Saturday, February 21, 2015

Wonderful Indonesia : Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat


"Because the smelt of salt and sand, the power of sun and sky. There is no elixir on this blessed earth like it"
 ---

          Ketika pertama kali ku belajar membaca peta, hal yang pertama ku lakukan adalah bergumam dalam hati untuk menjajahi pulau-pulau indah di Indonesia. Saat itu memang belum begitu paham mana dulu yang akan dijajah, sampai pada akhirnya memutuskan Indonesia Timur.

Indonesia Timur terlalu luas untuk di explore dalam waktu singkat. Well, I choose Gili Island for my first destination. Alasannya? Mungkin karena Pulau Lombok mempunya tiga Gili yang sangat terkenal, tapi honestly alasannya lebih dari itu. Lets we check. 

Gili Trawangan merupakan suatu pulau kecil dimana kita bisa menikmati sunset dan sunrise dalam suatu waktu, karena Gili Trawangan memiliki pantai dibagian Barat dan Timur. Selain itu yang membuat berkesan adalah, di gili-gili ini sudah dipastikan tidak ada kendaraan bermotor. Mulai dari penduduk lokal dan wisatawan difasilitasi dengan sepeda atau kereta kuda atau yang sering disebut cidomo.

Foto ini diambil ketika akan landing di Bandar Udara Internasional Praya Lombok. Bisa kita lihat, terdapat tiga pulau kecil dan itu adalah Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.

By the way, aku flight dari Surabaya. Setelah tiba di Bandar Udara Praya, akhirnya aku memutuskan untuk melanjtutkan perjalanan menggunakan Bus Damri yang memang disediakan oleh pihak bandara. Loket bus Damri ini bisa kalian temukan tepat dipintu keluar bandara. Dengan harga 35,000 perorang kita bisa melanjutkan perjalanan sampai pantai Senggigi. Setibanya di pantai Senggigi, kita harus melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Bangsal. Ada dua opsi, pertama kita bisa menggunakan speedboat yang jelas bisa langsung sampai ke Gili Trawangan dengan biaya yang cukup mahal dan opsi trakhir kalian bisa menggunakan angkutan umum dan atau shuttle car. Dan kebetulan saat itu kita kebarengan dengan wisatawan asal Surabaya, jadi kita putuskan untuk shuttle car dengan biaya total yang nantinya dibagi setiap orangnya. Kita hanya perlu mengeluarkan 50,000 perorangnya, so cheap. 


Setelah sampai di pelabuhan Bangsal, akhirnya one step closer, kita harus memesan tiket untuk penyebrangan dengan kapal ekonomi penduduk lokal. Dengan hanya 36,000 kita bisa menyebrangi laut dan sampai ke Gili Trawangan. Sedikit catatan buat kalian yang memang ingin ke Gili Trawangan dengan menggunakan opsi kedua, jangan terlalu sore karena faktor cuaca yang tidak menentu serta fasilitas penerangan yang tidak memadai. Begitu saran yang kita terima ketika tiba di Lombok saat itu. Cukup memakan 30 menit akhirnya kita tiba di Gili Trawangan. Dan ini benar-benar diluar ekspektasi, pantai yang benar-benar bersih dengan penduduk lokal yang baik dan sangat membantu. Setelah puas sedikit jalan mengitari pulau trawangan, akhirnya kita memutuskan untuk mencari penginapan. Variasi harga dan fasilitas yang disediakan, tapi karna kita gembel traveller jadi kita memilih hostel yang cukup nyaman. Dengan fan, kamar mandi dalam dan springbed akhirnya deal dengan harga 250,000 selain itu kamar yang akan ditempati satunya menggunakan AC dibandrol dengan harga 350,000 masing-masing harga fix untuk tiga hari dua malam selama kita disini. Dengan modal nego sadis akhirnya kita mendapatkan kamar yang pantas selama disini. Setelah kita selesai berbenah, akhirnya kita memutuskan untuk menunggu sunset. 


Ini cafe pertama yang kita tongkrongin. Maaf lupa namanya, yang jelas ini salah satu cafe yang paling asik di gili trawangan. Untuk menu makanannya standart, ada indonesian dan western food.
Kelewatan, daritadi nyebut kita tapi belum ada perkenalan. Hai panggil aku Dee dan sebelahku adalah my secret admirer yang terungkap lol.

Setelah lama menunggu sunset  yang tak kunjung datang, karena mendung, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke penginapan masing-masing. Setelah menyisihkan beberapa menit untuk merebahkan badan akhirnya kita memutuskan untuk kuliner malam. Gili Trawangan memiliki banyak kedai hingga restaurant. Jangan kaget, banyak pertunjukan yang sengaja ditampilkan setiap malam ditepi pantai untuk menarik minat wisatawan dan tak sedikit wisatawan asing yang turut menampilkan aksi mereka. Yeah night life was begin. 

