Wednesday, April 9, 2014

Masih.



Masih dengan perasaan yang sama.
Rasa sesak yang terus menyelimutiku, berhasil membuat hari-hariku berwana abu-abu, melumpuhkan semua organ tubuhku, tak terkecuali hatiku. Aku sadar bahwa setiap adanya pertemuan pasti akan ada perpisahan. 

Dan teruntukmu, kali ini pun aku sadar. Aku telah memperingatkan hatiku untuk tidak terlalu dalam mengagumi atau menaruh rasa padamu. Karena aku masih sangat sadar bahwa akhirnya nanti aku akan sesedih itu. Tetapi entahlah, rasa itu hadir tanpa perlu ada aba-aba dan akhirnya akan ada kesedihan dibalik semuanya.

Melihatmu pergi menjauh,

sungguh taukah kamu bahwa aku sekuat tenaga berusaha untuk terlihat baik-baik saja? Aku menghindarimu tetapi yang kudapat malah bertemu denganmu seperti sebuah kebetulan yang pahit.


Perpisahan?
Ah, entahlah tak pernah terbayang sedikitpun untuk kupikirkan. Karena pada kenyataannya tak ada satupun manusia yang menginginkan perpisahan. Tapi kini apa yang ku takutkan terjadi, perpisahan. 

Kita? 
Mungkin sekarang hanya ada aku dan kamu. Seketika semuanya sirna, menguap entah kemana. Mengetahuimu telah pergi, membuatku malas untuk hadir. Bagaimana tidak? Jika disetiap kehadiranku selalu menampakkan sosokmu.

Mungkin memang benar bahwa Tuhan menciptakan seseorang yang kita sayang hanya untuk berada dihati kita, di ingatan kita. Tidak untuk kehidupan kita.