Sunday, December 13, 2015

Waiting for .


The way sadness works is one of strangest riddles of the world.
---

Menunggu?
Sungguh ini bukan suatu pekara yang mudah. Sejak saat itu menunggu bagiku adalah hal yang paling memuakkan. Dikala apa yang ditunggu itu sulit untuk ditunggu, lalu kapankah penantian ini berujung dan berakhir indah?

           Sama seperti daun jatuh yang tidak pernah membenci keadaan, mengikhlaskan semua kejadian dan membiarkan dirinya jatuh dipermukaan. Bagaimana bisa melawan? Jika dengan menerima keadaan saja sudah menjadi hal paling layak untuknya. Hanya perlu memaafkan dan menerima keadaan, walau dengan kejadian sedih yang menyakitkan.

Ada kalanya kita perlu menerima semua kenyataan bahwa ada orang yang di ciptakan untuk ada hanya di dalam hati kita, bukan di dalam hati kita. Seperti kamu yang selalu membuatku memaafkan seluruh hal yang mungkin wanita lain tidak bisa, tetapi aku bisa. Kamu yang selalu membuatku rindu dan kamu yang membuatku selalu percaya bahwa suatu hari nanti akan hadir sejengkal didepan penglihatan, kembali lalu menetap dalam hati.

            Lekaslah kembali dengan pemikiran serta hati yang telah bersedia menjadi lebih baik. Tak perlu utuh. Karena aku sendiri akan membantumu untuk membuatnya kembali utuh dan lebih baik dari ini. Ambil semua yang kau butuhkan, tapi jangan cabut semua rasa yang kurasakan. Bisakah?

Hari berganti hari, dan aku seperti menunggu tanpa tau apa yang sedang kutunggu. Seperti ingin pergi tanpa tau apa yang harus di tinggalkan. Berdiri di tengah-tengah kondisi yang tidak memberikan kepastian dan perlahan-lahan tersakiti oleh kesunyian. 

Seperti hujan malam ini, kenanganmu jatuh satu persatu ke permukaan, memaksaku untuk menikmatimu dalam balutan kesunyian. Hujan, bukankah kita pernah menikmatinya bersama? Kamu selalu berkata bahwa hujan selalu indah walaupun ada yang selalu indah setelah hujan reda. Memang indah, tidak ada yang salah dengan hujan. Hanya saja hujan selalu membawa kembali bayangmu dalam ingatanku, datang dan kembali tanpa tau bagaimana untuk menghentikannya.

           Mungkin memang benar bahwa sebenarnya pilihan terbaik dalam hidup adalah menerima semua kenyataan. Kenyataan bahwa sekarang bumi sedang berputar dan aku tidak bisa melihat bintang dalam kegelapan malam. Dan seperti halnya semua pertanyaan yang selalu beriringan dengan jawaban, untuk menemukan keduanya, kita membutuhkan waktu. Mungkin sekali lagi waktulah yang menjadi peran utama dalam tragedi penantian tak berujung ini.

Seseorang berkata padaku bahwa :
" Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka ia akan bisa melupakan, dan hidup bahagia. Tetapi jika ia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."
Tere Liye -Hujan.

Sunday, August 9, 2015

Semogaku.


Karena seseorang akan terluka, dan itu membuatku ikut terluka. Jadi kubiarkan matahari tak lagi menerangi semesta. - Katya

---

          Aku menyembunyikan semua kebohongan akan perasaan yang selama ini kupendam jauh di lubuk hatiku, untukmu. Aku tahu kita belum benar-benar berakhir, tapi bisakah kita mengembalikan semua keadaan tanpa ada satupun yang terluka?

Sejak kehadiranmu, aku membatasi perhatianku kepadamu. Bukan karena ku tak menyayangimu lagi, bukan. Aku hanya takut ini hanya permainan bodohmu saja. Ketika aku mulai mengharapkan ketidakpastianmu, kau menghilang. Aku benci terlihat bodoh ketika jatuh hati padamu lagi. Mungkin kini aku akan menjadi orang yang tidak akan lagi mencari-cari sosokmu dalam kesunyian, menjadi orang yang tidak akan lagi merindukanmu dalam kepiluan, dan akan menjadi orang yang akan pergi.