Setelah puas akhirnya kita kembali ke penginapan dan istirahat, menyiapkan energi untuk mengelilingi gili-gili esok pagi.

Selamat pagi. Jadwal pagi ini kita akan snorkeling ke tiga gili, sebelumnya kita harus mengisi perut. Setelah itu kita siap untuk menjelajah didalam air. Gili Trawangan memiliki terumbu karang yang menawan dengan air laut yang masih bersih dan biru. Gili Meno adalah yang paling dalam diantara tiga gili ini, kita bisa menjumpai penyu dan terumbu karang yang tak kalah cantik. Gili Air memiliki perairan dangkal dan banyak ikan kecil yang akan mengeliling kita. Kesimpulannya ketiga gili ini cukup memuaskan mata akan keindahan terumbu karang yang benar-benar masih terjaga. Kita meminta waktu untuk istirahat di Gili Air, ya tidak jauh beda dengan gili trawangan hanya saja Gili Air ini lebih kecil ukuran pulaunya dibandingkan dengan gili trawangan. Overall, masih terlihat sama.

Setelah puas dengan pemandangan dalam air, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat mengingat waktu masih tengah hari dan panas-panasnya. Setelah bilas dan istirahat akhirnya kita meneruskan perjalanan untuk mencari sunset  di gili trawangan. Penduduk lokal merekomendasikan lokasi dimana kita bisa menikmati sunset dengan sempurna, Sunset Point. Kita bisa mencapai lokasi itu dengan jalan kaki yang akan menempuh waktu sekitar 45-60 menit, dan kita memutuskan untuk menyewa sepeda dengan harga 50,000.

Dan tibalah kita di tempat yang bernama Sunset Point. Menarik, untuk menikmati sunset  penduduk lokal menyediakan ayunan yang diletakkan tepat ditengah laut, mungkin supaya bisa mengabadikan momen indha bersama sunset, alhasil ayunan tersebut super duper ramai, antri.

Setelah puas bisa ikut foto dengan ayunan, akhirnya kita melanjutkan perjalanan dan mencari spot-spot indah untuk diabadikan. Terlalu banyak spot indah disini, jadi sepertinya gak akan cukup jika postingan ini isinya semua foto kita selama di gili trawangan. Akhirnya setelah asik menikmati sunset, menikmati penampilan dari setiap bar dipinggir pantai, hingga menikmati makan malam. Akhirnya kita jalan-jalan santai mengelilingi sekitar gili trawangan yang masih tersisa. Well, aku ga akan pernah kapok untuk kesini lain kali.

Keesokan harinya kita menyiapkan diri untuk kembali ke rutinitas masing-masing, ya kembali ke Bandung. Perjalanan panjang dimulai, dan hati masih ingin tinggal lebih lama. Suatu saat aku akan kembali.

Kali ini kita memutuskan untuk menggunakan shuttle car dari pelabuhan bangsal ke pelabuhan lembar. Dengan sisa tenaga yang kita miliki akhirnya tibalah kita di pelabuhan lembar. Memesan tiket kapal ekonomi untuk sampai ke Bali, dengan harga 35,000 perorang. Setelah memakan waktu hampir seharian akhirnya tibalah kita di Bali dan perjalanan kita masih panjang. Kita harus mencari bus yang mau menumpangi kita dari padangbae ke gilimanuk dan akhirnya kita mendapatkan bis dengan harga 80,000 perorangnya. Setelah tiba di gilimanuk akhirnya kita harus menyebrang lagi agar sampai ke ketapang dengan kapal feri seharga 10,000 perorangnya.

Setibanya kita di banyuwangi, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat di depan indomart depan stasiun banyuwangi baru karna waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Ketika pukul 5 pagi akhirnya kita masuk ke dalam stasiun banyuwangi baru dan tidur dikursi tunggu yang disediakan. Lelah yang terbayar. Dari sini kita masih membutuhkan setengah perjalanan hingga tiba di bandung esok hari. Kita menggunakan kereta mutiara timur menuju stasiun gubeng Surabaya, lalu dilanjutkan kereta api mutiara selatan untuk sampai ke stasiun Bandung. And finally setelah perjalanan panjang selama tujuh hari akhirnya kita sampai di Bandung dengan selamat.

Satu dari jutaan destinasi, see you at my another travel post. Thanks for meine-partner.

See you another Summer.

Wednesday, January 7, 2015

You.



