Monday, April 20, 2020

Bagaimana rasanya menyesal?

Tahukah kamu?

Yang kamu berikan untuknya sekarang, adalah yang pernah kudapatkan dulu. Yang membuat dia jatuh cinta hingga bercerita dengan bangga kepada teman dan keluarganya, adalah yang kulakukan berulang-ulang dulu. Yang membuatnya tersenyum dibalik pesan-pesan mu, adalah yang dulu membuatku bertahan selama itu. Yang dulu ku akui dalam hati dan tidak pernah berhenti kupamerkan sana sini, ternyata kini aku tergantikan dengan yang lain.

Jadi, bagaimana rasanya menyesal?

Sesak. Banyak sekali hal yang seharusnya bisa kita selesaikan, namun bodohnya aku memilih untuk meninggalkan dan kamu menduakan. Bukan dia yang membuatku marah karena menggantikan posisiku di duniamu, aku hanya menyesali betapa mudahnya aku memberikan kamu kepada orang lain hingga lupa seberapa besar dan jauh usaha kita selama bertahun-tahun untuk selalu menjaga dan juga bersama. Tidak ada lagi usahaku dalam mempertahankanmu untuk terakhir kali, padahal aku sadar bahwa setelah semua ini aku akan susah untuk melalui semuanya sendiri.

Ternyata benar, menyembunyikan kebohongan bahwa aku baik-baik saja tanpamu selama ini tidak semenyenangkan dan semudah yang aku pikir. Aku selalu berusaha menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan keberadaanmu dan bagaimana kabarmu, mana aku tahu, toh selama ini kita memutuskan untuk tidak bertemu dan memberi kabar demi menjaga apa yang memang perlu dijaga. Aku yang selalu berusaha untuk menahan tidak mengingat ada memori apa dibalik semua foto-foto kita, walaupun akhirnya secara tidak sadar teringat beberapa percakapan dan juga kenangan didalamnya. Lelah. Aku pikir ini hanya masalah waktu dan semua akan berlalu, ternyata aku salah, semakin lama ternyata aku semakin larut didalamnya. Tidak bisa keluar, walau banyak orang menjulurkan tangan. Bukan tidak bisa, mungkin aku saja yang tidak siap atau takut untuk memulai semua dari awal.

          Beberapa kali aku memanfaatkan akun media sosial milik teman, atau sengaja membuat akun palsu hanya untuk melihat bagaimana kabarmu dan apa saja aktivitasmu. Tempat yang kamu kunjungi bersamanya, bukankah itu tempat-tempat kita dulu, dan kini kamu lakukan bersamanya? Mengapa tempat-tempat yang menceritakan kita, dengan mudah kamu datangi untuk mengukir cerita baru dengannya? Bahkan aku tidak pernah dengan sengaja mengajak orang lain untuk mendatangi tempat-tempat yang kita habiskan untuk berdua, dulu. Bukankah melakukan hal dan mendatangi tempat yang sama seperti dulu akan membuatmu mengingat masa lalu? Atau bahkan tidak sama sekali?

           Mungkin sebaiknya kamu pergi, agar aku bisa dengan mudah mengakhiri cerita ini. Pergilah yang jauh dari sini, berlarilah ke tempat yang aku tak tahu itu dimana, hingga aku tidak lagi mengenali keberadaan kalian. Jangan menggantikan kenangan-kenangan kita yang sudah ada. Aku tidak membicarakan posisiku. Karena sungguh kini kamu bebas mau mencinta dan dicinta oleh siapa, toh tidak ada lagi hakku disana, sekeras apapun aku berdoa dan meminta pada Tuhan. Pada hati dan hidupmmu, aku sudah terganti oleh dia yang baru. Jadi, putuskanlah untuk berbahagia selalu, meski tanpaku.

Monday, February 24, 2020

Selamat Ulang Tahun, D :)

mini note : play lagu Ardhito Pramono - Happy as your backsound to read this one ya, thanks.

---

Subang, 24 Februari 2020.
"I do never expected this February will guide me to the highest of high and also the lowest of low. This is my birthday, dan harusnya menjadi hari yang paling bahagia bukan?", ini menjadi kalimat yang menemani perjalanan dari Bandung menuju Subang malam itu. Dengan perasaan yang tidak seperti biasanya, bahkan mungkin 12 jam sebelumnya. 
Hari ini,
aku mencoba melawan banyak rasa, kecewa salah satunya. Entah apa yang harus dipusingkan, atau ditangisi. Setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, ternyata aku tidak cukup tangguh untuk menjadi utuh. Malam ini, dengan segala ucapan dan doa bahagia dari orang tersayang, aku seratus persen jatuh. 

Aku masih ingat satu kalimat nasihat dari teman semasa kuliah, singkatnya begini 'Dipuji tidak terbang, dicaci tidak tumbang'. Tapi apa daya mungkin selama ini banyak hal yang dilewatkan untuk hanya sekedar bersyukur atas segala yang ada. Kali ini mungkin aku harus benar-benar mengalah, pada ego dan mimpi-mimpi berlebihan yang pernah aku (dan mereka) ciptakan. Banyak hal yang mungkin susah diterima, dan bingung harus darimana untuk dijelaskan. Rasanya seperti bercanda, banyak doa-doa yang menguap di udara tanpa ada satupun yang diadakan di dunia. Seperti dunia dan Tuhan tidak ikut serta berbahagia di hari yang harusnya menjadi hari paling bahagia ini.

Ribuan kali aku menenangkan diri, meminta untuk istighfar.
Banyak hal yang harus disyukuri, bukan hanya hal baik saja tapi yang buruk juga. Ya mungkin Tuhan sedang menguji, seberapa kuat kita dalam menerima dan memainkan peran ini di dunia. Jika ini adalah cara Tuhan untuk memintaku berhenti, maka aku akan berhenti. Tuhan meminta aku untuk mengevaluasi dan memantaskan diri untuk melanjutkan peran di dunia.

Nampaknya memang aku butuh jeda, berhenti sejenak, untuk kembali dengan jiwa yang lebih bahagia. Aku pamit untuk beristirahat sejenak, untuk kembali menjadi lebih kuat (love).

---

Dearest me,Happy birthday dear. Lets love and around healing you, as soon as possible!I love you than you know, you did good so far. 
- Danies.