Percayalah, aku telah mempersiapkan semuanya, termasuk keihklasan hati.

Untuk kamu, sebuah kemungkinan yang selalu kusemogakan. Tak pernah ku berhenti berharap kepada Tuhan, semoga setiap kemungkinan itu terkabulkan, termasuk kamu. Aku masih ingat sederet kenangan kita menuju senja hari itu. Kau menyanyikan lagu rindu agar ku selalu ingat bahwa kau akan selalu merindukanku.

Omong kosongkah selama ini?
Ketika ku berusaha mengerti, namun ku semakin tak mengerti. Masihku berusaha memahamimu, namun susahku untuk lebih memahamimu. Semakin ku berusaha melihatmu, namun perlahan samar sosokmu tak terlihat. Mungkin aku harus diam dan berusaha mendengarkan, namun aku merasa bagaikan tuli, tak  lagi bisa mendengarmu, atau memang kau telah pergi?

        Aku tidak kehilanganmu. Tidak semestinya ku merasakan hal itu. Memang pernah ada yang memulai, walau pada akhirnya menghilang. Dan kembali hanya sekali. Ku tahu tak ada sedikit niatmu tuk mempermainkan atau bahkan tak menyelesaikan apa yang telah dimulai. Hanya memberikan sedikit jeda, agar ku merasa apa artinya rindu yang pulang.

Pulang, untuk menyelesaikan masih terjaga atau mengadu rindumu padaku?

Maaf, bukan ku tak mencintaimu atau telah melupakanmu. Tapi sadarkah kemana perginya ketika aku membutuhkan dekapan hangat dan sedikit kecupan ketika aku terjatuh lalu? Ketika kau menikmati seluruh jedamu, kini kau datang tanpa maaf dan rasa bersalah, mengusik kehidupan baruku.

Aku tidak mengusirmu pergi, tetaplah disini.

Tetapi jika kau hendak pergi, kau boleh pergi, juga dengan senang hati bila kembali. Tetapi jika nanti kita bertemu dalam kesempatan yang paling asing, jangan kau tanya tentang rindu siapa yang diam-diam mendoakan, atau tentang dada siapa yang paling berdebar hingga sabar. Cukup dengan diam lalu menerima takdir dan menyerahkan kepada Tuhan. Aku percaya Tuhan telah mempersiapkan rumah kita, tidak perlu seatap di dunia.

         Maafkan aku jika kini dirimu dihatiku hanya sebatas kenangan tanpa kepastian. Karena begitulah selama ini yang kau tanamkan dihatiku. Makin ku memilih, semakin ku tahu bahwa benar yang Tuhan katakan, bahwa "Tidak ada satupun manusia yang bisa memilih". 

Maaf bahwa aku lemah dalam masalah perasaan terlebih untuk memilih perasaan. Karena melihat orang lain terluka, akan jauh membuatku semakin terluka. Kau akan selalu menjadi semoga dalam setiap doa. Senang bisa bertemu dan mencintaimu sedalam ini.

---

Wanita yang akan selalu merindukanmu,
Nhy-

Saturday, February 21, 2015

Summer .


"Because the smelt of salt and sand, the power of sun and sky. There is no elixir on this blessed earth like it"
 ---

          Ketika pertama kali ku belajar membaca peta, hal yang pertama ku lakukan adalah bergumam dalam hati untuk menjajahi pulau-pulau indah di Indonesia. Saat itu memang belum begitu paham mana dulu yang akan dijajah, sampai pada akhirnya memutuskan Indonesia Timur.

Indonesia Timur terlalu luas untuk di explore dalam waktu singkat. Well, I choose Gili Island for my first destination. Alasannya? Mungkin karena Pulau Lombok mempunya tiga Gili yang sangat terkenal, tapi honestly alasannya lebih dari itu. Lets we check. 

