Thursday, November 20, 2014

Hujan Rindu.



Kita pernah sama-sama berbagi cerita hingga akhirnya kita (hanya) menjadi cerita tanpa akhir bahagia. 

---


Dibawah langit ibukota, Indonesia
Hari ini senja dan hujan sedang bernostalgia.

Aku menatap setiap tetes hujan dari dalam mobil, mengerjap-kerjap memohon agar kali ini aku terbebas akan semua kesedihan yang selalu terjadi ketika hujan tiba.

Hujan memutar kembali semua ingatanku akan sosokmu. Pria pertama yang kutemui di depan pinggir jalan ketika guyuran air dalam kubangan dilewati oleh mobil super cepat yang hendak menyerangku. Dia Alfa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ternama di Jakarta.

Sejak saat itu Alfa selalu meluangkan waktu untuk selalu menemuiku. Aku memang tidak sedang melanjutkan studi di Jakarta, hanya ingin singgah beberapa hari untuk suatu perihal. Dan mungkin Alfa menjadi salah satu alasanku untuk memperlama persinggahanku di kota ini.

Hujan.
Dia selalu berkata bahwa hujan adalah salah satu hal yang paling disukainya. Aku selalu menyebutnya pecandu hujan, dan dia selalu menyebutku perindu senja. Sama seperti hujan hari ini, aku masih merasakan aliran air hujan yang dingin ini membasahi ingatanku, memaksaku tuk terus mengingat semuanya. Biarkan ku mengingatmu sekali lagi, mengingat semua perilaku manismu yang mungkin sudah tak bisa kita ulangi lagi.

Dan lagi kenangan ini membawaku kepadamu.
Aku mengaduk-aduk isi hatiku, mengingat akan hal yang paling ku benci, tentang perpisahan. Aku sadar bahwa kita bukan siapa-siapa, hanya dua anak manusia yang bertemu di persimpangan jalan yang menjalin pertemanan baik. Maka seharusnya jarak ini tak mengartikan apa-apa untuk kita. Namun perpindahan keluargaku ke luar negeri saat itu diluar kehendakku. Jika ku bisa memilih aku akan memilih menetap di Jakarta.

Alfa berlari mengejar waktu, meminta semua penjelasan dan kejelasan atas semua ketidak adilan ini. Marah, kecewa dan benci terpapar jelas dalam raut wajahnya. Ada sorot kesedihan yang tersirat dalam sorot matanya. Aku menangis.

"Jaga hatiku baik-baik. Aku sangat teramat menyayangimu. Cepat kembali, untukku." ucapnya lalu memelukku.

Tiga tahun berlalu.

Dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia, merencankan suatu kejutan untuk Alfa. Selama ini memang komunikasi kita baik-baik saja, hanya sibuk wajar yang dia utarakan. Ku berjalan menuju apartement tempat dia tinggal. Kosong. Tidak berpenghuni. Ada beberapa potongan pakaian yang berserakan di lantai, kemeja, celana dan pakaian wanita. Entah saat itu benar-benar denyut nadiku seakan berhenti.

Perlahan ku bergerak menjauhi tempat itu sampai akhirnya tanpa sengaja ku menjatuhkan vas diatas meja samping pintu. Terdengar suara pria berjalan dari dalam ruang kamar, dan aku berlari keluar. Pria itu mengejarku dengan pakaian seadanya. Aku berlari sempoyongan, pikiranku berantakan.

"Berhenti! Jangan lari, jangan pergi lagi. Tetap disitu, aku tak akan menyakitimu." ucapnya tegas.

Aku berhenti menahan semua rasa sakit itu dan memberanikan diri menatap kedua mata pria yang tiga tahun ini bersarang didalam hati dan membuat rindu. Alfa. Ya pria itu memang Alfa, pria yang pernah kucintai dengan sepenuh hati namun kini semua tak ada arti lagi.

"Biar ku jelaskan apa yang kau lihat tadi. Ini semua tak seperti yang kau pikirkan." ucapnya.

Aku hanya bisa tersenyum lalu berbalik meninggalkannya. Meninggalkan semua kenangan yang pernah ada bersamanya.

Pria itu berlari dan memelukku.

"Mengapa ini begitu lama? Aku menunggumu. Bisakah kau menetap untuk kali ini, untukku?" 

Satu persatu air mataku berjatuhan. Aku melepaskan pelukan yang sebelumnya memang kuharapkan setelah ku menemuinya. Ku beranikan diri menatapnya.

"Aku memang berniat untuk kembali. Tapi aku salah, aku tidak kembali untukmu. Setelah semua yang kulihat pagi ini di apartementmu. Bagaimana bisa kau berkata untuk ku menjaga hati bahwa kau sendiri tidak? Im dones with this bullshit Alfa, let me go." ucapku.

Entah setelah itu aku berjalan menjauh darinya, samar ku dengar beberapa potong kata yang dia ucapkan. Ya dia tak lagi mengejarku. Ku dengar ada suara wanita mendekatinya. Entah ku tak melihatnya, ku menghambur keluar, melajukan mobil dengan pesat.

Aku kembali ke tempat dimana Alfa pernah membawaku menikmati senja sore itu.

---

Untukmu yang tak tahu menahu tentang hatiku.
Kau adalah senjaku. Gabungan setiap warna jingga yang tak akan pernah lagi kulihat. Keindahanmu akan selalu ada walau tak kasat mata. Aku tak menyesal, hanya kini pagiku telah datang. Pagi yang cerah tanpa hujan. Alfa, terima kasih untuk semua kenangan indah. 
 - D

No comments:

Post a Comment