---

Terimakasih untuk kalian yang sudah mendoakan sebaik mungkin. Terimaksih juga untuk kalian yang sudah setia dan sedia pelukan untuk menenangkan, yang selalu digarda terdepan menyiapkan badan dan juga telinga. Sekali lagi, terimakasih untuk yang sudah mampu mengerti dan tidak pernah pergi.

Maaf jika terlalu banyak harapan yang belum bisa dikabulkan, maaf telah mengecewakan.
Aku pamit, dan akan kembali secepatnya.

- Danies.

Sunday, November 10, 2019

Kita dan Kata.


          Sudah lama dari hari dimana aku tidak membahas tentang kita, tentang kita yang tidak akan pernah selesai dengan sebuah kata-kata. Kamu, yang selalu hangat lebih dari mentari pagi. Yang terbit bukan dari Timur, melainkan dari dalam hati. Ada banyak cara untuk mencintai, dan beberapa orang melakukannya dengan cara yang sederhana namun tetap bermakna. Dan kali ini, aku tidak memaksakan usahaku agar Nampak dimatamu. Akan aku lakukan secara sederhana, karena dunia tidak perlu tahu bahwa seseorang sedang mencintaimu. Mungkin ini akan menghabiskan banyak sekali tenaga hanya untuk menyimpannya rapat-rapat dalam hati, agar kamu tidak berubah lalu pergi.

            Ternyata semakin samar usahaku menaklukanmu sebagai pemilik hati, semakin kuat pula rasa sakit dan luka yang melekat pada diri. Melihatmu yang semakin lupa diri hingga memposting hal-hal yang memancing benci, membuatku seakan “sepertinya memang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi” sekalipun aku berusaha menjadi paling dominan di sisi, yang selalu ada baik dari fisik maupun materi, sepertinya itu tidak akan cukup untuk membuatmu bertahan disini.

Butuh waktu lama untuk mencari cara agar aku bisa sepenuhnya merelakan, tidak peduli lagi dengan segala perbuatan hingga semua postinganmu di sosial media, atau bahkan sekedar membalas pesan singkat di Line ataupun WA.

Kamu,
tidak sepatutnya datang dan pergi seperti ini, memperjelas kebodohan bahwa aku lagi-lagi sedang dimanfaatkan. Mungkin ini akan menjadi hal paling murahan bagimu, tapi mengertilah bahwa ini bukan seperti aku, wanita yang mudah menaruh rasa dan hati pada seorang pria, apalagi seperti mu. Bagiku, kamu adalah teman dan juga lawan yang suatu waktu bisa menghancurkan. Lucu, hingga untuk meluapkan benci karena diperlakukan seperti ini pun aku tidak mampu, apalagi merelakan kamu yang mungkin suatu saat nanti benar-benar lupa dengan semua apa-apa yang telah aku bagi dan beri.

Aku, 
Aku hanya wanita yang tidak pernah bisa menolak untuk menyambutmu pergi dan kembali,
           Semoga kamu lekas mengerti, apa arti ketulusan yang telah ku beri selama ini. Menanti bukan hal yang mudah, tapi aku yakin pilihanku takkan salah. Untuk sebuah cinta, aku hanya perlu menerima lalu berkorban, sebesar tekad yang ingin ku menangkan. Tapi setelah perjalanan Panjang ini, aku sedikit mengerti bahwa hati sudah tidak cukup besar kapasitasnya untuk menanti dan kaki sudah tidak cukup kuat untuk berlari lagi. Jika kamu masih ingin bermain, maka teruskanlah. Kamu pasti temukan akhir dari datang dan pergimu. Entah itu memilih untuk tinggal dengan hatiku, atau pergi dan menghilang lagi.

Jika baru tumbuh satu, sudah tercabik oleh waktu. 
Apakah sanggup menahan pilu dikala tumbuh seribu? Apa memang kemerdakaan hati ini pun bukan milikku?


Friday, November 8, 2019

Selamanya, kita?


         Mungkin kita ini hanyalah sepasang perasaan liar yang tumbuh begitu saja. Kita yang ingin saling menemukan dan menjadikan nyata semua rasa yang tumbuh dengan sangat lancang disetiap sudut hati. Kita yang ingin saling menjemput, tapi terlalu pengecut. Dan kita yang terlalu dekat untuk menetap, dan memaksa hadir meski tak pernah tampak di hadapan mata.

Kita?
Mungkin lebih tepatnya aku, bukan kita.

Sadarkah kamu, bahwa selama ini yang aku lakukan adalah memperpanjang kebahagiaanku dan menunda sedih dengan cara menahanmu melalui pesan-pesan ku di semua situs jejaring sosialmu, sedangkan kamu mungkin sekarang sudah lupa bagaimana cara menghubungiku seperti lalu-lalu. Aku berusaha menepis semua pikiran bahwa “kamu hanya datang padaku ketika butuh dan pergi ketika bosan” , menepis semua rasa bahwa aku sedang dimanfaatkan, dan menjauhi keinginan untuk kecewa jika memang itu benar adanya.

          Harusnya aku berbahagia, melihatmu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mampu memperjuangkan apa yang ingin kamu capai, harusnya. Tapi kenapa ini menjadi sangat menyebalkan hanya karena aku sudah tidak bisa menerima pesan dan teleponmu se-intens dulu.

Aku benci harus mengecek ponselku dalam hitungan detik, hanya untuk memastikan jika pesanmu tidak tertimbun, walaupun tidak adil rasanya karena kamu dengan sadar atau tidak sering menimbun pesan-pesan dariku. Harusnya dari sini aku paham dan sangat sadar bahwa beberapa kali sikapmu sudah menunjukkan kalau aku bukan siapa-siapa, selain orang asing yang sengaja dikunjungi ketika sudah tidak ada orang lain yang bisa dikunjungi untuk berbagi air mata dan luka. Harusnya. Tapi kenapa membuat diri sendiri sadar terasa sangat susah?

Aku yang selalu menyusahkan diri sendiri untuk terlibat dalam setiap cerita dan luka, yang selalu berusaha menolong orang lain tanpa bisa menolong diri sendiri yang sebenarnya sudah jatuh terjerembab dalam lubang hitam yang pekat, yang menawarkan selalu ada untuk menjadi telinga untuk mendengar, menjadi bahu untuk bersandar, menjadi raga untuk berlindung meski harus bertepuk sebelah tangan, dan hanya teman. Ah entah, aku menginvestasikan hatiku secara berlebihan padahal dengan sangat sadar bahwa aku tidak pernah mendapatkan apa-apa, hanya luka akhirnya.