Gili Trawangan merupakan suatu pulau kecil dimana kita bisa menikmati sunset dan sunrise dalam suatu waktu, karena Gili Trawangan memiliki pantai dibagian Barat dan Timur. Selain itu yang membuat berkesan adalah, di gili-gili ini sudah dipastikan tidak ada kendaraan bermotor. Mulai dari penduduk lokal dan wisatawan difasilitasi dengan sepeda atau kereta kuda atau yang sering disebut cidomo.

Foto ini diambil ketika akan landing di Bandar Udara Internasional Praya Lombok. Bisa kita lihat, terdapat tiga pulau kecil dan itu adalah Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.

By the way, aku flight dari Surabaya. Setelah tiba di Bandar Udara Praya, akhirnya aku memutuskan untuk melanjtutkan perjalanan menggunakan Bus Damri yang memang disediakan oleh pihak bandara. Loket bus Damri ini bisa kalian temukan tepat dipintu keluar bandara. Dengan harga 35,000 perorang kita bisa melanjutkan perjalanan sampai pantai Senggigi. Setibanya di pantai Senggigi, kita harus melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Bangsal. Ada dua opsi, pertama kita bisa menggunakan speedboat yang jelas bisa langsung sampai ke Gili Trawangan dengan biaya yang cukup mahal dan opsi trakhir kalian bisa menggunakan angkutan umum dan atau shuttle car. Dan kebetulan saat itu kita kebarengan dengan wisatawan asal Surabaya, jadi kita putuskan untuk shuttle car dengan biaya total yang nantinya dibagi setiap orangnya. Kita hanya perlu mengeluarkan 50,000 perorangnya, so cheap. 

Setelah sampai di pelabuhan Bangsal, akhirnya one step closer, kita harus memesan tiket untuk penyebrangan dengan kapal ekonomi penduduk lokal. Dengan hanya 36,000 kita bisa menyebrangi laut dan sampai ke Gili Trawangan. Sedikit catatan buat kalian yang memang ingin ke Gili Trawangan dengan menggunakan opsi kedua, jangan terlalu sore karena faktor cuaca yang tidak menentu serta fasilitas penerangan yang tidak memadai. Begitu saran yang kita terima ketika tiba di Lombok saat itu. Cukup memakan 30 menit akhirnya kita tiba di Gili Trawangan. Dan ini benar-benar diluar ekspektasi, pantai yang benar-benar bersih dengan penduduk lokal yang baik dan sangat membantu. Setelah puas sedikit jalan mengitari pulau trawangan, akhirnya kita memutuskan untuk mencari penginapan. Variasi harga dan fasilitas yang disediakan, tapi karna kita gembel traveller jadi kita memilih hostel yang cukup nyaman. Dengan fan, kamar mandi dalam dan springbed akhirnya deal dengan harga 250,000 selain itu kamar yang akan ditempati satunya menggunakan AC dibandrol dengan harga 350,000 masing-masing harga fix untuk tiga hari dua malam selama kita disini. Dengan modal nego sadis akhirnya kita mendapatkan kamar yang pantas selama disini. Setelah kita selesai berbenah, akhirnya kita memutuskan untuk menunggu sunset. 

Ini cafe pertama yang kita tongkrongin. Maaf lupa namanya, yang jelas ini salah satu cafe yang paling asik di gili trawangan. Untuk menu makanannya standart, ada indonesian dan western food.
Kelewatan, daritadi nyebut kita tapi belum ada perkenalan. Hai panggil aku Dee dan sebelahku adalah my secret admirer yang terungkap lol.

Setelah lama menunggu sunset  yang tak kunjung datang, karena mendung, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke penginapan masing-masing. Setelah menyisihkan beberapa menit untuk merebahkan badan akhirnya kita memutuskan untuk kuliner malam. Gili Trawangan memiliki banyak kedai hingga restaurant. Jangan kaget, banyak pertunjukan yang sengaja ditampilkan setiap malam ditepi pantai untuk menarik minat wisatawan dan tak sedikit wisatawan asing yang turut menampilkan aksi mereka. Yeah night life was begin. 