I saw you were perfect, and so I love you. Then I saw that you were not perfect , and 
I love you even more.
--- 


Melbourne, January 7, 2014

Mungkin memang benar bahwa mencintai tak harus memiliki, hanya perlu mengasihi satu sama lain. Delapan tahun berlalu. Aku kembali mengingat pria dalam foto polaroid itu. Tak membutuhkan waktu lama setelah ku memejamkan mata, karena sosoknya dengan cepat merekahkan senyum dalam ingatan, membangunkan jutaan kenangan, indah. 



"Jingga..." , ucapku lirih dan tersenyum,

Entah sudah berapa lama rindu ini tak tertuju, tak menemukan alamat tujuannya. Mungkin ada baiknya juga kubiarkan begini, karena jika suatu saat kita dipertemukan akan ada rasa merah muda yang berjatuhan. Hanya saja aku masih tidak memiliki keberanian untuk menemuinya, aku masih ingin merindukannya seperti ini. 


Foto ini selalu berbicara jelas tanpa perlu kata-kata. Hanya dengan memandang dan aku bisa memutar ulang semua rentetan cerita indah di dalamnya. Foto selalu menyimpan kenangan secara nyata. Aku selalu merutuk dalam hati, mengapa kenangan hanya dapat diputar ulang didalam kepala? Mengapa aku tidak bisa memindahkan masa lalu ke masa kini, lalu menjalaninya dan mengulang kisah indah yang sama?


Tanpa kusadari, lagi-lagi senyumku merekah, mengingat semua kenangan yang sangat indah, membuatku geli dan aku merasa sekujur tubuhku menjadi hangat. Walaupun sebenarnya aku sangat sadar bahwa rindu ini tak akan pernah berujung, sekuat apapun ia berusaha, rasa itu tidak akan pernah terbalaskan. Haruskah aku menyerah dengan semua ketidak adilan ini, Jingga?



"Jingga...", ucapku berulang.

Ah mungkin memang tidak seharusnya aku berencana untuk menemuinya. Mungkin saja dia tak pernah merindukanku seperti aku merindukannya selama ini. Mungkin saja hanya aku yang selalu mengutuk diri untuk selalu mencintainya dalam semua kekurangan.


Tiba-tiba hatiku terasa sakit, mengingat hal-hal kecil yang menjadi suatu hal besar dan membuat kita berpisah. Ego kita melawan satu sama lain. Kita berargumen, mengambil jarak, membiarkan ego menjadi tombak, dan berpisah. Andai bisa ku ulangi semuanya, mungkin dulu aku akan lebih memilih untuk diam dan tak banyak menentang. Mungkin sekarang semuanya tak akan seberantakan ini, dan kita masih baik-baik saja. Mungkin.



"Jingga, don't you know? Sometimes I think I could get through the days without you, but the fact I can't!" ,batinku.

Aku pergi menjauhi sekumpulan foto itu. Aku berjalan mencari keramaian dengan tujuan menghilangan kenangan yang masih saja berputar di dalam ingatan. Aku mencoba mencari semua kesalahannya, agar cepat rasa ini pergi dan menghilang. Tetapi aku tidak bisa, semakin aku mengubur kebaikannya, dan menemukan semua kesalahannya, aku semakin menyayangi sosoknya yang hilang. 

Aku menerawang ke langit, ku pejamkan mataku dan merasakan sinar mentari merasuk dalam setiap rongga tubuhku. Hangat. 

Sampai pada akhirnya aku tersungkur ke tanah ketika seseorang menabrakku.


"Sorry. Are you okay? Let me help you." ,ujar pria yang telah menabrakku.


Aku membuka mataku, dan mengerjap. Aku mematung menatapnya. Tiba-tiba ada guratan lembut merasuk dalam tubuhku. Benarkah ini dia? batinku.



"Hi, what are you looking at? Come on standup before everyone here hit you baby." ujarnya dan tersenyum.


Aku masih mematung. Dibawanya aku menjauh dari keramaian, memasuki kedai kopi, Griffito Coffee. Kita duduk berhadapan, dan seperti biasanya, ia menatapku tanpa henti dan tersenyum. Senyum itu, senyum yang mampu membuat wajahku menghangat. Tuhan...



"What are you doing there? Trying to hurting yourself by sit in the road when peoples crazy to walk fastly?" ujarnya.


Aku masih terdiam menatapnya. Bagaimana bisa. Hanya itu kata-kata yang terus berulang didalam benakku. Aku tersenyum melihat dia yang kini sedang sibuk memilihkan kopi terbaik di tempat ini. Aku hanya mengangguk, menandakan aku setuju dengan pilihannya. 



"I dunno why you still silent. I knew silent is gold. But please how can I pay that gold dear? With this your fave coffee, is it okay?" ujarnya menggodaku.