         Maafkan aku, manusia si gampang jatuh hati ini. Namun kali ini, izinkanlah aku untuk mengagumi keseutuhanmu saja. Walau aku sadar bahwa ini hanya menambah luka namun aku sangat senang bisa menemukanmu diantara sesak manusia yang sibuk mencari kesempurnaan ditengah dunia yang semakin bercanda.

Walau aku tahu kita tidak akan lama, tapi bolehkah aku menikmati “kita” sebentar yang selalu ku harapkan selamanya?


Sunday, November 3, 2019

Rampung

          Setelah sekian lama ku kau manfaatkan dan rumpang, akhirnya datang juga hari dimana aku menerima dengan ikhlas atas segala keputusan menyakitkan yaitu perpisahan. Aku selalu berfikir bahwa ini akan susah untuk diakhiri, namun aku juga tidak pernah berfikir bahwa cara seperti inilah yang mampu membuat kita berakhir tanpa debat dan penolakan.

Sudah tidak ada lagi jarak yang merenggangkan, kini kita telah sepenuhnya terpisahkan. Akhirnya selesai sudah hubungan yang kemarin memberatkan dan penuh luka. Telah selesai tugas merindukan raga yang terpisah serta menahan gejolak rindu yang berujung pilu. Tak ada lagi genggaman tangan dan tatapan yang memabukkan, kini kita bebas dari hal-hal candu yang menyakitkan. Menyebalkan, karena melepaskan seseorang yang terbiasa ada dan sedikit banyak mewarnai semesta selalu lebih sulit dari mencintai walau itu harus bertepuk sebelah tangan.

          Keputusan sudah disepakati, meski bukan kita yang pada akhirnya mengakhiri tapi aku yakin ini yang terbaik. Sekarang mari kita selesaikan ini tanpa perayaan, kita hanya perlu melangkah maju dan menjauh dari satu sama lain. Seperti saat kita bertemu pertama kali, tak ada persyaratan dan tak ada saling memberatkan.

Tentang kita, tidak ada cerita buruk untuk dibagi, tidak aja pula kekurangan masing-masing yang perlu ditertawai. Tidak perlu marah karena keinginan kita tidak terpenuhi, tidak perlu mengeraskan kepala dan menguatkan ego untuk menuduh siapa diantara kita yang paling bersalah atas perpisahan. Karena aku yakin, bukan kamu yang salah, begitu juga dengan aku.

Jika seandainya menghapus kenangan tentangku memang masih belum bisa, mungkin menghapus nomor dan semua fotoku dari ponselmu merupakan awal yang baik dari segalanya. Kalau pergi menjauh dan meninggalkanku juga masih susah, cobalah untuk berhenti mencari tahu tentang aku itu akan jadi cara yang luar biasa untuk menyingkirkanku. Tidak perlu pedulikan aku, karena aku punya cara untuk bangkit dan bahagia ada ataupun tanpamu.

Mari kita mulai dari awal lagi, aku dengan diriku sendiri dan kau pun dengan dirimu sendiri. Anggap saja kita tak pernah bertemu hingga lebih seperti ini. Kita, tidak perlu ada kata untuk kembali daripada mengulang “Sampai Nanti” hingga dua kali.

Mari kita izinkan saja hati yang lain untuk datang dan menghuni.
Setuju?

Monday, September 30, 2019

Hanya Teman

Ini tentang kamu, yang semakin dekat dari beberapa bulan lalu.
Kali ini sengaja aku buat rangkaian sajak dan cerita tentang bagaimana aku menghadapi perasaan yang tidak seharusnya ada.

Kamu,
Kamu ada dan sangat jelas dihidupku. Seseorang yang bisa dengan mudah kurindu tapi tidak bisa tersampaikan. Setiap tidak ada kabar darimu, ada rindu yang selalu datang. Aku pikir aku harus mengatakannya padamu, tapi tiba-tiba aku sadar bahwa mungkin bagimu aku hanyalah seorang teman. Setelah itu aku menolak rinduku ada.

Tiap kali aku merindukanmu, aku menahan diri dan membentak hatiku : "Rindu? Siapa yang kau rindu? Siapa yang membuatmu pilu membiru? Dia? Kamu bahkan tidak tahu apakah dia sama sepertimu yang merindukan, mencari-cari ketika hilang atau mungkin tidak sama sekali. Berhenti!"

Kita hanya sebatas teman,
Banyak sekali rindu-rindu yang tidak bisa ku sampaikan. Waktu dan segala bentuk perhatianmu tidak bisa ku artikan sebagai sebuah perasaan lebih dari status kita yang hanya teman. Aku tidak memiliki hak untuk merasa terlalu cemburu dan khawatir dengan kehidupanmu juga sekelilingmu. Aku tidak berhak untuk menyuruhmu untuk tidak terlambat makan, mengingatkanmu akan shalat, mengajakmu bertemu atau nonton konser band favorit masing-masing, merayakan momen-momen bahagia dalam hidupmu, bergantung hingga manja padamu. Aku sadar, memang aku ini siapa? Tidak lebih dari seorang teman bagimu.

Intensitas waktu yang lebih banyak kita gunakan untuk menanyakan kabar, membicarakan kejadian hari ini, menertawakan ini dan itu hingga menjelaskan satu persatu kesedihan yang kita alami, bukan satu-satunya hal yang berhak aku klaim sebagai kebiasaan yang harus kita lakukan ketika aku rindu. Aku juga tidak bisa menanyakan "Kamu rindu aku tidak?", sekalipun kamu bisa sangat mudah ku telepon atau video call dengan alasan selain rindu. Tapi aku hanya tidak mampu menyadari siapa aku di hidupmu.

Setidaknya aku tetap kamu perlukan untuk menjadi temanmu, yang mendengar keluh kesahmu, yang selalu kau libatkan aku dalam permasalahan hidupmu. Aku hanya perlu kamu anggap ada, sekalipun hanya sebagai teman, itu sudah lebih dari cukup.

Bisa?

Friday, March 1, 2019

Jangan ajari ku tuk berpaling.

Kita berbeda,
tentang agama dan juga keyakinan.

          Mencintaimu, artinya aku harus siap dengan sejuta rasa yang akan datang nantinya. Karena cinta tidak hanya soal tawa serta kebahagiaan, ada sakit didalamnya dan akan semakin sakit jika ada cinta sebagai pondasinya. Pernah beberapa kali aku ingin menyerah saja, dalam hati aku selalu bertanya-tanya pertanyaan yang sama tentang kita. Bertanya untuk apa terus-menerus menunggu dan mengharapkan aku dan kamu menjadi sebuah kita, sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tidak akan pernah ada kita.