Setelah puas akhirnya kita kembali ke penginapan dan istirahat, menyiapkan energi untuk mengelilingi gili-gili esok pagi.

Selamat pagi. Jadwal pagi ini kita akan snorkeling ke tiga gili, sebelumnya kita harus mengisi perut. Setelah itu kita siap untuk menjelajah didalam air. Gili Trawangan memiliki terumbu karang yang menawan dengan air laut yang masih bersih dan biru. Gili Meno adalah yang paling dalam diantara tiga gili ini, kita bisa menjumpai penyu dan terumbu karang yang tak kalah cantik. Gili Air memiliki perairan dangkal dan banyak ikan kecil yang akan mengeliling kita. Kesimpulannya ketiga gili ini cukup memuaskan mata akan keindahan terumbu karang yang benar-benar masih terjaga. Kita meminta waktu untuk istirahat di Gili Air, ya tidak jauh beda dengan gili trawangan hanya saja Gili Air ini lebih kecil ukuran pulaunya dibandingkan dengan gili trawangan. Overall, masih terlihat sama.

Setelah puas dengan pemandangan dalam air, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat mengingat waktu masih tengah hari dan panas-panasnya. Setelah bilas dan istirahat akhirnya kita meneruskan perjalanan untuk mencari sunset  di gili trawangan. Penduduk lokal merekomendasikan lokasi dimana kita bisa menikmati sunset dengan sempurna, Sunset Point. Kita bisa mencapai lokasi itu dengan jalan kaki yang akan menempuh waktu sekitar 45-60 menit, dan kita memutuskan untuk menyewa sepeda dengan harga 50,000.

Dan tibalah kita di tempat yang bernama Sunset Point. Menarik, untuk menikmati sunset  penduduk lokal menyediakan ayunan yang diletakkan tepat ditengah laut, mungkin supaya bisa mengabadikan momen indha bersama sunset, alhasil ayunan tersebut super duper ramai, antri.

Setelah puas bisa ikut foto dengan ayunan, akhirnya kita melanjutkan perjalanan dan mencari spot-spot indah untuk diabadikan. Terlalu banyak spot indah disini, jadi sepertinya gak akan cukup jika postingan ini isinya semua foto kita selama di gili trawangan. Akhirnya setelah asik menikmati sunset, menikmati penampilan dari setiap bar dipinggir pantai, hingga menikmati makan malam. Akhirnya kita jalan-jalan santai mengelilingi sekitar gili trawangan yang masih tersisa. Well, aku ga akan pernah kapok untuk kesini lain kali.

Keesokan harinya kita menyiapkan diri untuk kembali ke rutinitas masing-masing, ya kembali ke Bandung. Perjalanan panjang dimulai, dan hati masih ingin tinggal lebih lama. Suatu saat aku akan kembali.

Kali ini kita memutuskan untuk menggunakan shuttle car dari pelabuhan bangsal ke pelabuhan lembar. Dengan sisa tenaga yang kita miliki akhirnya tibalah kita di pelabuhan lembar. Memesan tiket kapal ekonomi untuk sampai ke Bali, dengan harga 35,000 perorang. Setelah memakan waktu hampir seharian akhirnya tibalah kita di Bali dan perjalanan kita masih panjang. Kita harus mencari bus yang mau menumpangi kita dari padangbae ke gilimanuk dan akhirnya kita mendapatkan bis dengan harga 80,000 perorangnya. Setelah tiba di gilimanuk akhirnya kita harus menyebrang lagi agar sampai ke ketapang dengan kapal feri seharga 10,000 perorangnya.