Aku masih merasakan guratan hangat disekitar wajahku. Sudah lama sekali aku tak melihatnya. Dia adalah Wilson, aku memanggilnya Wils. Pria ini tak sengaja ku kenal ketika kita menjadi waiting list  di Cafe ini juga. Sampai ketika hanya tersisa meja untuk dua orang, lalu waitress itu menyarankan ku untuk berjoin  dengannya. Well disinilah kita bertemu kembali. 



"Hi dont look at me like that. Whats wrong with you? Is there any problems with you? Tell me, I'll try to solve it." ,ucapnya mantap.


Entah, dia selalu saja seperti ini, selalu baik. Aku selalu bercerita masa laluku dengannya, dan tentang pria itu juga. Dan dia selalu membantuku menangani semuanya, mengajakku bercanda walau aku sedang tidak ingin. Dia selalu tau apa yang bisa membuatku netral kembali. Dia selalu ada.



"If it because of your ex, I just wanna say something to you. Why you never look around you? There is people who more respect, care and love you the way he is. But Why you still loved him, who never loved you back, is it not hurt you? Can you see me, a boy that always there for you, a boy who always wipe your tears, give your smile even you didnt want to smile, can you?" , ucapnya.


Ya, mengapa aku tidak bisa melihatnya? 

Mengapa aku terlalu buta akan seseorang yang jelas tidak memintaku untuk kembali, yang jelas tidak benar-benar nyata dalam memori. Aku masih belum menemukan potongan jawaban itu, bukan aku yang bisa menjawab, mungkin dia, atau bahkan waktu.


"Baby, please think twice, why you still keep people that never keep you? Why you still cry for people that maybe never remember you? Why? You are too kind and beauty to this one. He left you, and its enough. I never want to see you cry and feeling so blue again. Can I keep you for my self?" ucapnya.


Aku menatapnya, ada kesungguhan dari apa yang ia katakan. Entah apa lagi yang aku pertahankan, mungkin memang benar yang dikatakan Wils, tapi hatiku masih berkata jangan melepaskannya. Aku tersenyum membalas semua ocehan Wils pagi ini. Ku minum dikit demi sedikit kopi ini. Ada pahit yang menyeruak ke dalam kerongkongan mulutku. Sepahit kenangan yang selama ini kupertaruhkan sendirian.



"Wils. Thank for always cheer me up. I knew if the past is over, and I knew you are the best people I had in my whole of my life. But I cant forget him, it just drivin' me crazy Wils. I dont want to hurt you by love you when I am not ready to love. But I love you the way you are, thanks." ucapku lalu pergi meninggalkannya.


Aku melangkah menjauhi Cafe itu dan Wils. Aku menyayanginya, tetapi aku tidak ingin melukainya. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa membuka hatiku untuk orang lain. Aku berjalan, melawan angin, dan menangis. Kali ini bukan sosok pria dimasala lalu yang berhasil membuatku menangis, tapi Wilson lah yang mampu membuat hatiku lebih nyeri. 


Seseorang memeluku dari belakang, dan berkata,



"Do not left me like that Baby, it is hurt! Please see me, I do not care. I will trying best to make you like me crazy than him." ucapnya bergetar.


Aku membalikkan tubuhku dan menatapnya. Wils, sebegitukah rasamu padaku. Aku tidak pernah merasa dikejar seperti ini. Dia, seseorang yang kucinta tak pernah mengejarku sepertimu. Apa ini suatu jawaban dari jutaan pertanyaan yang mengatung di awan-awan?



"Wils. I am done, past is over. And I will try with you.."  ucapku terisak.


Tanpa kusadari, perlahan wajahnya mendekat, mendaratkan sentuhan lembut pada permukaan bibirku. Mataku terpejam. Seluruh tubuhku menghangat. Aku mematung, hampir jatuh, dan tangan Wils seketika melingkar di pundakku. Menenggelamkanku dalam tubuh bidangnya.



---

His kiss,
crashing waves on an empty beach. The rhythm of our heart. Two of us drowning lovers lost at sea.My lips adrift in yours. 
- Michael Faudet

Friday, December 12, 2014

Desember to Remember

Bandung, 12 Desember 2014

-Shitsui-
"I think, I could get through the days without you. But I can not"

Aku sedang kembali ke suatu masa,
masa dimana ada seorang wanita yang seharusnya sudah sangat jelas bahwa kehadirannya memberi suatu arti dalam sebuah kehidupan. Bahwa kehadirannya harusnya sangat kental dengan semesta.
Seharusnya ...