Aku sudah pernah tiba pada suatu tekad untuk pergi menjauh, melupakanmu dan melanjutkan hidup. Tapi kurasa itu hanya sia-sia. Segala yang kurencanakan seketika pudar karena kamu menghampiriku dan tersenyum.

          Suatu hari kamu menanyakan tentang cinta dan kita. Bohong jika ku jawab aku tidak pernah memikirkannya. Kenyataannya adalah aku selalu mencari-cari jawaban lain untuk pertanyaan yang sudah jelas tidak ada jawabannya. Kita hanya memaksa satu sama lain, memperpanjang kebahagiaan dan menunda sedih agar tidak terluka secepat ini. Padahal aku sadar jika rasa ini tersimpan terlalu lama dan ditambah bertemu denganmu tanpa jeda, ini akan lebih menyakitkan.

Pernah kamu bahas sekali lagi tentang kita, tentang kebahagiaan dimasa depan. Aku tau, aku mencintaimu tanpa tapi dan akan selalu tumbuh dengan seiring bertambahnya hari. Dan aku pun juga sangat tau, dan kurasa kamu pun sadar, bahwa kita tidak memiliki kesempatan. Berkali-kali kita berusaha mencari jalan keluar, namun yang kita temui lagi-lagi adalah jalan buntu.

          Sampai pada akhirnya kamu menawarkanku untuk menanggalkan tasbih-ku dan memeluk rosario-mu. Aku yakin akan datang hari dimana keputusan terakhir ini terucap dari mulut satu sama lain. Bertambah lagi satu pertanyaan yang susah kutemukan jawabnya. Setelah sejauh ini, satu hal yang kusadari bahwa ternyata rasa cintaku kepadamu tidak lebih besar dari rasa kasih dan cintaku terhadap Tuhan-ku, dan kurasa begitu juga kamu.

Aku merelakan segala mimpi, rencana dan kebahagiaan dimasa depan denganmu. Aku percaya Tuhan selalu memiliki cara untuk membahagiakan ciptaannya, dan aku pun percaya bahwa kita memiliki bahagia kita masing-masing. Mungkin tidak harus satu atap rumah, tapi ingat bahwa kita selalu dibawah atap hati yang sama.

Mencintaimu sedalam dan selama ini, kurasa cukup. Untuk apa kita memaksakan hal yang diluar kapasitas kita? Jika Tuhan saja bisa kamu khianati, bagaimana aku?

Sunday, February 24, 2019

Membi[n]asakan.


Galaksi Bimasakti, 24 Februari 2019.

          Aku masih ingat lima tahun lalu, disudut ruang kamar, ditengah malam. Hanya sedikit cahaya dari lampu jalan yang masuk melalui celah jendela kamarku. Aku memikirkan tentang hari-hari dimana semua orang yang selalu ada selama ini, di kemudian hari akan pergi. Memikirkan bagaimana perasaan dan hidupku tanpa mereka. Karena aku rasa cukup dengan semua sakit dan sepi yang datang silih berganti, tanpa henti, selama ini. Harus kehilangan semua orang termasuk wanita luar biasa yang biasa kupanggil dengan Mama, tanpa aba-aba dan tanpa persiapan. Tidak akan bisa kujelaskan bagaimana rasa sakit dan luka disetiap sudut ruang setelah kehilangan mereka, buat beberapa orang mungkin paham tapi tidak semuanya.

Dan tepat hari ini, setelah ketakutan-ketakutan yang selalu menghantui selama lima tahun terakhir. Kini aku sadar arti dari kesedihan dan definisi sepi yang sesungguhnya. Bukan, ini bukan lagi tentang kehilangan arti rumah pada seseorang, melainkan lebih dari itu. Lebih dari itu, aku kehilangan mereka dan diriku didalamnya.

          Akan datang hari dimana, semua yang dulu selalu ada, kini perlahan-lahan pergi lalu satu persatu orang asing mengetuk hati. Semua yang pernah berjanji tidak akan mengkhianati, pada akhirnya pergi dan tak akan pernah kembali. Hingga akhirnya tanpa disadari, posisi mereka semua terganti. Ya inilah kehidupan, ketika alam ikut berkontribusi penuh dengan memperlihatkan satu persatu sifat serta menunjukkan peran manusia didalamnya, mana yang peduli dan mana yang hanya berbasa-basi.

Yang menyakitkan dari cerita ini adalah tanpa disadari ternyata mereka yang kita anggap paling paham, mengerti dan sedekat nadilah yang akan dengan mudah mendorong kita ke dalam jurang kekecewaan. Jurang yang teramat kelam, palung paling dalam, yang mematahkan semangat serta harapan dan juga impian. Namun satu yang kupelajari, bahwa hidup tidak boleh berhenti disini. Karena hidup itu harus terus berjalan, ada atau tidak ada mereka dalam pelukan. Karena ketika semua

Sampai pada hari ini, akan ada banyak lagi mereka yang menghampiri. Entah hanya untuk mengerti dan menemani, atau memilih untuk berhenti lalu pergi lagi. Karena hidup harus terus berjalan, ada atau tidak ada mereka dalam pelukan. Dan sekalipun semua tidak seperti biasanya, maka terbiasalah dengan semuanya.

- dmw.

Friday, February 15, 2019

Mr. Always Right (part 2)

          Kita pernah menjadi terang pada gelapnya kehidupan, pernah menjadi nyaman, sangat nyaman, untuk masing-masing raga yang lelah dan butuh bersandar. Tidakkah kamu sadar? Yang kita lakukan hanya kesia-siaan. Kita hanya sedang memperpanjang kebahagiaan dan menunda kesedihan. Aku dan kamu hanya belum siap untuk menghadapi, tanpa satu sama lain. Kita memaksa sedemikian rupa, hingga satu persatu harus merasakan luka. Kamu akan tetap menjadi kamu yang selalu susah kupahami, dan aku akan selalu menjadi aku yang selalu tidak bisa mengimbangi.