Setibanya kita di banyuwangi, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat di depan indomart depan stasiun banyuwangi baru karna waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi. Ketika pukul 5 pagi akhirnya kita masuk ke dalam stasiun banyuwangi baru dan tidur dikursi tunggu yang disediakan. Lelah yang terbayar. Dari sini kita masih membutuhkan setengah perjalanan hingga tiba di bandung esok hari. Kita menggunakan kereta mutiara timur menuju stasiun gubeng Surabaya, lalu dilanjutkan kereta api mutiara selatan untuk sampai ke stasiun Bandung. And finally setelah perjalanan panjang selama tujuh hari akhirnya kita sampai di Bandung dengan selamat.

Satu dari jutaan destinasi, see you at my another travel post. Thanks for meine-partner.

See you another Summer.

Tuesday, January 13, 2015

Lullaby.



I hope,
I cross your mind once in a while just so that I won't feel pathetic for thinking of you all at the time.
---

Mengharapkanmu?

Tidak, sama sekali dari awal aku tidak pernah mengharapkan untuk kenal atau bahkan menjadi bagian dari kehidupan dan hari-harimu. Aku pun masih ingat bagaimana kita bisa sedekat ini pada akhirnya, bukan karena aku menginginkan, tapi waktulah yang mengharuskan. 

Menyesal?

Pertanyaan bodoh. Apa yang harus ku sesali? Mengenalnya sudah lebih dari cukup untukku, maka jika memilikinya adalah hal paling dilarang, cukup bagiku untuk menjadi teman dekat untuknya. Lupakan. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai kakak, tidak lebih. Karena dengan adanya dia disampingku, aku merasa lebih aman. Salahkah?


"Tolong jangan membenciku. Aku sudah cukup tersiksa dengan semua kebohongan yang kubuat selama ini" , ujarnya.

Ucapannya sore itu terus terngiang di daun telingaku, seakan dia selalu berbisik dan meminta maafku dengan mata sayu itu. 

Ingatanku kembali saat dia pergi, tanpa kata pisah, selamanya. Aku pikir aku akan baik-baik saja tanpa adanya dia disekitarku lagi. Aku pikir aku akan kuat mengatasi semua masalah dan air mata ini. Ternyata aku salah. Dengan tidak adanya dia disini membuatku semakin jatuh, tenggelam dalam kubangan kesedihan.


Kini aku telah terbiasa dengan tidak adanya sosoknya disekitarku, aku telah terbiasa dengan semua omong kosong ini, terbiasa membohongi diri dan menjahit luka serta air mata yang tak berujung ini. Jangan bilang hanya jiwanya yang tersiksa dengan semua kebohongan ini, percayalah bahwa aku disini lebih terluka melihat satu persatu kebohongan terungkap menjadi sebuah mimpi buruk yang tak pernah sekalipun ku harapkan.


Amarah, kebencian, luka, rindu dan tangis bercampur menjadi satu. 

Entah perasaan seperti apa yang harus kujatuhkan di wajahku ketika aku melihat wajah pria itu sedekat ini. Tujuh tahun berlalu. Aku masih ingat jelas bagaimana terakhir kita bertemu, dan aku pun masih sangat mengingat bahwa selama tujuh tahun juga sosoknya pergi tanpa pamit dan tidak ada kabar sedikitpun. Maksut hati ingin menumpahkan segala amarah dan kebencianku, ingin melontarkan jutaan pertanyaan yang aku sendiri tidak pernah menemukan jawabannya. Namun hanya tangis yang mampu mewakili seluruh perasaan yang ada dihatiku selama ini didepannya.


"Maaf. Jika ada kata yang lebih dari maaf, akan kulakukan untukmu. Tapi tolong jangan menangis seperti ini, itu hanya membuatku semakin terluka. Mengertilah" , ujarnya lagi.