Tetapi pada kenyataannya, kita hanya sekumpulan manusia yang hanya mementingkan kebahagiaan diri sendiri tanpa mau tau apa yang bisa membuat orang lain juga bahagia. Bukankah sebenarnya kita bisa membagi kebahagiaan bersamanya tanpa pengecualian? Bukankah sesungguhnya dia adalah salah satu sumber kebahagiaan kita di muka bumi ini? Mengapa kita, -saya, masih saja berputar mencari apa alasan untuk bisa bahagia dimuka bumi ini?

Akan ada masa dimana kita akan merindukannya,
merindukan sesuatu yang pernah singgah lalu pergi dan tak akan pernah kembali. Merindukan sosok yang dulu tak pernah terhiraukan lalu kini sangat ingin dilihat sebelum dan sesudah memejamkan mata. Mungkin dengan cara beginilah manusia bisa mulai menghargai betapa pentingnya sosok seseorang dalam kehidupan. Merasakan kehilangan lalu menjadi sebuah kerinduan, rindu yang tak pernah berujung, rasa rindu yang tak akan pernah terbalaskan.

Semua orang merasakan kehilangan,
dan percayalah bahwa suatu saat nanti adalah giliran kita untuk menjadi pihak yang harus menghilang. Takutkah kamu dengan semuanya termasuk takdir?
Awalnya itulah yang saya rasakan ketika melihatnya dalam sepi yang berkecamuk oleh ribuan emosi, antara mengikhlaskan atau tidak sama sekali. Bertatapan dalam detik-detik yang kuperlambat, mengucap kata maaf dan milyaran kerinduan dalam sakit.
Kita hanyalah sekumpulan manusia yang sedang dikejar oleh kematian, apa yang bisa dilakukan selain bersiap dan menanti?

Bagaimana rasanya merindu, sakit bukan?
begitulah dia dahulu, menahan semua perlakuan dinginmu ketika sebenarnya ia sedang berusaha mencari celah untuk meminta perhatianmu. Lantas apa kau melihat usahanya? Tidak! Sedikitpun kau tak pernah berpaling untuk sekadar melihat senyum lembutnya. Lalu sekarang ketika semuanya sudah berakhir bukankah seharusnya hilang sudah bebanmu karena kehadirannya? Mengapa kau masih terus berlari mencari keberadaannya? Dia sudah pergi, jauh lebih tenang daripada berada disisimu.

Stay for a while and do not move anywhere,
saya tahu tidak ada satupun manusia yang ingin pergi meninggalkan seseorang yang dicintainya. Tak ada satupun. Mengapa kenangan hanya dapat diputar ulang dalam kepala? Tidak bisakah kita memindahkan masa lalu ke masa kini, lalu menjalaninya, mengulang kisah yang sama, lalu memperbaiki semua kesalahan?

Seberapa saya harus percaya,
bahwa dibalik kepergiannya ada hal indah yang dirancang Tuhan untuk saya?
Dengan semua pernyataan klise, dengan semua kebusukan yang terungkap dan semua kebohongan yang mencoba menutupi kebusakan satu dengan lainnya, apa itu yang dinamakan dengan kebahagiaan? Kemana perginya semua orang yang pernah saya jadikan alasan dari kebahagiaan saya dahulu? Atau hanya dengan kenangan wanita ini saya bisa bahagia dalam sepi?

Semua benar-benar berakhir,
mungkin jarak bisa meringankan segalanya, termasuk rasa sakit hati. Memisahkan diri dari hingar bingar kemunafikan, dan mempersiapkan diri untuk bertemu kemunafikan yang lain.
Ambil saja, ambil saja semuanya, saya sudah terbiasa kehilangan!

Kalian tahu apa yang tidak kita miliki dari masa lalu?
yang tidak akan pernah kita miliki dari masa lalu adalah kesempatan untuk mengulang semuanya kembali. Hanya ada rekaman usang didalam otak kita yang suatu saat akan terputar kembali, seakaan kita berada didalamnya, melihat banyak akan kesalahan tetapi tidak ada lagi cara untuk memperbaiki semuanya.

Berakhir belum tentu yang terakhir,
tugas manusia berada di dua masa, ada saatnya untuk meninggalkan ataupun ditinggalkan. Mungkin sekarang saya sedang dalam posisi ditinggalkan, tapi percayalah dengan keajaiban, jangan sengaja meninggalkan hanya karna ingin dipertemukan. Ikuti saja alurnya, biarlah kenangan dan keajaiban yang membawa kita kepada masa yang lebih baik dari ini, masa yang telah disiapkan Tuhan untuk kita.