Mungkin kita adalah contoh dari bagian manusia yang kurang bersyukur, yang selalu saja menuntut dan meminta serba lebih, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya tugas kita adalah saling menyempurnakan bukan menyalahkan segala bentuk kekurangan. Tidakkah seharusnya kita berhenti untuk memperjuangkan ego masing-masing lalu belajar memahami bahwa manusia juga butuh untuk dimengerti. Aku pun sama dengan manusia lainnya, yang setiap perjuangan dan pengorbanannya ingin dihargai, yang mudah menangis jika dilukai, yang sesekali juga butuh dimengerti dan menjalani hubungan pasti tidak terlalu banyak tapi ataupun nanti.

         Apa mungkin lebih baik kita akhiri saja semua omong kosong ini? Mari kita berhenti menyakiti satu sama lain. Kali ini aku berjanji untuk benar-benar berhenti, tidak akan lagi mencarimu, tidak akan lagi mengejarmu, tidak akan lagi sakit melihat isi instastories-mu, tidak akan lagi salah tingkah ketika disampingmu dan akan ku pastikan hatiku tidak melambung ketika bertatap denganmu, walau entah bagaimana caranya tapi akan kucoba. Untukmu, aku tidak memaksamu untuk menjauhiku, tidak memaksamu untuk melakukan seperti apa yang akan kulakukan untuk sekedar menghilangkan rasaku padamu. Hanya satu pesanku, berhentilah menjadi sosok yang selalu ingin menang dan didengar, mulailah menjadi pria yang bertanggung jawab dan punya pendirian. Satu lagi, jangan banyak singgah dan memberikan harap karena sama halnya dengan aku, wanita butuh sesuatu yang pasti bukan yang manis lalu pergi.

Katakan bahwa keputusanku ini sudah benar, katakan, jangan membuatku menyesal nanti. Karena aku hanyalah aku, yang pada akhirnya akan selalu luluh lagi padamu. Semoga aku bisa banyak belajar dari cerita kita selama ini, begitu juga kamu. Jika ini akhir dari cerita kita, aku ikhlas.

Selamat melanjutkan perjalanan, selamat menikmati pencarian,
semoga ingat untuk merasakan dan kuat untuk bertahan. See you around (happy cry).

-btl.

Friday, February 8, 2019

Mr. Always Right (part 1)


          Mungkin memang benar kata orang, bahwa mencintai tidak harus memiliki. Mencintaimu contohnya; aku tidak perlu memiliki ragamu untuk membuktika bahwa rasa ini benar ada. Dengan aku melihatmu sehat, hidup dengan baik, bahagia dan selalu tersenyum, meski bukan aku alasan dibalik semuanya, namun itu sudah lebih dari cukup. Ya, aku memang pengecut, yang diam-diam menyimpan hati untukmu, yang membiarkan rasa itu terus tumbuh tanpa sepengetahuanmu, dan yang hanya bisa mengagumimu dari jauh, hingga tanpa ku sadari dua tahun telah berlalu.

Kamu menciptakan rasa nyaman, kamu membuatku penuh harap akan kita, namun seketika kamu buat itu semua runtuh. Kamu membuatku terbang, namun dengan sengaja kamu pergi menghilang. Tidak sekali dua kali aku merasa diperlakukan tidak adil olehmu, diperlakukan tidak sebagaimana aku memperlakukanmu. Dan yang menyebalkan adalah melihatmu biasa saja, tidak merasa bersalah sedikit pun atas semua itu. Mungkin aku yang terlalu berekspektasi atau menaruh harapan yang berlebih akan kita. Beberapa kali aku memutuskan untuk menjauh, namun bodohnya langkahku selalu kembali padamu. Dan pada akhirnya aku selalu memaafkan segala kesalahanmu, memaklumi semua omong kosongmu, mempercayai semua janjimu, meski sebenarnya aku tahu bahwa suatu hari nanti kamu akan mengulanginya lagi. Bodoh!

          Kamu selalu merasa bahwa semua yang kamu lakukan selalu benar, tidak ada satupun yang boleh mengkoreksi apalagi memperbaiki. Sedangkan kamu selalu melihatku sebagai objek yang selalu melakukan salah, tanpa kamu mau tau mendengar dan mencoba untuk memahami segala bentuk penjelasan. Tidakkah kamu tahu bahwa dunia tidak hanya mengitarimu? Tidakkah kamu sadar, bahwa tidak semua manusia diciptakan untuk sependapat denganmu dan mengerti kamu? Mungkin saar ini hany ada aku yang selalu menerima segala perlakuan dan kekuranganmu, yang diam-diam tanpa disadari kamu melukaiku. Mengapa selalu aku yang memperjuangkan kamu, mempertahankan kita? Mengapa?

Banyak hal yang tidak kamu sadari, begitu pula dengan batasan sabar dan lelahku dalam menghadapimu. Yang suatu saat bisa habis, yang suatu hari nanti membuatku dengan mudah untuk meninggalkanmu.

- Btl.

Friday, February 1, 2019

Tidak ada kita.


          Memang ada beberapa perpisahan yang ditakdirkan tanpa pamit, dan selamat tinggal.
Tanpa titik ataupun koma, mereka berakhir dengan sejuta tanda tanya. 

Kamu tahu hal apa yang paling menyakitkan di bumi ini? 
Ternyata bukan lagi tentang senyummu yang terenggut dalam keseharian, bukan tentang lenganmu yang tak lagi tawarkan pelukan, atau tentang langkah kita yang tak bisa lagi beriringan, 
melainkan tentang harapanku yang terlalu tinggi pada setiap kehadiranmu disini. 

Aku sering bertanya adakah cinta diantara kita? Atau pertanyaan lain, bagaimana kita di masa depan? Kamu selalu tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, seolah-olah ini semua tidak memiliki arti yang besar untukku. Jika memang tidak ada cinta pada kita, mengapa kamu selalu mencariku kembali ketika akhirnya aku memilih untuk pergi? Mengapa tidak kamu sudahi, jika hadirku bukan yang selalu kamu nanti?

          Kali ini kamu mengancamku dengan segala alasanmu untuk pergi, dengan sengaja kamu berlari menjauh dari diri. Setelah berkali-kali ku maafkan kesalahanmu lagi, ku beri kesempatan-kesempatan lain namun lagi lagi kau pergi setelah menjatuhkan hati, ternyata kamu cukup tidak tahu diri dan memilih untuk pergi lagi.

Masih banyak sekali hal yang belum sempat kita hadapi, masih banyak pula kata hati yang belum kita sepakati, dan masih banyak juga mimpi-mimpi kita yang belum terjadi. Namun kali ini aku tidak akan memaksa lagi, untuk memintamu disini lebih lama lagi. Satu hal yang ku sadari, ternyata semakin aku mencintai, semakin aku menyadari, bahwa aku hanyalah teman yang selalu kamu cari ketika kamu hanya merasakan sepi.