Maaf? batinku.
Aku masig terdiam dalam tangisan yang semakin mendalam. Ada guratan rasa sakit ketika satu persatu kenangan dan luka di masa lalu hadir dalam ingatan. Sungguh, ini menyiksaku.
Sosoknya mendekat, menjatuhkan kepalaku dalam dekapan hangatnya. Aku tahu mungkin hanya pelukan seperti inilah yang mampu menetralisir segala kesedihan, menghilangkan semua luka. Dia mempererat dekapannya, ku biarkan angin dan senja sore itu menjadi saksi bisu kesedihan kita.

Isak tangisku masih tidak berirama, berantakan.
Aku mencoba mengatur nafas dan menghilangkan cairan lengket yang membahasi seluruh wajahku. Aku menunduk, mencoba mengalihkan mataku dari pandangan sosok didepanku ini. Berjalan, terus berjalan, meninggalkannya di belakang. Sampai akhirnya aku berhenti, dan mendapati dia jauh dibelakangku dan melihatku dengan tatapan tajamnya.

"Apakah ini sama seperti yang kau rasakan saat aku pergi meninggalkanmu dulu? Kosong." , ucapnya lirih.

Aku menatapnya dalam. Kulihat dia jauh didepan mataku dengan tatapan dalam dan sayu. Terlihat jelas mimik kesedihan dalam wajahnya. Apakah itu yang ia rasakan ketika jarak diantara kita dulu?
Aku mengangguk.
Menjawab pertanyaannya dan berbalik arah. Aku berjalan melawan angin, menerawang ke langit dan menikmati indahnya senja sore itu. Aku menyukai semua jenis senja, tapi mungkin senja ini yang akan selalu ku sukai. Senja dimana ada aku dan kenyamanan yang kembali.

Dia menarikku memasuki sebuah Cafe pinggiran jalan. Aku mengekor di belakangnya, sampai akhirnya kita mendapatkan meja yang jauh dari hingar bingar keramaian. Jangan berpikir buruk. Aku hanya tidak menyukai keramaian, dia juga, karena aku selalu merasa sepi ditengah keramaian. Alasan klise, tapi memang itulah kenyataannya.

"Aku tahu mungkin banyak pertanyaan dibenakmu saat ini, dan aku akan coba menjawabnya. Dengar, aku bukan dengan sengaja pergi begitu saja meninggalkanmu. Aku mempunyai life-goal. Satu persatu life-goal ku tercapai, dan hanya satu yang belum kucapai. Jangan berfikir bahwa aku tidak terluka berjarak denganmu. Lihatlah, aku hanya ingin membuktikan semuanya" , ujarnya.

Aku terdiam, mencoba mencerna pernyataannya. Dia melihatku, menungguku berkata. Tapi aku masih tetap diam, membisu.

"Dengar baik-baik. Mungkin ini akan terdengar konyol tapi sungguh ini adalah perkataan paling jujur yang ingin ku ungkapkan padamu. Selain ribuan kata maaf karena telah meninggalkanmu dalam luka dan duka, aku juga ingin mengucapkan bahwa aku ..." , ucapnya menggantung.

Aku menunggu kalimat selanjutnya, namun dia terdiam dan menunduk. Matanya berkaca-kaca. Suara bergetar lalu berkata,

"Mungkin memang ini salahku. Aku menyimpan semua rahasiamu yang bahkan kamu sendiri tidak tahu. Almarhumah ibundamu menitipkan kebahagiaanmu padaku. Sampai sekarang aku masih terus berfikir, kebahagiaan seperti apa yang beliau mau untuk puteri kecilnya ini. Aku pernah berjanji padanya untuk selalu menyayangimu dalam keadaan apapun. Dan jarak adalah caraku menyayangimu dalam luka, dan kini aku melihatmu baik-baik saja adalah caraku menyayangimu dalam bahagia. Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi." , ucapnya bergetar.

Aku masih saja terdiam, aku muak mendengarkan omong kosong. Aku lelah percaya jika pada akhirnya semua akan menguap entah kemana. Janji? Kepercayaan? Omong kosong.