Wilkommen neues leben,
merelakan semuanya, termasuk saya ikut serta mengikhlaskan kepergianya. Saya percaya bahwa hidupnya lebih damai walaupun tidak dengan saya disini. Biarkan sekarang, disini, saya melangkah, menemukan kebahagiaan. Dan jangan lupa berdoalah untuk peri kecilmu ini, Ich vermisse dich Mom.
See you afterlife ...

Monday, December 1, 2014

Black or White?


Jangan pernah 

memandangi hal di sekililing

dalam segi 

hitam dan putih saja.

Di dunia ini,

tidak selamanya

yang hitam itu buruk,

dan 

yang putih itu baik.

Dunia ini adalah

keseimbangan,

dimana tempat kebaikan dan keburukan

mencari tempat

untuk 

mendapatkan

satu titik yang sama

Thursday, October 2, 2014

Semanis mocca, seindah senja

          "Love is beautiful thing when you find the right perso. Your love is grand prize, so you have to wait for a man who is worthy"- Tokyo,falling

Dia datang keduniaku, menorehkan tinta merah muda, memberikan kotak berisikan wajahnya, senyumnya, tawanya, perhatiannya, hingga rahasianya. Butuh waktu lama untuk menerima kehadirannya yang serba tiba-tiba. Bagaimana tidak, kita pernah berada dalam satu SMA yang sama tetapi aku hanya mengetahui namanya, dan sekarang kita dipertemukan di kota yang sama.

Masih dengan segala yang serba tiba-tiba, 
tanpa sadar perhatiannya mengisi ruang yang entah sejak kapan terbuka .Ruangan yang dulu hanya untuk seseorang yang bahkan tak pernah sadar bahwa hanya orang tersebut yang bisa menempatinya. Kini ruangan itu tak lagi buram, ada seseorang yang sengaja memberikan torehan senja yang indah. Dan tanpa sadar, aku menikmatinya. 

Menikmatinya,
hanya itu yang bisa kurasakan tanpa harus berharap apapun dari pria ini. Karena ia terlalu manis untuk dirasakan, dan terlalu jauh untuk diraih. Aku yang tak ingin menjadi bayangan yang hilang saat ia mengerjapkan mata, aku yang takut untuk menjadi persinggahannya saat ia hanya lelah, lalu ku putuskan untuk memperingatkan rasaku agar tak terlalu terlena menikmati keindahannya. 

Ia sedang mengetuk pintu, menyusuri labirin-labirin kosong dihidupku. Aku tak perlu terburu-buru, karena pada akhirnya ia akan sama seperti pria lain, meninggalkanku ketika sudah nyaman dengan kehadirannya. Ia tengah berusaha, sebaik-baiknya, untuk meyakinkan bahwa secara tidak langsung ia berbeda. Entahlah, semakin lama aku terlena dengan kenyamanan yang ia tawarkan. Aku pun tengah berusaha untuk membuka hati tanpa ada yang harus aku sesali dikemudian hari. Kita tengah berusaha, apakah kita akan bersama pada akhirnya? 
Biarkan Tuhan saja yang menjawabnya ...

Sunday, August 24, 2014

Seperti Pelangi



“banyak hal yang tak terduga, kamu salah satunya”

Seperti pelangi kehadiranmu disisiku, membiaskan pesona  warna mejikuhibiniu yang menyilaukan mata. Bias warnamu menembus dinding-dinding hatiku, melumerkan jutaan balok es yang selama ini menaungi benteng hidupku. Tawamu, leluconmu, perhatianmu, semuanya tentangmu, ah membuatku tak bisa berhenti merekam setiap detik pergerakanmu. Ketika kau tak tertangkap oleh retinaku, tahukah bahwa aku mencarimu hingga kutulikan telingaku dan memfokuskan duniaku yang hanya tertuju oleh sosokmu?

Pelangiku,
begitu caraku menyebutmu dalam kesendirianku. Tanpa ada satupun yang tahu, terutama kamu.
Bolehkah aku berkata jujur, walau ku tahu kau takkan pernah membaca tulisan ini, kalau sebenarnya aku telah memperhatikanmu sejak awal kita bertatap mata. Dan tanpa ada niatan menguntit jejakmu, kini kita berada dalam satu lingkup pekerjaan yang sama. 

Aku yang pendiam, kau yang mencari perhatian.
entah memang dari awal aku tak berniat untuk memulai percakapan dengan orang asing, atau memang itu sifatku. Dan hari itu, hari dimana kita bertegur sapa dan saling bertukar pikiran. Entah ada rasa nyaman yang mulai menjalar dan menyulut kobaran api benci ketika melihatmu dengan wanita lain. Ku ikuti saja apa maunya rasa, terkadang cinta lebih memilih menjadi sesuatu yang rahasia.