         Ingatkah kamu, pertemuan terakhir kita? Aku menatapmu, dengan sisa-sisa air mata. Menyadari bahwa aku dan kamu tidak pernah menjadi kita, meskipun aku sungguh cinta, namun belum tentu kamu juga. 

Maafkan aku yang mungkin selama ini selalu memaksa, dan ku maafkan kamu yang selalu membuatku jatuh cinta. Terimakasih karena sudah hangatkan dingin dan teduhkan panas. Tugasku telah selesai, terimakasih untuk pertemanan ini, anggap saja kedekatan kemarin adalah bonus.


me,
bntl.

Wednesday, August 1, 2018

Kado dariku, untukmu.

          Tulisan ini ditulis pada suatu perjalanan dari Bandung menuju Bekasi; untukmu.

          Entah dengan alasan apa aku berani menjatuhkan hati kepadamu saat itu. Kita hanya dikenalkan oleh seorang teman dan bertukar kabar melalui media sosial. Aku yang terlalu mau, atau kamu yang terlalu teburu-buru kala itu? Entahlah untuk apa terus kupikirkan, bahkan kini kamu hanya bisa kukenang dalam sebuah angan.

Aku selalu meyakini bahwa tidak ada hari yang buruk, bahkan hujan pun tidak akan selalu turun. Karena bagiku semua ada masanya, begitu juga rasa dan harapan yang dipaksa untuk patah. Aku percaya pasti ada alasan yang cukup kuat dibalik rasa dan harapanku yang sengaja kau patahkan; hanya saja aku tidak ingin mengetahuinya, simpanlah.

          Kita pernah berjanji untuk bertemu, sebelum pada akhirnya kita berpisah. Ya aku masih sangat ingat untuk janjiku yang itu. Tapi maaf kali ini aku akan menjadi pecundang yang mengingkari satu janjiku kepadamu, dan aku telah membuat keputusan untuk tidak menemuimu sampai kapanpun itu. Aku tau kamu pasti sangat membenciku, tapi aku pun sama denganmu; sama-sama memiliki alasan yang kuat untuk suatu keputusan yang telah kita buat.

Aku puas dengan keputusanku untuk tidak pernah menemuimu, karena mungkin lebih baik kita menjadi tau, kenal hingga kecewa dari media sosial seperti semua katamu tentang duniaku; dunia media sosialku. Aku yang katamu terlalu mewah dan susah diajak untuk hidup biasa-biasa saja. Aku yang katamu tidak tau arti kata berjuang dan selalu menghambur-hamburkan uang. Aku yang katamu terlalu classy hingga nanti susah kau ajak beradaptasi. Dan masih banyak kata-katamu yang pada akhirnya membuatmu untuk pergi tanpa mencari bukti.

          Aku tidak ingin membenci, sungguh. Hanya saja kali ini aku kecewa, dari sekian banyak hal kenapa kepercayaankulah yang dengan sengaja kau patahkan?

Tapi aku percaya akan selalu ada obat untuk setiap perasaan yang tersayat, dan selalu ada kesembuhan disetiap rasa yang dikecewakan. Tidak ada yang salah. Mungkin kamu tidak berniat untuk menyakiti, dan aku pun tidak pernah berkeinginan untuk melukai. Kita hanya dipaksa oleh keadaan, dimana tak ada lagi jalan untuk kita saling membahagiakan. Maka biarkan ini menjadi alasan kita untuk menyerah pada keinginan.

Bahwa semesta selalu memiliki cara untuk melepas apa yang menurutnya tak pantas. Memisahkan apa yang dianggapnya meresahkan. Dan mematahkan apa yang memang tak layak untuk dipertahankan.

          Terimakasih telah membuatku membuka mata, setelah hati kau buat cukup terluka; terimakasih telah membuatku percaya bahwa yang lama kenal belum tentu mengenal dan terimakasih telah mendewasakan meski dengan cara yang sangat mengecewakan.
Selamat ulang tahun (bunga matahari)
dari aku; seseorang yang pernah ada namun ditiadakan olehmu.

Wednesday, August 9, 2017

Merasakan Bayangmu





“It is difficult to know at what moment love begin, it is less difficult to know that it has begun” – Henry Wadsworth Longfellow


---


          Aku sadar bahwa semuanya hanya sia-sia. Memintamu kembali, memelukku dan mengulang semua cerita indah kita lagi. Sia-sia. Kisah ini memang sudah seharusnya untuk diakhiri, sakit atau tidak kita tetap harus merelakan semua cerita ini pergi. Aku? Jangan tanyakan aku, bukankah kamu selalu mementingkan semua kepentinganmu diatasku? Bahkan sepertinya aku mulai sadar meski sesungguhnya ini terlambat, bahwa aku hanya aku, kamu dan hanya kamu, tidak ada kita, tidak ada. 

Aku tengah berusaha memperjuangkan apa yang telah kamu sia-siakan, sadarkah?
Menahan semua sikap angkuh dan egomu, memendam semua luka dan tangis. Tahukah kamu? Tentu tidak. Memang seberapa pantas sosokku berada dalam ingatanmu? Mungkin hanya aku yang menganggap kamu sangat berarti dalam ingatan dan hidupku. 

Seperti siluet bayangan, kamu menghilang saat aku mengerjap. Layaknya rasa kantukmu, aku yang menghilang ketika kau membuka mata. Tidakkah kita salah? Salah dalam mengenal satu sama lain.
Aku tak ingin menjadi semua hal yang menghilang ketika kau mengerjap atau membuka mata, aku tak ingin menjadi cermin yang terlihat ada tetapi nyatanya tak pernah ada dalam kehidupanmu. 

Sadarkah? Aku hanya ingin menetap.


Tuesday, May 2, 2017

P H O E N I X .

"Great leaders do not tell you what to do, they show you how it is done."
---


Dear you guys,



My only reason for never giving up. I do not ask anything else, just promise if you will stay in the middle of my chaos and my hard times. Believe me, we can do this and show them how it's done. Do not satisfied fastly and afraid to fail, because the one who falls and gets up is so much stronger than the one who never fell. Trust me, you will never had that days again, you just can feel and remember what had done when it is done. So make it count, love the process and enjoy the path direct you.



Regards me,

person that 24/7 that always there for you.