"Hai, aku tahu kamu membenciku sedemikian itu. Tapi dengar, aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Aku sendiri tak tahu sejak kapan rasa ini hadir dan bernaung di dalam hatiku, tapi percayalah selama ini aku berjuang mati-matian untuk mewujudkan semua life-goal ku. Dan sekarang hanya kamu yang ku inginkan untuk melengkapi semuanya." , ucapnya mantap.
I had lost him who wasn't even mine yesterday,
dan tiba-tiba sekarang dia mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan setelah ia menghilang selama tujuh tahun lamanya. Omong kosong!

Aku beranjak pergi menjauhi tempat itu, meninggalkannya. Mengingat semua luka dan kesedihan yang pernah ada, dan mengingat janji yang sempat diucapkannya dulu bahwa dia tak akan pernah sekalipun membiarkanku terluka hingga menangis. Kemanakah perginya janji itu? Menguap.

Aku menahan tangis, mempercepat jalanku hingga mencapai pintu keluar. Sampai pada akhirnya di menarik tanganku dan berlari mengejar senja. Kita terduduk diatas gundukan rumput, menghadap ke arah matahari tenggelam. Tak sedikitpun pandanganku kualihkan dari sunset di depanku, tak sedikitpun. Aku menahan tangis, membendung anak air mata di kelopak mataku. Dia melihatku, aku tau itu, dia melihatku!

"Maafkan aku hingga sanggup membuatmu membenciku. Mungkin cara menjaga dan membahagiaanmu bukan dengan menjadi pendampingmu, mungkin ada cara lain. Aku akan menerima penolakanmu, silahkan pergi, tapi ingatlah aku akan selalu disini. Menunggumu." , ujarnya lirih.

Matahari perlahan tenggelam, seakan memberikan penjelasan tajam akan kegelapan yang akan datang. Angin malam mulai menggelitik lembut kulitku, membuat badanku bergetar. Dingin. Sedingin hidupku selama bertahun-tahun ini, menghadirkan beberapa kekosongan dalam hati.

Dia.
Pria yang sangat kusayangi, sebagaimana aku menyayangi diriku sendiri. Baru kali ini aku melihatnya serapuh ini, diam menerawang jauh kedepan. Entah apa yang sedang difikirkannya. Maafkan egoku ini, aku masih terlalu keras untuk dipecahkan. Aku hanya menyesali mengapa aku bisa mempercayaimu dulu?

"Lihatlah aku. Kumohon. Untuk yang terakhir kali dan aku akan pergi" , ucapnya bergetar.

Ku turuti kemauannya. Dia mendekat dan mengecup hangat keningku. Memelukku lebih hangat dari sebelumnya, lebih erat, seakan mau akan memisahkan. Aku membalas lembut pelukannya. Ia tersentak dan mengecup halus ubun-ubun kepalaku. Aku tersentuh.

Dia bergerak menjauh melepaskan pelukannya.
Dia membuktikan segala kata-katanya, bahwa itu tadi adalah yang terakhir, terakhir. Lalu ia tersenyum dan pergi. Lagi-lagi aku melihat punggungnya bergerak menjauhiku. Tanpa sadar aku memanggil namanya lirih, dan bendungan air mata yang dari tadi kupertahankan tumpah juga. Seakan mendengar lirihan suaraku, dia berhenti dan berbalik, lalu tersenyum dan kembali.

"Jangan pernah menangisiku lagi, aku benci itu. Mungkin ini hukuman untukku karena telah menyia-nyiakanmu dulu. Suatu hari jika kita bertemu disuatu tempat dengan perasaan yang berbeda, ingatlah bahwa perasaanku akan selalu tetap sama untukmu. Ingatlah, selamanya." , ujarnya sembari menghapus air mataku.

Setelah itu dia pergi dan tak kembali lagi.

---

Dear you, 
Do not say sorry to me, cause I am not even forgived you. I wish I could hurt you the way you hurt me, but I would not, because I fell in love with you from the first, by a million things you never knew you were doing to me. Thanks for everything, for loved me most. See you too in another chance with different way to loved each other. God bless you best.