Seiring berjalannya waktu, semakin sering juga kegiatan yang kita lakukan bersama. Dan sejauh kenyamanan yang kurasa, secepat ini pula tamparan yang kurasa, kau menyukai seseorang yang masih kau sembunyikan identitasnya dariku. Aku kehilangan kata-kata, semua serupa bisikan tanpa makna, yang tersisa hanyalah bekas tamparan dan luka.

Ada awal, selalu ada akhir. Entah itu akan berakhir bahagia, atau luka.
Seharusnya memang aku tak lancang menafsirkan semua perhatianmu dalam bentuk kenyamanan untukku sendiri, walaupun semuanya indah. Kau yang tak mungkin ku miliki, seperti pelangi, ku hanya bisa menatapmu dan menikmati bias pesonamu. Harusnya aku menyadari, bahwa biasmu tak hanya aku saja yang merasakan, tetapi juga dengannya. 

Kumerindukanmu dalam diamku, tetapi rindu ini tak akan pernah bisa menepi, karena yang harus kusadari, seperti layaknya pelangi, kau hanya berada jauh disana, dilangit. Terlalu indah, sangat indah, tetapi tak terjangkau. 

Aku berharap bisa menghindarimu, namun mengapa kamu selalu berada ditempat yang selalu aku tuju? 

Entahlah, porsimu memang segini dalam kehidupanku. Maaf jika aku salah mengartikan seluruh perhatianmu terhadapku, yang hanya sebagai teman. Berbahagialah, doa indah selalu terucap untukmu pelangiku, terimalah …

Friday, August 15, 2014

Kau datang lagi



“A hundred times a day, thousands of times, I resent it and resent it even more. Why did I have to meet you? Why did it have to be you? You make me resent… and blame myself. You are someone who makes me regret. You’re like a nightmare I don’t want to remember. Didn’t I tell you? Go back to the time when you didn’t know me. Go back, and meet a girl better than me and live a happy life everyday. Forget a punk like me and live happily. Please live that way.”- City Hunter

***
Bandung,  15 Agustus 2014

Setelah semua menghilang, setelah kau acuhkan perjanjian kita, senja tak lagi sama dengan apa yg pernah kulihat. Tak memancarkan keindahan, tak berkilauan, dan bias ronanya tak sedikitpun menembus dinding hatiku yang beku. Ternyata sejahat ini sosokmu, hingga sampai aku kehilanganmu pun kau membuatku lebih egois menutup hati untuk merasakan keindahan dunia luar. Seindah senjakah dirimu, hingga aku mampu menutup hatiku rapat-rapat selama bertahun-tahun ini? Seberkilau rona matahari tenggelamkah dirimu, hingga kau membuatku memilih –milih tetapi pada akhirnya kau juga yang kupilih?

Kini aku sadar, bahwa tak ada sedikitpun memori tetang kita –tentangku, yang masih terekam hangat diingatanmu. Bagimu aku hanya masa lalu yang sudah tergantikan oleh wanita lain, dan hanya masa lalu yang duduk disudut ruang ingatanmu, bukan hatimu. Aku mencoba merelakan semuanya, mengikhlaskan segalanya, dan berharap Bandung adalah tempat yang tepat untuk membantu menetralisir pikiran hati dan perasaanku kembali normal. 

Bentuk dari merelakan adalah tak mengungkit perasaan atau kenangan yang pernah ada, bukti dari mengikhlaskan adalah tak dengan sengaja membangunkan bayangmu di sudut kenangan dan mengundangnya masuk untuk menikmati crita klise bersama, dan bukti dari move on adalah bersikap biasa ketika melihatnya atau sekedar bertatap mata walau hanya 10 detik.

Sejauh ini belum dikatakan rela ataupun ikhlas, karena memang sulit untuk membangun benteng pertahanan lagi. Sosokmu begitu angkuh merobohkan bentengku ketika aku benar-benar telah bisa merelakan dan melepaskanmu. Dan sejauh aku tak memandangmu, bentengku masih tetap utuh, walaupun harus runtuh setidaknya masih ada pondasi kuat untuk niat mengikhlaskan dan melepaskanmu pergi dengan orang lain. 

                Kau datang lagi, kembali membawa kenangan lama yg sudah lama yg sudah mati-matian ku lupakan. Bukan aku menolak dan tidak mempersilahkanmu masuk, hanya saja masihkah kau ingat kekejaman yang telah kau lakukan padaku? Masih ingatkah kau perlakuanmu yang menyakitiku? Masih ingatkah kau tentang kita? Masih adakah aku didalam ingatanmu selama ini, atau hanya karena kau telah sendiri dan kau melihatku sendiri, maka seenaknya kau mendoktrin kesehatanku dengan racunmu yang mungkin suatu saat aku bakal susah untuk merelakanmu lagi?