---

Let me introduce them, who became one of my reasons for smiling up to this moment. Check our Youtube Channel below :





"One Team. One Spirit. One Goal" - PHOENIX 2017
 BEM Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom .

Saturday, January 7, 2017

Mengapa kita berbeda?

"Jika kita tidak bisa bersama karena perbedaan, lalu mengapa aku makin cinta?"

---

         Begitu banyak perbedaan diantara kita, namun entah apa yang menjadi alasan cinta ini semakin terasa. Mungkin ini hanya egoisku yang cukup besar menginginkanmu dengan segala perbedaan yang tidak dapat mempersatukan kita. Namun apakah dengan perbedaan ini membuat kita tidak bisa untuk bersatu dalam suatu ikatan cinta?

Keinginan untuk menyatukan perbedaan ini mengeras dikepalaku. Menentang segala pendapat hanya untuk menyatukan perbedaan. Banyak sekali hal yang membuat sulitnya kita untuk saling menerima dan melepaskan satu sama lain. Menerima perbedaan dan melepaskan semua keinginan. Mungkin sekali lagi ini adalah egoisku untuk menginginkanmu, tapi tidak bisakah aku memilikimu untuk sisa hidupku dengan segala perbedaan yang bersarang diantara kita berdua?

         Jika ini memang hanya aku dan kemauanku, bukankah kamu pernah mengatakan untuk bersama kita melawan dunia? Untuk memperjuangkan kita tanpa peduli siapa dan apa? Atau memang hanya aku saja dan kamu sudah tidak?

Aku memang sudah tidak bisa memeluk dan menghapus lukamu dalam gelap, tetapi ketahuilah bahwa selalu terselip namamu dalam setiap doaku. Mengharapkanmu menjadi suatu kemungkinan yang selalu ku semogakan disetiap sepertiga malamku. Namun apa hanya ini cara kita dan menerima semua dalam luka? Tak adakah lagi kita untuk memperjuangkan rasa bahagia?

         Hatiku masih hancur ketika menyadari bahwa kamu dan aku tidak akan lagi menjadi kita. Maaf mungkin memang benar aku terlalu egois yang menginginkan kita tetap menjadi kita. Tapi bisakah kita kembali? Mengulang semua kejadian serta menjalaninya tanpa menghiraukan mereka dan merencanakan dengan matang semua janji untuk meraih kebahagiaan.

Bisakah? Atau kamu mungkin sudah lupa dengan semua mimpi kita untuk melakukan perjalanan panjang dan melawan siapa saja yang menolak untuk sependapat?

Jika memang kita sudah berbeda, aku akan selalu mencoba untuk mengerti. Karena ketika bahagiaku masih kamu dan bahagiamu adalah hidup tanpa memperjuangkan kita, aku akan mencoba lebih memahami seperti yang selalu kulakukan selama ini.

         Aku akan pergi, mungkin pada akhirnya tanpa kembali. Harapanku telah dipatahkan oleh keraguanmu akan kita, akan perbedaan. Tapi mengapa masih aja aku mencintamu? Rasa ini berlipat-lipat ganda dan selalu ada setiap harinya.

Jika suatu saat kita dipertemukan dalam keadaan yang paling asing, semoga perasaan kita masih akan tetap sama. Perasaan pernah saling memiliki dan bahagia diatas luka. Doaku, semoga kamu bahagia dan selalu bahagia.

Amin.

Sunday, January 1, 2017

Saturday, December 31, 2016

Danke .


"Karena sedih dan bahagia hanya titipan Allah semata, sudah kupersiapkan hati sebelum semua hal terburuk terjadi. Bagaimanapun akhirnya nanti, jika kita sama-sama tersakiti, maka aku yang akan terlebih dahulu pergi ." 

---

          Mungkin semua perilaku dan perkataanku masih terlihat seperti wanita patah hati, but seriously saya jauh lebih bahagia dengan kehidupan yang saya jalani saat ini. Karena untuk menciptakan kebahagiaan, dia tidak perlu ikut campur didalamnya. Bahagia tercipta karena kita yang menjalankan. Dan saya bahagia menjalani ini semua tanpa kamu sekalipun didalamnya.

Masih terlihat seperti curhatan wanita patah hati?

Okay, saya menyerah. Memang untuk membangkitkan hati yang telah berkali-kali terjatuh dan memaksakan diri yang telah berkali-kali ditipu ini tidak semudah yang mereka sarankan. Sakit hati mungkin iya, tapi tolong percaya, itu hanya berlaku beberapa hari setelah kepergiaannya. Saya memang bodoh, tapi maaf untuk hal seperti ini saya mungkin jauh lebih pintar. Saya telah memperingatkan hati dari jauh hari sebelum hal buruk seperti ini meremukkan hati.

          Mungkin tidak semua caci maki yang akan saya lontarkan padanya jika dipertemukan nanti, terlebih saya ingin berucap terima kasih. Lagi-lagi dia mengajarkan saya bagaimana menjadi wanita pemaaf dan sabar dalam menerima segala keadaan yang ada.

Ps : Terima kasih juga telah menjelaskan siapa kamu sebenarnya, ternyata pencitraan still exist.

---

Happy new-year, bye 2016.

Tuesday, December 27, 2016

Usai disini.


Pernahkah kamu merasa hampa dan tidak baik-baik saja?

Seperti kehilangan sesuatu namun tak tau itu apa. Ingin sekali rasanya melupakan namun enggan, ingin tertawa namun tertahan. Pernah?
Pernah
---

Yogyakarta. Desember 27, 2016.

Aku kembali, membawa semua sisa serpihan hati yang kau bawa pergi dan tak kembali.
         Aku terus menerus menyebutkan namamu, tanpa tau alasan apa lagi masih ada kamu dalam hidupku. Mungkin ini adalah bukti bahwa semesta ikut berkonspirasi akan rinduku yang tak bertepi. Sore itu, ketika senja dipelupuk mata, aku mengulang-ulang semua reka adegan dari awal kita berjumpa hingga memaksakan untuk berpisah.

Seandainya bisa kutawar, aku ingin hidup biasa-biasa saja tanpa ada perpisahan dan kehilangan didalamnya. Biarkanlah cerita kesedihan ini berjalan apa adanya tanpa ada dua diantaranya.

"Aku ingin kamu jatuh cinta lagi padaku disini, di Yogyakarta"

Masih hangat ucapnya di daun telinga. Semua tempat ini mengingatkanku banyak hal akannya, tentang senyum yang tak pernah berhenti dan tentang cerita cinta yang kuharap tidak akan pernah mati.

