dengan apa yang sedang menggelanyuti hatiku, menghantui rasaku. Berdosakah jika aku menjatuhkah air mata untukmu? Aku selalu merasa kau abaikan, entah dengan band metalmu atau dengan siapalah aku tak mengerti. Bisakah kau meminta izinku kemanapun ketika kau hendak pergi atau melakukan sesuatu yg sekiranya membuatku lama menunggu? BODOH, memangnya aku siapa? Kekasihmu? Mimpi!

Telingaku perih mendengar semua obralan kata manismu, mataku buram ketika harus melihat apa yang seharusnya tak terlihat olehku, dan hatiku terluka ketika harus menyembunyikan apa yang seharusnya tak pernah ku sembunyikan. Aku hanya bisa diam membisu melihat setiap pergeseran gerakanmu di depan mataku, entah itu menggoda atau modus sana-sini. Taukah bagaimana sakitnya? Diam memang lebih baik, jauh lebih baik!

Aku memang bukan siapa-siapa dimatamu, dan aku juga tak akan pernah menjadi siapa-siapa di hidupmu. Sejujurnya sampai saat ini aku hanya ingin tau, dimana kau taruh hatiku yang telah kuberikan untukmu? Satu lagi, Siapakah orang beruntung itu yang dengan mudah telah mendapatkan hatimu tanpa perlu bersusah payah berusaha sepertiku?

Taukah kamu, yang kau acuhkan ada pengorbananku untuk mempertahankan mu di hatiku. Taukah kamu apa yang kamu pandang sebelah mata selama ini adalah usahaku untuk tetap menunggumu. Dan taukah kamu bahwa semua yang ku pertahankan ternyata kau abaikan.

Mungkin semua memang salahku, mengubah semua jalan secara paksa sesuai keinginanku, bermimpi mengubahmu lebih dari sekedar teman, salahkah? Aku berusaha lama untuk membunuh semua rasa ini, tapi entahlah aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman, tapi aku mencintaimu sebagai seseorang yang begitu bernilai dalam hidupku. Namun semua jauh dari apa yang kuimpikan, jauh dari harapan. Mungkin aku memang terlalu banyak memaksamu, aku terlalu banyak berharap. Aku tak pernah menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sungguh jauh dari genggaman tangan. Bodohnya, akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu lagi kamu menutupi semua kebohonganmu padaku. Tak perlu lagi kamu berkata bahwa kamu telah sukses move on, tak perlu lagi ada sapa manismu untuk mengawali semua aktifitasku. Aku akan (belajar) terbiasa dengan semuanya, dan kamu pasti tak akan pernah sadar. Dan kamu pasti tak akan pernah sadar, aku berbohong bahwa aku bisa melupakanmun begitu saja.

Menjauhlah, aku tak ingin melihatmu. Aku hanya ingin berteman dengan kekosongan, disana aku bisa merasakan lukaku telah terobati, disana tak akan kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudah, yang memberi harapan dengan mudah lalu entah kemana. Dan aku tak akan menemukan seseorang yang tak pernah kehabisan cara untuk meyakinkanku.

NB :
“Kalau nickname twitter G is –HELL CHOOSE ME- kalau aku sih –I CHOOSE YOU dudd”

Lekukan dibibirmu merekah dan entahlah aku merasa nyaman. 

Saturday, May 18, 2013

Perjuangan dan Pengabaian, beda tipis !

          Setiap individu pasti memiliki kisahnya tersendiri. Dalam kisahnya ia harus ia harus berjuang. Ada yang hanya diam, memperjuangkan atau bahkan menunggu. Dan aku akan menjadi manusia yang terakhir itu, ya menunggu...

"Sejak saat itu aku telah merindukannya beberapa kali, ku rasa aku telah jatuh hati padanya..."

          Menunggu, ya itulah yang sedang kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih saja ingin kuperjuangkan untukmu. Aku tahu, bahwa semua yang kulakukan itu sia-sia. Mengisi malam hanya tuk sekedar mengingat atau bahkan memikirkanmu, sia-sia. Bukannya aku tak mau memperjuangkanmu, tetapi yang kuperjuangkan adalah apa yang telah kau abaikan. Kenyataan memang harus selalu bisa diterima bukan? Dan kini kenyataan yang harus bisa ku terima adalah kau tak berada disisiku, entah hanya untuk merangkulku dikala sepi atau hanya untuk menenangkanku dikala sedih. Pengabaianmu semakin terasa ketika aku tahu kamu masih memuja dia, wanita yang kamu sukai sejak awal masa orientasi sekolah. Dengan semua kenyataan yang ada, masih pantaskah kamu untukku perjuangkan? Entahlah ...
     
         Ketika suatu pagi diawali tanpa hangatnya sapa khasmu, entahlah ada gulir-gulir tajam menyayat hati. Ada perasaan rindu yang tak benar-benar ingin kutumpahkan, rindu yang selalu kudiamkan. Apakah kamu tahu bahwa selama ini aku bertahan dalam penantian yang hingga akhirnya berakhir dengan air mata? Tentu tidak, sejak kapan kau perduli semua akanku, akan rasaku. Tak ada binar cinta dimatamu untukku, tak sedalam buih cintaku. Aku mengalah, aku masih membisu dan tetap dalam diam. Dengan kebisuan ini aku masih bisa mempertahankan 'Kita' walau hanya ada dalam narasi imajinasiku saja.

"Tidak perduli dimanapun kamu berada, dengan siapa kamu bercanda, aku akan tetap menyelipkan setiap doa untuk kebahagiaanmu"

         Perbedaan ini sungguh sangat membuatku buta, ketakutan yang mengelabuiku. Kekhawatiranku memuncak ketika kau jauh dariku dan berada dalam keramaian. Kekhawatiranku terhadapmu, yang tak pernah sama sekali ku ceritakan terhadapmu. Aku hanya menyelipkan ribuan doa dalam setiap helaan nafasku, doa yang kusebutkan tentu saja tak pernah sama dengan doa yang selalu kau ucapkan. Kini masih pantaskah kamu untuk terus kuperjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan ini berakhir dengan 'Kita' tanpa ada narasi di imajinasiku lagi?

         Perjuanganku dalam diam ini mungkin tak akan membuahkan hasil, munafikkah aku jika aku hanya ingin kamu bahagia apapun resikonya walaupun tak akan bahagia denganku?
Aku hanya takut, aku takut dengan banyak hal yang diam-diam menyerang kita, menumbuhkan bumerang, dan memisahkan kita. Entahlah, sosokmu masih menjadi mood maker ketika aku berada di titik jenuh, Aku ingin berhenti untuk memperjuangkan mu, aku lelah dihantui dengan semua keacuhanmu, aku letih bermain-main ditengah kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku ingin matahari, aku ingin warna yang jelas, bukan mendung dan bukan pula yang abu-abu seperti ini.

Ini semua yang telah kuperjuangkan untukmu, untuk mempertahankanmu. Sampai kapan kamu menutup impuls kepekaanmu?

Aku belajar mencintai genre musik dan membunuh trauma ku, dan inilah semua perjuanganku walau sempat kau abaikan. Tidakkah kau sedikit tersentuh? Tidakkah kau ingin datang dan membawaku pulang ke pelukanmu?