Selama ini kaulah yang sanggup menjadikanku orang yang tegar dan berani, kau pula yang sanggup menjadikanku sengsara selama-lamanya. Kau boleh saja memutuskan harapanku, tapi jangan harap kau bisa membuatku berharap lagi terhadapmu kini. Sudah banyak kesakitan yang harus kutanggung selama bertahun-tahun ini, hanya karena menjadikan perasaan ini berat hati untuk dipikul sendirian. Kemanakah perginya kau yang pernah berkata menyayangi selamanya dan mencintai sehidup semati? Tak peduli dengan omongan orang lain tentang perbedaan kita? Kemanakah perginya kau yang pernah berkata bahwa perbedaan bukan akhir dari segalanya, begitu pula dengan jarak?

Apakah kau ikut merasakan luka? Dan itukah alasan yang membawamu kesini tuk menekan hatiku lagi? Jangan anggap aku tak merasakan luka, yang kurasakan jauh lebih lama darimu. Semenjak kita mengakhiri semuanya, semenjak jarak menjadi penghalang untuk memperbaiki segalanya, semenjak ada dia yang membuatku semakin susah untuk membuktikan, dan semenjak kau lebih memilih dia daripada aku yang pernah kau sebut sebagai cinta pertamamu. Kau torehkan kesakitan berkali-kali, tapi ku tetap saja menerima kehadiranmu kembali. Kau berlari padaku ketika wanitamu lebih memilih orang lain, dan tetap saja aku mengulurkan tangan padamu, memeluk hangat tubuhmu dan mengobati lukamu. 

                Terlalu bersabarkah aku? Hingga beraninya kau menorehkan luka lain padahal luka lama pun belum tentu sembuh. Bagiku dengan kau kembali, dan diam sebentar disampingku, kau telah membantu mengeringkan lukaku. Tapi apa bedanya ketika sudah kering lalu kau lukai lagi?

Menyesal? Jangan tanyakan. Aku cukup lebih dari menyesal telah membuatmu lancang keluar masuk kehidupanku. Menyeret kenangan yang jelas-jelas telah tertata rapi di sudut ruangan hati, membangunkan nuansa masa lalu yang jelas-jelas sudah kututup rapat dalam imajinasi. Ah kamu terlalu abu-abu dalam kehidupanku, terkadang menjadi sosok yang romantis tetapi sering menjadi sosok yang menyebalkan. Bisakah kau menjadi malaikat selamanya walaupun bukan malaikatku?
Haruskah aku merindukan yang sudah-sudah, ketika sudah pula kau mengetahui kenyataan bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama lagi?

               Kita berbeda, dan kau yang membuat perbedaan itu semakin nampak jelas di depan mata. Aku yang sudah mempersiapkan diri dari awal untuk setia bersama-sama meluruskan perbedaan ini, tapi nyatanya kaulah yg jelas memupuskan harapan kita untuk bisa terus bersama dalam keyakinan yang berbeda.

Terkadang aku ingin tertawa melihat kebodohanku yang masih saja mengingatmu, menangisimu. Mengingat semua janji yang pernah kau ucapkan, mengenang semua kenangan manis yang pernah kita lakukan, menangisi kegoblokanku karena telah melepaskanmu begitu cepat. Haha, sosokmu memang terlalu kental dihidupku, tapi tolong jika kali ini yang kau tawarkan adalah cinta sesaat, lebih baik menyingkirlah. Karena kini aku sedang merangkai masa depan, dan mencari orang yang tepat. Dan itu bukan kau!

Ingatlah bahwa kita berbeda,
mungkin hanya itu yang bisa membuat kita sama-sama sadar. Bahwa Tuhan kita sedang tidak merestui jalan kita. Berpegang eratlah pada rosariomu, dan ikuti jalan indah yang diberikan Tuhanmu. Dan aku pun aku menggenggam erat tasbih di tanganku, dan menjalani alur crita indah yang telah dirancang Tuhanku untukku.
                Semoga kenangan kita masih terekam indah dimemori satu sama lain, aku tidak ingin melupakan, hanya saja mungkin sudah cukup waktu untuk kita. Dan mungkin ini jalan Tuhan untuk kita, Tuhan mengajarkan sesuatu dari cerita kita.

Tenang, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Hanya saja mungkin berbeda porsinya. Semoga kau menemukan apa yang kau mau, dan aku menemukan apa yang ku mau, di jalan yang telah Tuhan berikan. Berbahagialah, kini aku mungkin bisa memulai lagi untuk lebih mengikhlaskanmu dan semua kenangan kita.

Je me souviens
-hykp