Hujan membangunkanku akan kenangan yang telah lama terlelap. Seperti memanggilnya untuk pulang, seseorang yang lama telah pergi tapi ingatan tentangnya masih. Seruan kilat menyambar, menggetarkan hati mendewasakan diri.

Ku cukupkan hatiku.

Cukup padamu aku pernah meletakkan diriku jauh lebih rendah dari tanah yang kupijak. Anggap aku bodoh yang masih saja belum menemukan kata sudah diatas hubungan yang telah kau pecah.

Terimakasih karena telah mengajariku banyak hal yang mungkin akan mengeluarkan isak tangis ketika mengingatnya. Aku siap untuk melewati setiap tanggal dan bulan yang sama di tahun yang berbeda, tanpa mu. Setelah sedih ini, ku janji akan menguburmu dalam sepi, walau perih tapi tolong jangan lagi kembali.


note : terimakasih untuk 2016 yang berliku ini sayang, bahagialah selalu. 

Monday, December 12, 2016

Sebentar yang kuharap Selamanya.


          Jika mencintaimu adalah kesalahan, maka kesalahan keduaku adalah mengingatmu secara sengaja. Mengingatmu sama seperti menancapkan duri dalam hati, terasa sakit namun aku tidak bisa berhenti. Kau selalu berkata untuk sesuatu yang pasti, dan ku menyimpanmu dalam hati.

Aku dan kamu (mungkin) telah sama-sama lelah. Kamu yang lelah mengingat bahwa ada aku yang menunggumu begitu sabar dengan ribuan luka yang bertebaran, sedangkan aku lelah berharap kamu mengingatku sebagai wanita yang dulu kau sebut berharga.
"Andai saja suatu saat tiba-tiba putus asa itu hadir diantara kita, berhentilah. Berhentilah sejenak, toleh ke belakang. Lihatlah betapa jauh perjalanan yang telah kita susuri dan betapa besar pengorbanan tanpa tepi yang kulalui ini, untukmu."
Sesak.

          Ketika harus mengingat semua ucapan tulus yang sering kau sebut itu janji, kini tidak ada lagi. Jangan tanya mengenai luka, karena tidak akan bisa kuutarakan. Perihal luka yang sempat kau goreskan, akan selalu kupendam sedalam-dalamnya dalam diam. Agar hanya kebahagiaan yang selalu kau genggam dengan siapapun disana.

Ternyata aku mulai lelah mengingat yang telah terlewat, tentang aku, kamu dan kita. Aku sudah bisa mengikhlaskan semuanya, termasuk kau dan dia. Tetapi maaf ternyata menerima kenyataan bahwa kau tak lagi ada untukku , itu cukup susah. Biarkan semua rasa dan luka ini menjadi seperti sisa hujan yang pada akhirnya akan mengering disaat waktunya tiba.

Doaku, semoga kau selalu bahagia dipelukannya.

Thursday, October 13, 2016

Memelukmu sehangat tadi .


"Aku akan selalu mengingatmu, entah sebagai cinta ataupun luka" - D.
---

Setelah sekian lama, ternyata pelukmu jauh lebih hangat dari yang pernah kukira. Bisakah ku miliki malam seperti ini selamanya?

Ada banyak hal yang mungkin akan sulit ku lupakan kedepannya, peluk harum dan hangatmu. Entah karena terlalu lama atau memang akulah yang terlalu merindukan. Aku yang terlalu malu untuk mengakui bahwa kamu satu-satunya yang bisa membuatku jatuh cinta, yang bisa membuatku terdiam cukup lama untuk bersabar, dan yang selalu ku banding-bandingkan dengan semua pria dalam pelukan.

Satu malam merubah segalanya. 

          Terimakasih atas waktu dan kesempatan yang lagi-lagi kau berikan. Kesempatan untuk aku merasakan hal yang sama ketika masih ada kita dimasanya. Dan lagi aku tidak tahu bagaimana cara untuk menggunakan kesempatan itu dengan sangat layak. Kehilangan ini hanya soal kebiasaan, ketiadaanmu hanya soal waktu dan aku hanya bisa mengerti dan menerima semua dengan hati yang ihlas. Ku pikir mencari celah ditengah luka yang kau rasakan bisa memperbaiki aku dan semua kesalahanku kepadamu. Ternyata aku salah.

Kamu yang terus menerus menertawakan setiap hal yang ada, mengajakku hanyut didalamnya, tanpa kamu sadari semua itu hanya caramu untuk mengalihkan cerita tentang luka yang masih belum bisa kau terima. Mungkin memang lebih baik aku tetap begini dan kamu tetaplah seperti itu, dengan cerita luka yang bersarang dalam hati dan ingatan masing-masing. Karena saat seluruhku hanya kau balas separuh, mungkin sudah saatnya aku tuk menjauh.

Tidak akan ada yang berubah, aku akan tetap menjadi orang yang haus akan perhatian dan kamu akan tetap menjadi sisi yang selalu mengeras di kepala. Seharusnya dari awal aku sadar, aku tidak perlu memelihara apapun ketika sebenarnya aku tahu tidak ada lagi harapan akan kita, tidak ada lagi aku diantara kau dan dia.

           Aku kalah dihadapkan pada harapan yang patah, mungkin karena aku yang terlalu dalam mengharapkan hingga yang kutelan hanya pahit kekecewaan. Maaf jika luka yang pernah ku gores masih terpampar nyata dalam ingatanmu hingga membuatmu bertahan untuk tetap membenciku. Maaf jika semua kebodohanku membuatmu risih dan memilih untuk menyudahi. Aku hanya malu dan merasa sangat kecil ketika mengingat bagaimana kamu memperlakukanku dengan tulus tapi balasanku hanya, entahlah. Tapi adakah cara untukku memperbaiki semuanya lagi? Adakah jalan untuk kita kembali?

Jika tidak, maka akan ku titipkan seluruhku kepada Tuhan agar dijaga sebaik yang ia bisa. Dan ketika suatu saat kita bertemu dilain kesempatan yang paling asing, semoga ku tak lupa pernah mencintai pria sehebat kamu.

Terimakasih telah menjadi satu-satunya pria yang selalu kukenang tanpa tepi, walau perih aku tetap mencintai setiap detik yang ku miliki bersamamu. Tidak akan pernah ada yang berubah, hanya kita bukan lagi dimasanya.

untuk kamu, priaku di masa itu
-b